Meminjam Senyuman

by - November 05, 2010

Seorang bapak berumur sekitar 50 tahun mendekap anaknya sambil berlari di depan rumah. Saya melihat mereka menangis sekelebat saat saya sedang menunggu teman datang.
Kala itu (2008), pasar rejowinangun magelang terbakar hebat. Para tetangga berlarian kearah pasar, para wartawan dengan sigap berada di jajaran terdepan melebihi para pedagang, Polisi-polisi berhamburan, lalu lintas berserakan, listrik dipadamkan. Terasa hawa panas memasuki rumah yang berjarak sekitar 500 meter dari pasar.
Mereka bilang…., “kami korban”.



---------------------------------------------




Demo Ganyang Malaysia semakin gempar saja, malah ada yang mengatasnamakan Pemuda Indonesia. Berita-berita di televisi, lomba memperbaharui status di Facebook, Twitter, Blog pribadi semakin menambah panas suasana.  Orasi lewat megaphone di tengah kota, jas almamater bagi mahasiswa, ikat kepala, dan atribut demo lainnya.

Jiwa muda, sekali berkobar, bisa terbakar.



---------------------------------------------




Minggu itu, kekasih saya membelikan beberapa roti breadtalk favorit. Kami suka memakannya sambil menonton film dan menghabiskan hari. Lain waktu -jika tanggal muda- dia akan mengajak nonton film di bioskop sambil jalan-jalan di pusat perbelanjaan. Begitulah hiburan di akhir pekan, walaupun terkadang saya takut bosan.




---------------------------------------------




Segala yang saya tahu, yang saya pahami. Selalu ada kondisi berbeda disetiap adegannya. Saya selalu berpikir: lalu, kini dan nanti. Ini bukan masalah kemampuan lain saya untuk melihat yang tidak terlihat. Ini jelas berhubungan dengan proses sebab akibat. Ini adalah tentang menelaah apa yang sedang saya cari.

Saya rasa, ada peristiwa yang harus terjadi untuk menampar para makhluk bumi.
Sekarang, tetangga sebelah rumah saya sukses luar biasa malah setelah pasar terbakar. Entah kapan pembangunan pasarnya selesai, tetapi banyak rakyat kecil yang sudah mulai berpikir akan pemerintahan dan semakin banyak pertanyaan yang memang harus dilontarkan.
Mungkin ‘Indonesia’ juga perlu berbenah. Pertama-tama mungkin perlu dipanjatkan do’a untuk meng-indonesia-kan Indonesia, sebelum kita berusaha, karena saya tahu, Indonesia adalah Negara beragama.
Untuk kemudian hidup bagi saya juga bermakna: semakin memupuk kepercayaan dan memikirkan masa depan.
Dan bahwa semuanya dimulai dari kita siapapun anda.



Buatlah kesalahan asal bukan yang kedua kalinya.

Nikmati peristiwa, ambil rempahan kecilnya.
Tersenyumlah sesudahnya…




Titip senyum buat semua, 120910



You May Also Like

0 komentar

INSTAGRAM