PRICELESS

by - August 01, 2019

Selama sebulanan ini aku makin ngerasa bahwa makin tua, makin banyak PR yang kudu segera dikerjakan. Mulai dari nabung biaya sekolah Alya, nyicil rumah, dan yang terakhir aku musti mengusahakan beli mobil yang pas untuk aktivitas bersama. Sorry, mobil yang mumpuni itu cukup penting mengingat kondisi Alya belum bisa jalan jauh-jauh pakai motor. Angin dingin, bisa menyebabkan batuknya kumat. Yang kedua, aku pun sering meeting ke luar kota. Rasanya kok memang harus belajar nyetir sendiri biar enggak diburu waktu pulang. Kan biasanya cuma pakai bis yang jam 5 sudah paling terakhir. Mau pakai motor? Ogah! Umur sudah kepala 3, mikir sudah bikin capek, kok masih ditambah kudu naek motor sendiri. Memangnya aku wonder woman?

Okay, memutuskan kerja di rumah adalah salah satu keputusan terbaik untuk saat ini, terlebih buat Alya. Asal kalian tahu saja, nyatanya, kami masih harus memberikan perhatian ekstra. Aku sempet mikir, ketika tatapan Dokter yang menangani Alya seperti menjustifikasi bahwa Alya sering dapat makanan pemicu alergi, salah satunya karena kami, Dokter seperti ngasih sign supaya jangan sampai lengah lagi. Mungkin ada benarnya, but trust me, dalam hati lemah juga mengingat itu semacam rasa tidak percaya pada pola asuh kami. Padahal sekali lagi, kami sudah di rumah, antar jemput, siap siaga, dan sudah memprioritaskan Alya di atas segalanya. 


But lemme tell you a story, yang mana kesimpulannya bikin kami bersyukur bahwa enggak semua orang punya moment dan kesempatan yang sama seperti kami. Mau dikata ngrasani silahkan, tapi yang jelas, aku sudah gatel sejak lama pengen berbagi.

Jadi, aku punya tetangga depan rumah, Suami Istri yang dua-duanya bekerja di luar. Suami pelayaran, sedangkan Istri bekerja di salah satu Bank di Jogja. Keduanya sibuk. Suaminya mungkin cuma bisa pulang dua bulan sekali, itupun kadang lebih. Terus Istrinya, berangkat kerja pagi jam 6, pulang magrib sudah paling bagus. Maklum, luar kota, belum sering terkena macetnya.

Nah, mereka ini punya 2 anak laki-laki yang masih kecil-kecil. Yang pertama umur 3 tahun, sementara yang kedua umur 8 bulan. Sejak anak pertama masih bayi, mbahnya sudah didatangkan langsung dari Jawa Timur biar ikut momong. Slow down, pembantunya ada kok, bahkan sampai 2 pula. Lagian itu terserah sih ya, urusan mereka, toh kemampuan tiap orang berbeda. Tapi intinya, momong dan ngurus rumah tangga, sudah ada pembagiannya semua. Si Mbahnya ini sebenarnya sudah hendak melepas kedua cucunya, karena dirasa sudah besar, dan dia kan ada rumah di Jawa Timur. Lama juga loh ninggal rumah enggak keurus.

Tapi... baru juga pulang Jawa Timur, Mbah ke sini lagi karena si cucu mau sekolah PAUD. Oh iya cucu pertama ini speech delay cukup parah. Tapi enggak tahu nih, kok enggak kunjung diterapi, mungkin enggak punya cukup waktu i don't know.

Kemudian karena sekolah PAUD inilah, kan butuh antar jemput tuh, Mbah Uti dan Mbah Kakung dua-duanya ke sini demi cucunya. Si Suami Istri mikir kalau anak ini enggak bisa sama orang baru. Jadi rencananya, selama kurang lebih seminggu diantar Mbah dulu, baru kemudian diantar ojek harian. Belum juga masuk sekolah, terjadilah kecelakaan kecil. Cucunya Mbah main di kasur lompat-lompatan, dan akhirnya mengenai perut Mbah Kakung yang sedang tidur di bawah. Tahu apa? Seketika itu juga, Mbah Kakung tidak bisa bernafas kayak kritis.

Kebetulan aku dan Suami lagi di rumah. Posisi lagi pada tidur siang karena semalaman begadang arena Alya masih sakit bronkitis. Mbah Uti gedor-gedor gerbang manggil kami untuk menolong Mbah Kakung. Kami enggak langsung denger dong. Tenyata bersamaan dengan itu, Si Istri yang kerja di Bank ini juga telepon HPku, cuma aku enggak begitu ngeh HP taruh di mana.

Beberapa saat kemudian, aku ngeh, dan sadar ada yang gedor gerbang. Aku langsung bangun minta tolong Suami. Secepat kilat kami bergerak dan langsung membawa Mbah Kakung ke UGD Rumah Sakit. Nah, mungkin saking paniknya, Si Istri kan telepon orang-orang di komplek tuh, jadinya, hampir semua orang nelpon Suamiku untuk mengetahui kondisi Mbah Kakung. Yes, lucky me tinggal di komplek yang solid dan warganya baik-baik banget.

Habis itu ya sudah, Suamiku yang ngurus semua administrasi, keperluan, dan antri ruangan untuk opname, karena ternyata harus cepat ditindak lanjuti. Seperti USG perut, dan bertemu dengan Dokter Spesialis. Yang mana prosedural ini enggak mungkin dilakukan oleh Mbah Uti yang masih shocked dan kebingungan sepanjang waktu. Dibenakku sama Suami, walaupun Alya masih sakit, tapi kami insyaallah selalu siaga dan cepat tanggap. Enggak nunggu babibu, enggak nunggu acc boss agar bisa pulang cepat. Karena yang waktu itu kami lihat, Si Istri ini enggak bisa langsung pulang dan cuti, lantaran susah dapat izin.

Well i understand gimana susahnya kerja kantoran. Tapi kan kami enggak punya hak untuk turut campur urusan keluarga. Setiap rumah tangga punya masalahnya dan solusinya masing-masing. Sebagai tetangga, kami hanya bisa memberi uluran tangan, dan masukan yang membangun.

Singkat cerita, kondisi Mbah Kakung belum membaik sampai seminggu lamanya opname. Dokter  bilang selain luka dalam, Mbah Kakung juga punya riwayat gula. Dokter sempet menyarankan agar jangan pulang dulu sebelum kondisi benar-benar membaik, tapi Mbah bersikeras pulang karena ngerasa sudah baikan. Kontrolpun berjalan seminggu sekali. Lagi-lagi Suami bantuin karena you know, siapa lagi sih saudara terdekat kalau bukan tetangga?

Karena Suami melihat kondisi Mbah Kakung tidak ada bedanya, lalu dia menyarankan agar dibawa ke salah satu Rumah Sakit di Jogja sebagai second option. Jujur, RS di Magelang tuh kelasnya masih jauh di bawah Jogja. Kalau cuma sakit biasa mah enggak apa-apa, tapi kalau sudah penyakit dalam, komplikasi pula? Ya wes, enggak usah mikir dua kali, bawa saja ke yang lebih proper. Gitu lah intinya.

Namun sayangnya, Suami dan aku juga banyak kerjaan. Apalagi kerjaan Suami apabila sehari ditunda, bakalan numpuk ke esokan harinya. Kebayang dong, sudah terlantar beberapa hari, which means fee-nya juga enggak makin lama turunnya. Di sisi lain, Alya pun lagi butuh perhatian ekstra, dan aku sama-sama lagi banyak deadline plus agustus ini sudah mulai kejar tayang. So, dengan berat hati kami mengungkapkan dan minta maaf kalau enggak bisa bantu seintens biasanya. Mungkin terdengar "kok nolong hitungan banget". Tapi mohon dimengerti kalau kami pun punya prioritas sendiri dan kerjaan kami juga enggak tentu begini. T.T

Alhasil, kemarin malam pas aku nulis ini, Mbah Kakung dibawa ke Jogja by carteran biar dekat sama tempat kerja anaknya. Sempet sih kami rasan-rasa, kok Si Istri enggak resign saja, mengingat kondisi orang tua dan anaknya butuh perhatian ekstra. Btw tolong digarisbawahi, kami bisa mikir kayak gini karena ngerasain betul gimana kesusahannya Mbah ketika anak-anaknya tidak ada, dan mempercayakannya pada kami. Kamipun ikutan galau betul. I'm seriously, tiap malam kami sampai mikirin ini.

Suamipun juga ngerasain gimana jauhnya dari orang tua, terlebih ketika orang tua sakit. Tapi kan akhirnya kami sadar bahwa point-nya bukan di situ, melainkan solusi bagi keluarga mereka. Dipikir-pikir berapa sih gajinya hingga bisa mengorbankan banyak hal termasuk kesehatan dan kebahagiaan? Tiap hari habis bensin berapa? Bayar pembantu berapa? Anaknya butuh penanganan khusus dan belum selesai loh.

Bwaaaarr, akhirnya julid juga kan! Monmaap nih, ikutan mikir juga soalnya. T.T

Tapi biar enggak berujung ngrasani doang, aku sama Suami akhirnya sadar bahwa setiap orang punya jalan hidupnya sendiri. Ada yang memang fokus mengejar karier, ada yang memang milih di rumah biar deket sama keluarga, ada juga yang pengen bisa berjalan keduanya, biarpun duit jatuhnya pas-pas-an. Yang terakhir pilihanku btw. 

Kenapa memproritaskan keluarga di atas segalanya? Karena kami memang enggak bisa jauh-jauhan satu sama lain. It's okay kalau cuma ambil job semingguan doang, toh kadang kami juga bosen di rumah terus. Tapi kalau sudah berminggu-minggu lamanya, jelas kami tolak. Mending cari yang mudah-mudah saja. Aku sendiri sempat ingin memutuskan kerja kantoran lagi, mengingat tawaran ngantor, kini beberapa kali datang. Cuma balik lagi ke kondisi Alya yang butuh perhatian ekstra karena sakitnya. Kalau dihitung-hitung jatuhnya mending aku kerja di rumah juga enggak apa-apa. Kan semuanya kami bisa handle berdua.

Menurut kami, moment melihat tumbuh kembang dan mendampingi Alya seperti ini priceless. Enggak akan tergantikan. Situasi kayak gini tuh enggak mungkin terjadi kalau aku dulu enggak resign dan berdua masih kerja di lapangan. Pergi pagi pulang malam, lagian kenapa sih dulu ambil broadcasting and film? Hahaha, enggak kok enggak nyesel, cuma baru meratapi nasib karena jadi scriptwriter yang kerja di rumah itu ternyata ya susah juga :p

Well, kesimpulannya adalah, lakukan yang terbaik dan cari solusi tanpa memberatkan pihak manapun. Dalam kasus tetanggaku di atas, sayangnya, belum bisa menemukan solusi terbaik untuk semua. Dibilang merepotkan jelas iya, tapi dibilang kasihan ya kasihan atas nama kemanusiaan. Kami berat hati bilang gini, karena sesungguhnya, dengan memberikannya ringan tangan, kadang malah bikin orangnya ongkang-ongkang.

Akhir kata, jangan korbankan siapapun demi egomu. Kebahagiaan bersama dan kesehatan itu priceless, dan tidak dapat diukur dengan uang bermilyar-milyar sekalipun.

You May Also Like

1 komentar