MAAFKAN MAMA, NAK

by - May 03, 2017



Seminggu yang lalu, aku ingat betul ketika Alya mendadak bangun pada jam 4 subuh dan teriak-teriak ngga jelas. Dia meminta main denganku dan menolak ajakan Papanya yang lebih ready diajak main. Alya memaksa semua harus aku: aku harus menuruti semua yang dia ucapkan.

***
Sehari sebelumnya, otakku benar-benar lagi kacau karena kerjaan naskah yang bertubi-tubi, revisi yang ngga kenal waktu dan ide yang kudu cepat dituangkan. Aku tetap bertahan menulis di rumah dengan segala keributan kecil yang terjadi. Iya, aku harus menyelesaikan naskah sambil nyuci, jemur, sterika dan masak. Sesekali aku bergantian dengan suami, momong Alya tetap jadi yang utama bagi kami.
***

Aku baru tidur 2 jam dan tenagaku tidak cukup cepat untuk langsung berdiri. Kepalaku pusing mungkin karena dehidrasi. Lalu Alya mengambil gelas, dia minta susu. Suamiku mengambil alih gelasnya sambil membuka kulkas dan bersiap menuangkan susu. Tapi Alya menolak dengan berteriak dan tetap meminta aku yang mengurusnya. Seketika itu aku rebut gelas dan ngga sadar hampir memukul Alya. Refleks tangan Suami menahanku dan langsung memarahiku. Rasanya semua makian dia tumpahkan di pagi itu. Sungguh aku ngga nyangka seolah aku berdosa besar padanya. 

Aku bukan Ibu yang jahat dan kejam.
Aku bukan Ibu yang dengan mudah membentak atau melakukan kekerasan terhadap anak.
Aku bukan Ibu yang tidak peduli, bukan pula Ibu yang tidak mau berbagi

Hampir 24 jam aku mempertaruhkan waktuku hanya untuk menjaga si buah hati dan menomorduakan pekerjaan yang menjadi passionku selama ini. Dengan ruang lingkup seluas 90 meter persegi, kami sering gagap akibat pergeseran yang terlalu sempit. Kami membutuhkan ruang, keluar rumah menghirup udara segar, melihat gunung menjulang, merasakan pasir di pantai yang harusnya bisa kami lakukan setiap hari. Menjadi freelancer bukan berarti kami bisa seenak jidat sendiri berlari kesana kemari, menghabiskan uang dalam sehari, atau vakansi yang tidak terencana sama sekali.
Aku bukannya tidak iri dengan kalian yang bisa terbang kesana kemari, aku bukannya tidak berkarya dan lebih memilih mengurung diri. Aku memilih bekerja bukan karena uang semata. Bekerja adalah sebuah pernyataan aku masih waras dan baik baik saja. Bekerja menjawab seluruh cacian yang sering dilayangkan kepadaku.


Hallooo yosaaa... kamu kemana saja?

Iya, aku di sini. Aku baik-baik saja, walopun kamu bilang ini mudah dan sepele.
Kamu bisa bilang anak bukan penghalang karirku.
Kamu bisa bilang kenapa aku titipkan anakku padahal aku titip emas dan berlian saja ragu.
Kamu bisa bilang anak tetap nomor satu.
Kamu lantas bilang, inikan pilihanmu, ingat kamu!

Menjadi freelancer adalah sebuah tanggungjawab besar. Memikul beban bersama hingga kata ringan itu adalah sebuah tujuan. Bergelut dengan waktu, berjuang melalui kompetisi, dan membuka diri untuk segala permintaan tolong. Benar, kami bekerja paruh waktu, maka kami sering dianggap siap sewaktu-waktu. 
I take a deep breath... yet its true...
Bekerja sebagai freelancer dan mengukuhkan family sebagai nomor satu adalah komitmen. Kami menjaganya sekuat tenaga supaya tidak rapuh dan saling mengokohkan diri. Aku berusaha mengubah energi negatif ke energi yang bermanfaat. Menjadi Mama seharusnya bukan beban, ia adalah seorang kebanggaan.
***

Hari ini aku kembali sadar, bahwa Alya adalah pengaruh terbesar kami. Barangkali ideku tidak akan seliar ini dalam menulis, barangkali hatiku tidak setegar ini dalam manis pahit kehidupan, barangkali lenganku tidak sekeras baja dalam merengkuh asa.
Melihatnya tertidur pulas merupakan pelepas lelah yang tak terbayarkan. Wajah polosnya cukup menamparku, bahwa ia hanya anak Mama yang sering menjadi pelampiasan egoku.
Terimakasih sudah terus menemani Mama.

Dari dalam hati yang tulus,
Maafkan Mama, Nak.

You May Also Like

4 komentar

  1. Aaaa brebes mili bacanya euy iy ya klo irasa2 beban antara ibu bekerja di luar dengan ibu rumah tangga lbh berat ibu rumah tangga yg kerja dari rumah. Karena harus tetep profesional sm krjaan tp jg dgrin jeritan anak tiap saat yg bisa bikin migren. Tiap ibu prlu lakukan apapun utk slalu ttp waras ya mba e tp bnr bgt klo pd akhirny ank itu jd sumber inspirasi yg ga ada habisnya :) ttp semangaattt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat juga ya Mbak April, sewaktu aku nulis ini aku pastikan sudah selesai menangis dan tetap tenang bisa ceritain sampe kelar. Hehe

      Delete
  2. Waaah, Mba Yosa T_T I feel U. Saya rela resign demi anak. Tapi begitu di rumah menjaga 2 anak kok jadi mudah emosi dan stress. Ternyata lebih enak jadi ibu bekerja diluar ya, Mba. Saya hanya mengatur, harus makan jam sekian, makan buah jam sekian, sudah mandi jam sekian, jangan lupa tiap pagi kasih suplemen ini. Dan saya suka marah jika ada jadwal yang terlewatkan. Begitu ada si kecil setelah saya resign, saya jadi stress sendiri saat menerapkan jadwal mengasuh yg saya terapkan ke anak pertama. Prakteknya jauh lebih sulit. Tapi saya puas, karena saya melihat detail tumbuh kembang si kecil dibanding anak pertama saya.. hiks. Jadi merasa bersalah dengan anak pertama. T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata banyak yang ngerasa sama ya mbak. Aku jadi tambah semangat ini kerja tapi masih bisa monitoring anak. :)

      Delete