TIGA PULUH DUA

by - May 11, 2019

Age is just a number.

Aku meyakini kok. Tapi masalahnya, dalam hal apa dulu nih? Kalau soal kerutan di bawah mata, jelas ada perbedaan mencolok dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Kondisi kulit sudah-agak-enggak berminyak, malah kemudian timbul beberapa spot yang kering dan menunjukkan gejala dehidrasi.  Kalau enggak ditolong sama rangkaian skincare, paling juga makin kelihatan.

Kemudian faktor tenaga. Dulu nih ya, puasa pas kerja, rasanya ya biasa-biasa saja tuh. Syuting di bawah terik sinar matahari, kerongkongan kering, dan banyak temen di sekitar yang enggak puasa, aku sama sekali enggak ada masalah. Wong namanya sudah niat ingsung kok. Nyaris enggak pernah batal. Kalau pun batal gara-gara sakit doang.

Terus bedanya sama sekarang? Sekarang juga enggak masalah sih kalau ada yang enggak puasa. Nyuapin Alya juga enggak ada masalah. Cuma, kalau disuruh syuting panas-panas, dan banyak kegiatan, wah ya monmaap, lemes pastinya.

Intinya, aku percaya age is just a number, tapi aku enggak memungkiri fisikku sudah enggak kayak dulu lagi. Hallo, saya Yosa Irfiana, walaupun orang nganggep aku langsing dan awet muda, aslinya sudah kendor dimana-mana.


Bulan ini aku sudah 32 tahun. Kaget enggak? Kaget dong hahaha. Padahal dari dulu aku sama sekali enggak pernah nutupin umurku berapa. Yang ada aku malah seneng ketika orang-orang pada bilang "What? Kamu 32?" Hal itu semacam reward karena berhasil me-muda-kan diriku sendiri. Enggak sia-sia dong ya, beli skincare seabreg, rajin olah raga, dan menebarkan aura positif dengan senyuman memesona. Ea, lama-lama nglunjak.

Aku juga enggak pernah malu buat belajar dan bertanya. Umur 32 bukan menjadikanku seseorang yang harus dijunjung tinggi karena pengalaman. Justru aku malah takut, karena yang muda-muda sekarang ini pada lebih hebat dan berani ketimbang zamanku dulu. Aku enggak mau kalah dan harus terbuka dengan teknologi.

Dengan cara apa? Mengikuti tren. Ya monggo sih, kalau ada yang berpendapat bahwa tren tidak harus diikuti, dan berpikir bahwa gimanapun yang lawas tetap nomor satu. Kalau menurutku sendiri, kita harus punya porsinya masing-masing. Teknologi cenderung bisa memudahkan kita melakukan sesuatu, tapi misalnya kita punya kesenangan kayak main tanah, main lumpur, sampai pegang kamera manual, ya sudah lakukan saja. Enggak bisa dong, kita nyamain zaman sekarang sama zaman kita dulu. Memangnya kita mau dibandingin juga sama zaman pra sejarah? Kan enggak. Semua berkembang, semua punya zamannya.

Umur 32 makin menjadikanku sosok yang dewasa. Kalau kalian tahu, mungkin sejak brojol aku dinobatkan sebagai orang yang paling keras kepala. Disenggol dikit ngegas. Ada yang beda pendapat, enggak terima. Sekarang aku lebih legowo. Lagi antri makanan tiba-tiba diserobot saja cuma bisa ngelus dada hahaha. Enggak mau ribut sebetulnya, sayang tenaga. 

Karena pernah juga tuh, waktu beli jajan pasar, yang jual plin plan soal harga. Ketika bayar ternyata lebihnya enggak kira-kira. Terus begitu diprotes, malah nyolot. Jadilah berantem dan dilihatin orang pasar. Dapet kembalian? Enggak. Dapet untung? Enggak juga. Malu? Iya. 

Umur 32 juga bikin aku makin sadar kalau masih banyak yang harus dikejar. Sekolah Alya misalnya. Kepikiran banget nget, cari sekolah yang bagus sampai di lulus kuliah. Maklum, pengalamanku sejak SD sampai kuliah banyak pahitnya. Bahkan masih kecewa karena belum bisa S2. Satu-satunya yang bisa menolong dan ngademin hati ya kecerdasan Alya. Kalau dia tumbuh sebagai anak yang bermanfaat bagi banyak orang, semua kekecewaan masa mudaku tertutup sudah.

Ini anaknya sudah mau TK. Tahun ini aku pindah ke sekolah yang lebih kompetitif, biar anaknya ikutan semangat. Terus aku juga harus nabung buat biaya SD nya nanti. Enggak bisa cuma gini-gini doang ya kan ternyata. Harus gerak cepat, walaupun badan gampang remek karena enggak lagi muda.

Terus abis itu mikir, dulu waktu masih muda ngapain saja sih isinya? Makan nonton foya-foya doang? Padahal kalau dipikir-pikir, almost 24 hours per day, sekarang aku super padet jadwalnya loh. Semacam enggak ada waktu buat leha-leha. Kenapa dulu bisa sebegitu santaynya yaaa. Misalpun ada waktu luang, paling enggak kan bisa diisi kegiatan produktif dan bermanfaat. Biar tuanya nanti tinggal ngelanjutin perjuangan. Damn, aku terlambat juga ya haha.

Terus nabung. Lagi-lagi zaman muda kenapa susah nabungnya. Uang 3 juta buat sendiri kayak kurang mulu? Mmm, gaya hidup memang enggak ada habisnya ya! Sekarang malah bisa hemat sama nabung. Semua post pengeluaran bener-bener direncanakan matang. 

Umur 32 akhirnya bisa bikin aku mikir lebih jauh lagi. Wah enggak bisa nih, kita cuma lempeng kayak gini. Target tahun depan harus sudah punya bisnis kecil-kecilan. Lagi direncanain kok, pelan-pelan. Sudah bosen tauk, nungguin invoice yang enggak tentu. Dan nungguin project kapan dealnya. Menunggu terus kapan action ya kan! Makanya, paling enggak kalau aku punya bisnis dan jalan, sudah bisa buat pegangan. Misal mau bikin film, harus berani patungan. Kalau nunggu ada proposal tembus biar ada kucuran dana mah, iya kalau tembus? Kalau enggak? Naskah nanggrok enggak kunjung eksekusi. Sayang loh! Kita ka butuh berkarya.

Aku cuma kadang takut sih. Kalau enggak dikejar sekarang kapan lagi. Kan umur manusia siapa yang tahu. But, finally i understand, bahwa makin banyak umur, harusnya makin bisa menghargai waktu. Aku enggak mungkin punya sikap seperti ini di umur 20 tahunan lalu. Ada banyak hal dan pengalaman yang bikin aku enggak keras kepala lagi. Aku lebih suka damai dan berbaik hati. Dunia ini masih harus berputar sayang. Yang kita perlukan cuma memperbaiki diri, always and always.

Age is not just a number. Age is an issue of mind over matter.

You May Also Like

2 komentar

  1. Pada akhirnya pengalaman memang guru paling bijak ya mbak. Selamat bertambah umur mbak, barakallah :D

    ReplyDelete
  2. Kita beda 10 tahun berarti.
    Saya baru 22, #eh wakwkak... 42 ding!

    Tapi memang benar, afe is just a number. Jangan pernah merasa tua, tetap semangat, tapi ingat kondisi tubuh.

    Selamat ulang tahun, yOsa.

    ReplyDelete