DO GOOD

by - August 20, 2019

Mengikuti berbagai macam akun financial planner, memang sudah seharusnya dilakukan. Apalagi yang suka sama perencanaan matang. Lagian hari gini loh, keuangan seharusnya menjadi kebutuhan utama, mulai untuk kehidupan sehari-hari, sampai cita-cita. Rasanya kok enggak lazim ya, kalau kita enggak pengen ina inu dan cenderung mengikuti petuah seperti orang jawa bilang: "trimo ing pandum".  

Serius deh, kalau boleh jujur, siapa sih yang enggak mupeng sama gulu-gulu yang hanya ada di kota besar? Siapa sih yang enggak pengen liburan nginep resort di karimun jawa? Siapa sih yang betah diam saja tanpa adanya quota internet? Well, iya, maksudnya aku juga. Tapi intinya, zaman sekarang  tuh enggak bisa disamaratakan seperti zaman dulu, ketika makan singkong goreng di pinggir sawah menjadi hal yang lumrah. Orang zaman sekarang sekalinya makan singkong goreng di pinggir sawah, ya biasanya di resto dengan nuansa sawah. Itupun pakai embel-embel update status dan bakalan sibuk balesin reply dari temen-temen, ketimbang menikmati singkong goreng itu sendiri.

Definitely, merencanakan keuangan banyak untungnya. Untuk kamu yang gajian pasti tiap bulan, untuk kamu yang tinggal di kota besar yang penuh tantangan, atau untuk kamu yang belum punya banyak tanggungan. 

Tapi buatku yang freelancer begini, yang papa mama ku cerai dan harus tinggal sendiri-sendiri, yang adekku terakhir belum juga kuliah karena belum ada dana, yang keuangan kadang sepi kadang gubrak banyak amat, mempraktekkan saran dan mengikuti langkah-langkah financial planner, lebih sering bikin kepala pusing! Mumet njobo njero.

Source: https://www.pinterest.com.mx/pin/45106433747218646/
Tulisan ini sebenarnya diawali dari sebuah akun financial planner terkemuka. Di salah satu feed-nya, ada yang menggelitik pemikiran aku. Caption tentang finacial yang berbuah pertanyaanapakah pengeluaran naik pasti disebabkan oleh kenaikan biaya hidup? Ini pastinya aku jawab "lebih banyak iya" dengan berbekal pengalaman. Cuma yang jadi persoalan di sini, di kolom komentar, ada unpopuler opinion untuk para followersnya. Aku lupa pastinya sih, dan njlimet nyari di akunnya, tapi kurang lebih bilang kalau Gaji yang kita terima, sedekahin saja 1/3 nya. Niscahya, sama Allah akan dikalikan 10x lipatnya.

Sounds like bawa-bawa agama sih ya, dan dijawab oleh adminnya, "Lantas kenapa ada orang yang enggak bayar per puluhan bisa kaya-kaya ya??"

Ini kalau diibaratkan sedang debat, pasti aku cuma bisa diam saja. Cukup rame sih di kolom komentar. Banyak juga yang mengkait-kaitkan dengan istidraj. Tapi di sini, aku enggak mau ngobrolin dari sudut pandang agama secara dalam ya, karena ilmuku saja masih cethek. Namun kalau melihat sudut pandangku yang pada dasarnya melihat akun finansial -masih-sebagai-wacana-doang, otomatis aku mikir dong.

Yang pertama, "lho kok adminnya bisa mengaitkan dengan orang lain, kan rezeki tiap orang memang berbeda"

Pada dasarnya, aku meyakini rezeki atas dasar usaha dan doa. Kalau aku pribadi, keduanya harus berimbang, dan rezeki itu enggak semata soal uang. Teman itu rezeki, tetangga baru itu rezeki, kebaikan itu rezeki, bantuan itu rezeki, kalau sudah ngomong begini, memang kadang susah buat dinalar sehat. I mean, aku sering beneran enggak nyangka lho, di saat aku lapar butuh makanan, tiba-tiba tetangga datang, kok ya bawa makanan kesukaan. Belum lagi soal hadiah-hadiah tak terduga lainnya yang ya iya sih usaha, tapi ada faktor luck-nya juga. Dan ini kalau dipas-pasin, kok ya pas butuhnya.

Enggak cuma sekali dua kali sih kalau mau dihitung hal-hal di luar nalar seperti ini. Kami struggling banget soal pendidikan dan rencana beli rumah ke depannya. Tapi, kok ya ada saja kebutuhan tak terduga yang membuat kami harus menyisihkan sebagian uang untuk yang bukan kebutuhan kami. Dengan catatan, selama kita juga baik, maka akan mendapatkan hasil yang baik. Proses sebab akibat lah intinya. 

Mau contohnya, oke. Beberapa waktu lalu, Papa beli rumah, rumahnya baru dibangun nih, dan masih kurang banyak. Terus yang terpenting kan harus ada listrik sama air. Papa sendiri juga kekurangan dana untuk membangun itu semua.

Lha kok ndilalahnya, aku dapat transferan yang tidak terduga. Iya, itu murni fee-ku. Tapi perjanjian awalnya, akan ditransfer ketika sudah tayang. Nah ini tu belum tayang sudah ditransfer. Kan kaget dong. Kemudian langsung aku serahkan ke Papa, dan digunakan untuk bayar pemasangan listrik. Cerita belum selesai sampai situ. Tepat sehari setelahnya, adekku yang nomor dua menghubungiku dan mau transfer sejumlah uang untuk keperluan yang lain. Katanya, itu uang kesehatan dari kantornya karena sekarang kesehatan alhamdulillah ikut ditanggung kantor. Aku enggak nanya lebih detailnya, tapi jawabannya begitu.

Jadi, ketika papa membutuhkan, anak-anaknya juga pas ada. Ada yang bilang, rezeki itu dititipkan. Cuma, nalarku belum bisa sampai situ sih. Aku hanya kepikiran, pas butuh, pas ada. Dan semua ya karena Sang Pencipta.

Bukannya aku maksa nyuruh sama-sama satu pemikiran. Karena yang namanya kepercayaan, itu akan semakin ada kalau kita makin percaya. Ada kan yang percaya sama Sang Pencipta, sama Gusti Allah, sama Tuhan Yesus, sama semesta, nah itu tuh yang mungkin jadi acuan kalau mau hidup damai. Aku ya, kalau ibadah sholat, puasa, aku anggap sebagai healing dan sarana untuk meditasi. Rasanya adem kalau sudah gitu, dan hasilnya? Kalau hati sudah ayem, ngapain saja juga bakal tentrem.

Yang kedua, orang yang komentar ini mungkin juga kurang tepat bahasanya. Iya sih, bahasa tulisan sensitif, tapi pemahaman istidraj enggak semua orang ngerti lho. Apakah kita harus bersedekah banyak-banyak sementara kita juga masih banyak tanggungan? Apakah dengan merelakan 1/3 uang kita harus pamrih dapat imbalan?

FYI, setiap aku berbagi, aku enggak pernah punya rasa ingin dapat timbal baliknya, terlebih soal uang. Aku serem banget kalau pegang uang banyak-banyak. Takut maruk terus beli apa-apa hingga bikin yang lain dengki. Bukan apa-apa, sekarang di sekitarku masih banyak yang membutuhkan. Dulu ya, waktu Alya masih bayi, Demi Allah aku sakit hati lho ngelihat temen-temen makan enak dan bisa kongkow lama-lama. Saat itu aku enggak bisa keluar rumah, keuangan sedang genting, dan kondisiku belum fit. Susah kalau mau menyenangkan diri sendiri. Nah, ngelihat ada yang bisa keluar malam dan ngopi-ngopi, bikin aku meringis. Nangis. 

Makanya, aku enggak mau juga terlalu berlebihan dalam mempunyai sesuatu. Secukupnya semampunya. Misal belum bisa, ya ikhtiar, berdoa lebih banyak. Barangkali selama ini usahanya kurang, atau doanya belum benar. Ngomong kayak gini memang sensitif sih, enggak semua bisa ngerti. Kalau ada yang bilang, "life is not always about number", aku percaya tuh! Beneran, enggak semua bisa diukur secara materi. Wong orang tuaku saja bisa menyekolahkanku tanpa rencana dan tanpa dana pendidikan. Wong dulu pas nikah saja dipas-pasin uangnya juga bisa. Wong uang saku pas kuliah saja paling minim tapi bisa lulus awal juga. 

Pokoknya yang kayak aku gini, misal belum bisa menyisihkan uang tiap bulannya, berbuat baiklah dulu. Ber-positive thinking. Enggak bisa patungan uang, kita bisa sumbangsih tenaga dan pikiran. Yakinlah, pasti akan ada banyak jalan kalau kita tulus memberi. Belum bisa nabung bulan ini, mungkin bulan berikutnya. Aku sih percaya, selama ada usaha dan doa, pasti ada solusinya. Rencana Tuhan kan katanya lebih indah. 

Hari ini aku belajar legowo lagi, karena memang belum sesiap itu menabung banyak-banyak. Masih banyak yang harus aku bagi. Bukan untuk mengharap timbal balik, tapi untuk ketentraman hati. Rasa aman tuh enggak bisa diperjualbelikan. Mau kita punya satpam 24 jam, kalau rasa insecure masih tetep ada, ya enggak bakal mempan. Gimana cara supaya kita merasa damai di hati? Ya dari rasa percaya yang kita tanamkan.

Semoga tulisan ini bukan untuk jadi bahan perdebatan ya. Aku nulis ini dari sudut pandangku, seorang ibu rumah tangga yang bekerja sebagai penulis naskah lepas. Banyak hal yang kadang tidak bisa kita samaratakan, semua kan sesuai pengalaman dan kondisi. Ingatlah, enggak semua orang bercita-cita bekerja di kota besar, dengan gaji bulanan dan senang sama gemerlap megapolitan. Enggak semua orang tertarik sama konten kreatif, enggak semua orang bisa suka sama bagaimana cara membuat film, dan enggak semua orang punya jalan mulus untuk menjadi apa yang diinginkannya. Di luar sana, kita masih butuh petani, butuh tukang bangunan, butuh pedagang di pasar tradisional, butuh UMKM yang bergerak di bidang makanan dan hasil kerajinan. Enggak semua orang sama dengan kita. 

Akhir kata, percayai apa yang membuat kamu lebih baik. Kita enggak bisa memaksakan standart orang lain ke kita, dan juga sebaliknya, jangan pernah memaksa apa standart hidup kita ke orang lain. Hakekat kehidupan sesungguhnya adalah soal bertahan. Tinggal bagaimana cara kita bertanggungjawab terhadap pilihan.

You May Also Like

0 komentar