Ijinkan Saya Memaki Kali Ini

by - November 05, 2010

“Rutinitas ini semakin monoton saja. Letak meja, kursi dan semewah apapun perabot-perabot di kantor tetap saja terasa sangat sumpek.
Dunia hiburan yang sangat dekat dengan kemewahan dan terkesan berkelas. Rayuan make up dan sikap-sikap yang sudah ter-mind set dengan sendirinya, menjadi adu dan bulu domba mereka”


------------------------------------------

Dalam sistem kapitalisme, kaum buruh cenderung dieksploitasi, diperas tenaganya untuk menghasilkan apa yang disebut sebagai nilai lebih (surplus value). Namun, nilai lebih itu tidak kembali kepada buruh, melainkan kembali ke pihak pengusaha.
------------------------------------------


“Pasti terjadi lagi nanti walaupun akhir minggu selalu butuh terapi. Tiap sesudah jam 8 malam, saya sejenak melepas penat dan mengingat fase detik ke hari yang saya jumpai. Aneh tetapi tidak terasa benci. Ingin, saya dapat menuliskan dengan cengeng suka dukanya. Belasan gelas Jack D atau A mild menthol tidak mampu membius saya untuk menulisnya (bagi saya -yang pernah kesepian- minum dan merokok hanya faktor pendorong gaya hidup)

Waktu saya berputar di sekitar kerja dan istirahat. Kalaupun saya dapat meneruskan bacaan buku atau menonton film -yang tadinya merupakan agenda wajib- itu dilakukan disela-sela istirahat saya dan pasti sambil terkantuk-kantuk. Menonton dan menelaah apa yang sudah saya kerjakan saja sangat sulit. Bagaimana mungkin saya dapat beragumen dalam pengendalian pembuatan media visual ke penontonnya? Atau bahkan membayangkan dan menyelaraskan upah per video yang sudah dibuat… OK, lebih baik saya bilang ini adalah tahap pembelajaran, sekalipun saya sudah menempuh Strata 1”


-----------------------------------------

Berangkat dari paradigma fatalistis, mengatakan bahwa segala sesuatu telah ditentukan langsung oleh Tuhan. Penganut pendekatan pasivisme-religius ini tidak begitu peduli soal kemiskinan ataupun ketimpangan sosial. Ada atau tidaknya kemiskinan ataupun ketimpangan sosial bukanlah urusan manusia, melainkan sepenuhnya urusan Tuhan.
------------------------------------------


“Kadang saya tidak menyukai makan siang di kantor, sekalipun saya akrab dengan para kokinya. Menunya disamaratakan seperti para napi, makan siang bersama sambil menunggu orang-orang yang ‘sedang’ kudus. Ada suatu ruangan dalam rutinitas saya yang disakralkan. Tempat itu dibuat seolah sunyi, dan dipenuhi senandung lirih malaikat yang tidak bersahabat. Malaikat buatan. Mereka beradu akting di depan Tuhan.

Agama manapun, ada yang saling berebut hati akan Tuhan-nya dan dengan cara-nya masing-masing. Dan Demi Tuhan (Tuhan siapapun), jauh dipenglihatan saya, beragam khotbah yang dikoar-koarkan itu semakin terdengar layu menggebu. Hubungan keseimbangan dalam fundamental agama seakan tidak terpikirkan. Tampaknya lupa akan hubungan horizontal (manusia dengan manusia) yang sebenarnya bisa menopang hubungan vertikal (manusia dengan Tuhan).
Laba didapatkan dari keringat mesin buruh. Lantas, seruan ibadah untuk buruh bukannya kedok untuk menetapkan mereka menjadi hamba sahaya belaka? Bukankah sama saja seperti menyembah berhala? Uang kok di-dewa-kan melebihi Tuhannya?”


“Nafas ini belum berakhir, kamar saya yang semakin larut semakin dingin akan tetap hangat mengingat, besok saya bertemu teman-teman saya...”


::Tetap dalam belajar apapun, teologi merupakan landasan penting bagi umatnya. Semuanya ada ditangan saya. Saya adalah mereka::







A hardly tribute to ma beloved mates…

Everyday is a hard day.
Hepi may day… : )
030510

You May Also Like

0 komentar

INSTAGRAM