JARAK

by - March 12, 2019

Terkadang, kita justru membutuhkan jarak supaya lebih dekat. Karena ketika kita dekat, ada kalanya kita tidak dianggap apa-apa.


Mendadak bikin quotes di atas, cuma gara-gara ngerasa, dunia ini makin runyam karena banyaknya populasi manusia. Di Indonesia saja, jumlah populasi manusia produktif dengan range usia 16-64 tahun mencapai 183,36 juta jiwa. Itu pun masih sebesar 68,7 % dari total populasi di Indonesia, dengan luas wilayah 1,905 juta km². Belum lagi di dunia. Seberapa banyak sih manusia yang kian hari makin beragam nalarnya? Aku kok malah mumet dewe to yo.

Ngatasin banyak manusia dengan macem-macem sifat dan karakternya, tentunya bukan perkara mudah. Aku ikut gabung di komunitas beauty blogger wae loh, kadang speechless. Aku syuting dengan banyak figuran nih ya, kadang lemes. Aku ketemu keluarga besar suami ku yang kalau kumpul kek pasar nih, kadang males. I SPEAK FOR WHAT IT IS, walaupun faktanya aku kelihatan baik-baik saja.

Sifatku memang ekstrovert, gampang buat membaur, gampang buat ngajak ngobrol duluan, gampang cari bahan omongan. Tapi, di sisi lain, aku juga enggak suka banyak berbasa-basi. Secukupnya, enggak perlu berlebihan. 

Ditambah dengan ritme kerjaku sekarang ini, di mana lebih banyak di rumah, ketemunya cuma orang itu-itu saja, jarang public speaking, jarang lagi presentasi, jadi lah aku canggung kalau ketemu orang banyak. Aselik, canggung banget ngadepin massa. Padahal dulu enggak loh! Mungkin cuma akibat kebiasaan yang akhirnya ikutan mengubah sudut pandang. 

Aku melihat, kalau kebanyakan orang pastinya berakibat banyak masalah. Banyak orang means banyak pemikiran, yang nantinya susah dalam mencapai mufakat. Iya bisa sih mufakat di depan, tapi di belakang? Hayoloh, ada kan yang diem-diem nggrundel. Jangankan ngurusin orang-orang yang enggak kita kenal, ngurusin saudara sendiri saja ampun-ampunan. 

Beberapa orang berpendapat kalau bahasa chat, kadang pesannya enggak sampai ke komunikan. Bisa saja salah pengucapan, bisa juga salah arti. Tapi beneran deh, ada beberapa kasus, yang mending kita berbahasa non verbal saja ketimbang verbal dan bikin enggak enakan.

Contoh nyata nih ya. Tahu sendiri kan, aku pindah ke Magelang dalam rangka mendekatkan diri sama keluarga besar. Niatnya agar mereka punya tempat untuk berbagi keluh kesah, dan ada topangan tangan ketika mereka membutuhkan. Pikirku, bisa bertemu setiap hari, ngobrol santai, dan intens sharing, bakalan membuka ruang agar batasan sirna dengan sendirinya.

Tapi ternyata enggak semudah itu. Yang ada, dengan melihat langsung keseharian mama-adek bungsu serta papa-yang sekarang tinggal sendiri, justru malah bikin aku mundur teratur. Gimana enggak, ketika aku ngajak ngomong baik-baik, kadang mereka menghindar, melengos, dan arah pembicaraan makin enggak jelas sampai ke mana-mana. 

Lain sama adekku yang kedua. Dia ini kadang bisa jadi penengah, walaupun posisinya enggak satu kota. Hanya dengan telepon papa-mama, dan chat via whatsapp saja, bisa terasa dekat. Papa mama juga gitu, ngerasa lebih tentrem HANYA DENGAN CHAT DAN TELEPON. Nah, aneh kan.

Hal ini diakui adekku sendiri. Dia bilang, waktu dia masih serumah sama orang tua, hubungannya enggak sedekat ini. Seakan ada beberapa masalah yang ditutupi. Plus mungkin ngobrol langsung itu kan sering bikin kikuk ya, jadi akan lebih sulit ketimbang berbahasa tulisan. Kalau tulisan mungkin lebih bisa dipikir duluan. Lah kalau ngobrol langsung, ada salah ucap tersirat, mimik wajah terlihat, intonasi yang naik turun, semua bisa kelihatan dan enggak bisa mengelak lagi. Enggak heran sih kalau ucapan verbal justru lebih sering bikin konflik duluan.

Contoh lain deh. Dulu waktu zaman BBM, beberapa temen, saudara, pada minta kan ya, pin kita. Nah, misal kita bikin status, mereka kadang nyamber. Di situlah kita jadi tahu, mereka lagi apa sih, dimana sih, punya masalah apa sih. Lagian media sosial kan biasa digunakan sebagai tempat untuk mengungkapkan uneg-uneg. Di situ lah orang yang tadinya jauh, tiba-tiba bisa terasa dekat. 

Ada kok, temen dan saudara jauh yang... boro-boro dulu bisa ngobrol enak, eh begitu ada BBM, ada whatsapp, langsung bisa cair dan  enak ngobrol. Sekali lagi, aneh kan!

Makanya aku mikir, jangan-jangan nih, teknologi media kayak handphone ini bikin kita ngerasa nyaman, sehingga mengabaikan yang dekat. Kurang percaya diri lewat tulisan, ada noh emoticon buat memperhalus gaya bahasa, atau pakai wkwkwk biar suasana yang cair. Enggak mau telepon lama-lama, kita bisa juga pakai alasan lagi sibuk atau semacamnya, toh orang yang di sana enggak ngerti kondisi kita yang sesungguhnya. Semua serba mudah ketika kita ada media. Iya, kita butuh media sebagai perantara untuk meminimalisir kesalahan kata.

Intinya apa? Jarak yang kita ciptakan ini justru bikin kita makin dekat karena ada masing-masing batasan. Tidak semua hal bisa kita keluarkan dan itulah yang bikin kita nyaman. Lain misal kita ketemu langsung, kadang hawanya pengen intrograsi dan gontok-gontokan. Kalau lewat handphone kan mana bisa?

Teknologi juga bisa membuat orang tertutup jadi lebih terbuka. Mungkin dia lebih nyaman nulis di blog, bikin status di media sosial, berbagai di IG story, enggak ada hal yang enggak mungkin. 

Korelasi dari tulisanku yang ngalor ngidul di atas, sebenernya mau menekankan, bahwa jarak bukan ukuran seberapa besar kalian dekat sama seseorang. Mau sayang, mau cinta, mau perhatian, jarak bukan penghalang. Justru kadang kita butuh jarak supaya bisa dekat.

Tanpa kita sadari, mungkin kita butuh jauh supaya tahu bagaimana rasa yang sesungguhnya. 

You May Also Like

0 komentar