YANG MEREKA HARUS TAHU

by - April 20, 2018

Akhir-akhir ini kami banyak menghabiskan waktu di rumah. Selain karena kerjaan yang numpuk banyak banget, Alya juga udah rajin sekolah. Iya alhamdulillah. Semua kepegang dan ada ritme pastinya.

Tapi gimana-gimana, orang lebih banyak menganggap kami selow saking banyak di rumahnya. Ya enggak papa sih kalo sebatas rasan-rasan doank, lha kalo sampai yang minta tolong maksa trus nyindir gara-gara kami stand by, apa enggak ngajak berantem namanya. Ada lho, ada. 

Sini masih ublek ngurus kerjaan-anak-dan rumah secara gantian, ini datang atas nama ketersediaan. Dipikir kami itu pengangguran kali ya. Mentang-mentang di rumah mulu, trus aku leha-leha gitu? Kerjaanku jalan sendiri gitu? Noooh setrikaan menggunung. Belum sempat aku cicil, cucian dan jemuran bergantian aduhai nikmatnya.

Ha kok bisa? Ya bisa aja tsay!


Ternyata emang banyak orang di sekitarku yang enggak mengenal pekerjaan seorang freelancer. Mau itu tetangga, teman SMA sampai orang tua sendiri. Padahal ya sudah berkali-kali aku jelasin. Mulutpun sampai berbusa. Capek juga ya lama-lama.

Contoh paling simple.

Lebaran ini kami akan mudik ke kalimantan. Jadi mau tidak mau harus extra persiapan, baik tenaga, kerjaan, maupun uang tentunya. Banyak banget lah hal yang kudu dipikirkan. Kayak misalnya modem baru yang bisa nangkep sinyal selama di sana. Plus laptop baru yang mumpuni dalam desain.

First karena kami pakai komputer, kedua because internet is important to us. Ada sih modem lama, tapi itu belum 4G dan belum bisa wifi. Lagian selama ini kami pakai internet kabel yang cukup stabil. Jadi emang kudu beli keduanya ya gimana? Penting loh.

Selain itu aku juga udah mulai memanage kerjaan biar cepet aku kelarin. Sebisa mungkin sebelum balik kalimantan, semua kelar. Kusungguh ingin liburan biar bisa feed IG makin beragam. Rencananya, kami bakal mudik selama 2 minggu. Ya belum pasti sih berapa lama, lihat sikon juga siapa tahu jadi tour the borneo.

Nah, sampai detik ini aku belum beli tiket baik itu pergi maupun pulang. Kami masih kebingungan cari tanggal yang pas dan nunggu gajian selanjutnya. Otomatis mertuaku khawatir donk, Jadi enggak sih kita ikutan mudik? Dapet tiket enggak? Kalo enggak jadi trus gimana? Ini kan agenda tahunan. Jarang lho kami balik kalimantan.

Dengan segala alasan tersebut, kami ditanya terus tiap kali telpon. Tapi lucunya, mertua nanyanya malah "Mbak yosa kerjaannya udah kelar belum? Kapan selesai?"

DUNG JREEEENG. Mertua eug lucu uga ya.

via GIPHY

Ini kenapa nyangkutnya ke kerjaan. Harusnya kan Alhamdulillah ya dapat kerjaan terus. Malah ditanya kapan kelar. Kami mikir panjang donk, trus nyadar, ohiya ya, freelancer kan serba enggak pasti. Jarang lah, ada orang tua yang terbiasa hidup dan kerja kantoran paham betul bagaimana suka duka sebagai freelancer. Masih menjadi PR besar bagi kami buat ngasih pengertian ke orang terdekat.

Baca juga: Tentang Pilihan Menjadi Freelancer

Menjelaskan status pekerjaan nyatanya bukan hal yang gampil lho. Walaupun semua orang terdekat udah ngerti dan menerima kami sebagai seorang pekerja serabutan, tapi teteup ya, ujung-ujungnya mereka selalu doain agar kami dapat kerjaan pasti. 

Mmmm sudah kuduga.

via GIPHY

Mungkin mereka ngerti tapi belum paham. Kalo mau dirunut, sebenarnya kami pun hampir mirip sama orang kerja kantoran. Cuma bedanya kami di rumah. Jam kerja kami pake shift, misal Suami ku pagi, aku sorenya. Begitu juga sebaliknya. Kami bergantian ngurus rumah, masak dan momong Alya. Nyaris enggak ada jeda. Malah lebih ribet sebetulnya.

Agak susah sih kalo dibayangin. Identik sama rempong cuy.

Tapi...karena kami udah terbiasa, semua seakan menjadi biasa. Bukan sesuatu yang kudu dirubah dan ya gimana sih, enjoy aja gitu. Kan kami sama-sama. Misal ada kerjaan keluar kota, kami ikut semua, apa enggak asik judulnya. LOL.

Enggak enaknya? 
Ya itu tadi status kami menjadi rancu di mata orang yang belum paham. Ada yang nganggep freelancer  itu tidak punya tujuan. Ada yang nganggep freelancer itu orang yang enggak mau diatur. Ada yang nganggep freelancer itu pengangguran.

Baiklah. TERSERAH SITU YANG PENTING AKU SENANG KAMU MAU APA?

Bukan cuma dapet satu dua cerita kalo mau ditotal, ada banyak banget loh sentilan lucu di sekitar kami. Awalnya emang bikin gondok sih. Kok susah amat ngasih tahu orang bahwa kerjaan freelance itu bisa menjanjikan. Ada yang menjadikan pekerjaan freelance sebagai sampingan, dan ada juga yang menjadikan freealancer sebagai profesi utama.

Bisa kok bisa. Asal kita ulet pasti dapat imbasnya juga kan. Banyak temen aku yang udah sukses sampai bikin usaha sendiri. Mungkin enggak semua orang bisa mencerna karena beberapa dari mereka lebih seneng yang pasti-pasti aja deh.

Freelancer emang biasanya orang yang suka tantangan. Selain karena belum mampu bikin usaha sendiri, mereka adalah orang yang berjuang demi tujuan hidup dan passion itu sendiri. Ada kepuasan dan kebanggaan ketika mereka mendapat kerjaan yang sesuai. Nah, tekanan untuk seorang freelancer dapat dikatakan lebih minim ketimbang kita kerja kantoran. Sesimple kita itu bisa milih pekerjaan yang sesuai. Yang enggak sesuai tolak aja. Tapi buat nolak sendiri, kita pun kudu mikir panjang. Nyesel enggak? Butuh uang atau sekadar passion dari hati?

Ini nih yang cenderung diabaikan.

Jadi benar, ada banyak beban. Baik gejolak dari dalam hati maupun pengakuan orang di sekitar. Tergantung dari kita gimana nyikapinnya. Makanya, jangan nambahin beban freelancer agar enggak jadi masalah. Asal halal apa lagi sih yang mau dipermasalahkan? Tapi yaudahlah, ngapain dipikirin sampe dalem, bisa-bisa aku gila sendirian. LOL.

Lha terus maunya freelancer itu gimana sih?

Uhuk. Enggak sulit kok. Sebenarnya cukup dengan sama-sama pengertian kalo freelancer itu juga kerjaan.

Zaman makin maju, teknologi kian berkembang, kita pun kudu siap menghadapi perubahan. Mau kerjaan apapun, seharusnya bisa saling paham. Freelancer selalu ada bukan berarti mereka selalu bersedia.

Kalo masih susah juga buat ngertiin mereka, cara tergampang ialah samakan freelancer dengan orang-orang kantoran pada umumnya. Mereka punya kerjaan plus juga punya tanggungan di rumah secara bersamaan. Kerjaan bisa mereka lakukan dimana saja. Tapi ingat, mereka diam belum tentu mereka tidak ada pekerjaan.

Oke bosque?

You May Also Like

4 komentar

  1. Kalau saya bayangin pasti lebih berat freelancer lah, krn dia kudu manage waktu kerja dan urusan lainnya sendiri. Beda kalau karyawan yang sudah ada jam tetapnya untuk masuk dan pulang. Semangat mba, tulisan seprti ini jadi lebih bisa mengedukasi banyak orang tentang aa itu sebenarnya freelancer.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya mbak. Senang kalo pesannya bisa sampai. Peluuuk....

      Delete
  2. wah mba Yosa semangat!!!, daripada mikiran orang yang gak mudeng2 sama istilah freelancer, fokus aja sama target2nya, yes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak septi yang cantik... Fokus ngemong anak ini mah hehe

      Delete