Kalau sama-sama di beri gratisan otak, kenapa tak kamu gunakan saja hei 'keledai'?

by - November 05, 2010


Untuk Lawan…
Saya bukan penyelidik, tetapi saya cukup cerdik. Saya suka membuat sesuatu yang bermanfaat bagi besama, walaupun sosialisasi saya masih tergantung oleh mood. Saya tahu bahwa alam bersama kita semua, sehingga kita bisa menjumpai yang namanya karma.
Semuanya mempunyai pertanda dan saya selalu suka semiotika.
Mitos merupakan tatanan pertama dari sebuah pertanda. Dan persepsi adalah tatanan ‘sesudahnya’ (baca : kedua).
Lawan…, Kelas 5 SD, saya diajari Ilmu Pengetahuan Alam tentang penyebab hujan, tentu penjabarannya bukan berisi mitos tentang Dewa Thor yang marah karena kehilangan palu goddamnya.
Simpulkanlah talinya, hingga menjadi kesimpulan tetap, bahwa mitos lahir sebelum science.
Kalau masih saja mencerna secara mentah tentang sesuatu, bukankah sama saja kamu tidak menggunakan otakmu, lawan?
Toh Tuhan tidak akan takut atas ‘apa’ yang Dia berikan (baca : otak).


Lawan…, saya punya kasus lain, kita semua punya sejarah dan budaya. Saya hidup di Indonesia secara sadar walaupun saya tidak tahu mengapa Tuhan memilihkannya. Saya suka belajar. Hal itu yang membuat saya lugas berbicara. Agama adalah pilihan, tetapi ras dan kelamin sudah ditetapkan. Maka, 2 hal terakhir tidak perlu diperdebatkan oleh teknologi sekalipun.



Saya pernah menulisnya tanpa lanjutan episode. Saya punya dunia saya sendiri yang sangat menyenangkan. Baiklah, kamu pasti juga, hei lawan…

Saya yang mencarinya, saya menghilangkan kata susah payah menjadi hal yang menyenangkan. Saya tahu hidup punya 2 pilihan, baik atau buruk, iya atau tidak. Kalau saya bisa tahu yang hal yang berdampak baik, mengapa saya memilih buruk?
Saya memakan sesuatu menggunakan tangan kanan, dan menggunakan tangan kiri untuk mengerjakan sesuatu yang kotor, namun saya memberi tepuk tangan untuk ‘orang kiri’. Mereka lah yang mengajari saya selaras.
Hampir lupa, lawan…,
Saya belum mengerti tentang aura. Tetapi saya berani berkata, berbagai rasa, telah diciptakan oleh yang mempunyainya dan yang tahu rasa cuma yang punya hatinya.
Hidup ini bukan hanya kamu semata, lawan…
Saya pun belum pernah menjumpai orang yang mati karena patah hati kecuali dia bunuh diri. Dia saja yang belum terlalu membuka mata, padahal saya bisa tertawa, masih banyak ilmu diluar sana.
Kecuali hal cinta, sadar saya, siapa yang bisa membohongi hatinya sendiri? Hanya, kamu bisa berbagi emosi ke hal yang lain. Pendamlah cinta, tetap menangis mengiris. Silahkan menyesal, akan ada sesudahnya.
Saya bukan peruntungan. Banyak cara untuk sebuah akhir. Sesungguhnya, akhir itu bukan kita saja melainkan kita semua.


Lawan…, Saya tak mudah percaya kepada kesibukan.

Mereka hanya takut akan jabatan tingginya. Mereka mungkin punya undang-undang sendiri yang menerka idealisasi eksklusif dan mengesampingkan eksensialisme.
Mereka tidak tahu, selalu ada celah di sela kehebatan walaupun dengan sedikit saja senyuman. : )
Saya saja bisa… : p


Melawan @ 18 juni 2010

You May Also Like

0 komentar