JAWABAN KAPAN PUNYA ANAK LAGI

by - April 12, 2017

Tadinya ketikan ini cuma draft yang entah kapan mau aku kelarin. Isinya tentang curhatan doank sih, maklum, temen ku banyak, jadi yang nyamber chat atau ke rumah juga silih berganti. *baru prolog udah sombong*

Yang mau aku obrolin di sini, banyak dari temenku tuh yang punya tipikal kepo tingkat dewa melebihi wartawan infotainment. Masih mending kalau tanyanya seputar kesehatan atau kerjaan. Nah ini? Pertanyaan yang sensitif abis loh.

Memangnya apa sih pertanyaannya? (Pret, sudah jadi judul, pakai basa-basi segala).


Okay aku jelasin dulu ya, yang namanya hidup, pasti akan mendapat banyak pertanyaan. Baik pertanyaan dari diri sendiri maupun dari orang sekitar. Sekali kita bertanya tentang personal orang, akan datang pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Temen deket sih tau banget tentang kehidupan kita tanpa kita minta, dan pasti jadi tempet curhat dengan sendirinya. 


Tapi ada kalanya kita jengah sama pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan, lalu menimbulkan perdebatan. Wah sengit banget deh, sudah mending dijawab, eeeh malah dibantah, seakan jawaban kita kurang memuaskan mereka.


Coba deh, dipikir-pikir lagi pertanyaan seperti: "Kapan lulus?"

Lanjut setelah lulus: "Kapan kerja?"

Setelah kerja: "Kapan nikah?"


Setelah nikah: "Kapan punya anak?"

Setelah punya anak satu, masih juga ditanyain: "Kapan nambah lagi?"


Giliran punya anak banyak dirasani: "Wah kalau itu ternak!"

Sadeeeessss.

Gini loh, mas, mbak, pak, bu.
Aku ini baruuu saja kelar nyusuin Alya selama 2 tahun dan bisa bobok nyenyak semalem. Lah kok malah nanya punya anak lagi. Mau ngejawab, nanti jatuhnya sinis, mau ngga dijawab dikira lebih sinis. Serba salah kan? T.T


Jujur saja, pertanyaan seperti ini lama-lama bikin bosan dan tertekan loh. Iya kalau aku lagi legowo, lagi happy, lagi sehat. Aku bisa jawab dengan tenang dan jelasin keadaan. Lah kalau aku lagi strees, suntuk, capek sama kerjaan? Mau aku damprat apa! 

Menyandang gelar Mama itu ngga semudah bisikin gosip ke tetangga lho. Banyak tanggung jawab yang belum aku kasih ke Alya, banyak janji manis yang kudu aku tepati untuk masa depannya. Aku masih seneng banget sama kehadiran Alya, membelai dan menciumnya, main pasaran atau masak-masakan. Dan aku ngga mau nantinya rasa ini jadi amburadul, gara-gara aku buru-buru ngasih Alya seorang adik.

Beneeer! Bener banget! Manusia berkehendak dan Tuhan yang menentukan. Aku setuju. Tapi manusia toh diberi akal sehat, naluri dan memilih jalannya untuk dipertanggungjawabkan kelak? Jadi, manusia boleh memilih sendiri jalannya.

Aku lebih pengen well-prepared. Apalagi kalau kalian tahu gimana baby blues menyerangku dan sempet bikin aku krisis percaya diri. Beneran enggak enak loh. Aku berjuang buat bertahan dan kembali bahagia dengan cara ku sendiri. Aku butuh waktu yang enggak sebentar supaya aku bisa berdamai dengan diri sendiri. Dan tentu saja, aku enggak pengen itu terjadi lagi, 

Yang kita rencanakan saja sering meleset kok, apalagi yang tidak terencana. Soal anak itu urusannya panjang, bukan cuma soal rejeki yang sudah ada yang mengatur. Soal anak itu kita hubungannya sama masa depan. Bisa enggak kita mendidiknya dengan benar, bisa enggak kita memberinya asupan yang bergizi, bisa enggak kita menyekolahkan sampai tinggi, dan menjadikannya orang yang bermanfaat dunia akhirat?

Jangan sampai kita cuma bisa beranak doang, tapi giliran disuruh tanggungjawab ngeles kemana-mana.

Oh enggak, aku ngga mau berdebat soal semua pemberian Tuhan. Bagiku, akan merasa nyaman apabila aku melakukan apa yang sudah aku rencanakan. Biarkan nikmat ini aku jalani dulu, sambil menata diri lebih baik lagi, sambil menambal kekurangan hidup. Toh kalian enggak tahu gimana berdarah-darahnya kami selama ini.

Iya, kami sedang berbenah. Supaya apa? Supaya siap lahir batin dengan apa Tuhan beri. Karena, Tuhan memberi kita bukan hanya kesenangan tapi juga cobaan. Dan cara termudah untuk bahagia adalah bersyukur, niscahya, kekuatan akan kita dapatkan dari semua ujian kehidupan. Sekali lagi aku sedang berbenah, dan belajar.

Fiuh, cukup panjang kan.

Intinya gini, kalau pengen ngerasa dekat sama orang, sebaiknya tidak dilakukan dengan banyak bertanya. Ice breaker enggak cuma pakai pertanyaan yang bersifat personal. Kita bisa pakai cara lain seperti bertanya kesehatan anak, kesehatan keluarga, kegiatan yang sedang kita lakukan, atau kita bisa ngobrol lelucon garing zaman masih SMA.

Yang enak-enak saja deh, biar sama-sama nyaman. Lagian kalau misal kalian ditanya balik "Mau nambah anak kapan?" Padahal anak saja sudah 3, gimana tuh perasaannya. Bingung kan! Makanya, jangan ceramahin apapun soal pernikahan dan planning anak kecuali dari dia yang bertanya duluan. Pernikahan dan anak itu sifatnya sensitif. Ada yang susah nikah karena perbedaan, ada yang enggak nikah karena enggak pengen ribet, ada yang pengen punya anak tapi belum dapat-dapat, ada yang memang enggak pengen punya anak dulu karena lagi fokus karir.

Bagiku tetep, aku bukan pabrik. Memutuskan punya anak harus menimbang kesiapan karena lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitas. Punya anak bukan cuma soal rezeki, ada tanggungjawab besar yang diemban. Nanti punya banyak anak terus malah jadi beban gimana?

Beneran, kita enggak akan pernah tahu apa perasaan orang lain yang sebenarnya. Misal pengen ngobrol enak, ya ajak ngobrolin hal-hal yang umum dan enggak menyinggung siapa-siapa. Jangan lantas punya anak banyak jadi patokan keluarga harmonis sejahtera. Ingat, tiap orang berbeda-beda. Aku juga berusaha memahami dan berdamai dengan situasi, pun kamu juga. Jangan sampai berdebat hanya karena mencampuri urusan orang lain yang bukan ranahmu.

Karena sejatinya, apa yang kamu pikirkan, belum tentu benar. Dan apa yang orang lain pikirkan, belum tentu salah.

Sekian dan jangan ada pertanyaan personal di antara kita lagi. Bye.

You May Also Like

2 komentar

  1. Toss dulu Makk.. Aku juga termasuk orang yang sering ditanyain oknum rese. Maklum, udah hampir setahun nikah kok gak hamil2. Padahal aku emang nunda soalnya masih mau kuliah, eh mulai deh keluar ceramah ini itu. Yang nyalahin kodrat lah, meremehkan Allah lah, haduuuh...


    Padahal aku juga sama kayak Mbak, berprinsip kalo manusia dikasih akal pikiran untuk memperhitungkan segalanya. Kalo misal nggak dikasih anak gara-gara menunda, itu malah picik sekali berprasangka Allah seperti itu. Ya, kan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kita sehati ya, yuk kita treatment ke salon bareng sambil ngrumpi. *Lhooo ngga nyambung. :p

      Delete