PRIORITY

by - August 16, 2019

Gila, rasanya sudah bertahun-tahun enggak nulis blog. Sudah agak berdebu jadinya T.T. Padahal kalau dipikir-pikir, ngeblog tuh bisa lah diselip-selipin nulis sebelum tidur. Cuma ya gimana, otak kadang sudah buntu, badan capek, mending golar-goler sambil scrolling IG. Maklum, sekarang ketambahan masak terus buat Alya, yang lagi enggak boleh jajan di luar. Belum lagi kerjaan script yang kejar tayang, plus di komplek lagi ada acara 17-an. Wes jan, susah bagi waktunya. Sekalinya ada waktu sebelum tidur, dihabiskan dengan leren dan cari hiburan. Enggak salah kan? Tapi baru kerasa kadang buang waktu juga haha.

Well, i think i'm not really busy, this is just an matter of priority.


Aku enggak bohong, jadi freelancer itu menyenangkan. Asal kita bisa me-manage waktu dengan baik, bakalan kerasa nikmatnya. Yaaa bayangin saja, aku bisa ngerjain script sambil ngelihatin anak yang lagi main di sebelah. Ini kalau kantoran belum pasti boleh dan bisa ya kan?

Hal ini diperkuat juga dengan statement orang-orang di sekitarku yang pasti selalu bilang, "enak ya jadi freelance", dan mostly pada pengen dengan segala keluh kesahnya menjadi pegawai kantoran. Btw, ini subyektif ya, dan terjadi di lingkungan sekitarku, kalau kalian baca ini dan enggak setuju, ya it's okay. Everyone has their own choice.

Tapi, yang harus digarisbawahi adalah: tahu kah kalian kalau di balik itu aku jungkir balik ngatur waktu? Include harus masak dan jagain Alya? Termasuk kalau Alya tiba-tiba nangis di komplek padahal posisi aku masih berkutat dengan naskah? Tahu tidak seberapa peningnya ngatur semua itu jadi satu dalam 24 jam. Bahkan kalau boleh ngeluh nih, kadang justru aku pengen loh kerja kantoran lagi. Yang kalau sudah berangkat kerja, ya sudah, kerja saja. Enggak perlu repot ngatur menu makan apa, anak rewel gimana. Toh dititipin day care beres. Makan tinggal beli. Baju tinggal laundry.

Gimana? Lebih enak mana? Semua ada plus minusnya kan ya?

Maka dari itulah, kalau pengen jadi freelancer, bukan semata-mata karena ego sesaat doang. Misalnya ego karena si bos kok sak'klek banget, gaji enggak dinaikin, padahal kerja juga baru 2 tahun, angot-angotan. Lembur misuh, kerjaan banyak juga enggak suka. Sudah gitu absen sidik jari telat pula. Gitu minta gaji naik mulu. Sekali enggak diiyain ngambek, update status, pengen resign, tapi enggak jadi-jadi karena susah juga cari kerjaan. Muke lu taruh mana?

Nikmatin saja kenapa, kalau belum siap ya jangan buru-buru. Apalagi cuma mikirin gengsi. Freelancer enggak makan gengsi loh. 

Back to topic soal manage waktu. 
Saking aku kelihatan selow-nya, hampir semua orang ngerasa kalau aku bisa dimintain tolong kapanpun juga. Enggak usah jauh-jauh deh. Aku kalau ngerjain naskah, berikut revisinya, pasti mintanya secepat kilat. Pokoknya gimana caranya, naskah harus jadi, karena kejar tayang. Mana ada sih yang peduli soal aku bisa apa enggak? Aku lagi ngapain? Sedang sehat apa meriang? Kabar anak gimana? ENGGAK ADA TUH. Kalau kita kerja kantoran, bakal jelas kan, bentuknya kita lagi sedih, capek, senewen, sakit juga bisa izin. Sedangkan aku? Kalaupun ada, paling mentoook juga bakal dibilang "cepet sembuh ya yos, biar cepet kelarin kerjaan".

Move to contoh lain yang bukan kerjaan. Di komplek. 
Iya sih, i'm fine kalau ada yang minta tolong bantuin macem-macem. Kayak 17-an, kayak ngurus acara halal bihalal, atau apalah. Berbekal mindset: "kalau kita memudahkan sesuatu, niscahya akan dimudahkan pula urusan kita", jadi aku juga dengan gampangnya mengiyakan, karena aku pikir memang enggak ada salahnya kan. Lagian aku di rumah, kalau cuma begini begitu, bisa lah dilakukan sekejap mata. Tapi lama-lama aku tahu sih, hal-hal seperti ini bikin rancu orang-orang yang enggak ngerti istilah kerja di rumah. Sekali yes, besok-besok pantang nolak. Mau mundur, tapi enggak ada penggantinya. Kalau sudah gini, acara apapun bakalan jadi panitia seumur hidup. Kuncinya cuma satu, kudu ikhlas, karena yang namanya volunteering di kampung yang banyak orang banyak ide, pastinya bakal lebih susah. Sudah sukarela, kadang masih saja ada cacatnya.

Nah, dari kedua cerita di atas, aku menyimpulkan bahwa, hampir semua orang enggak ngerti kesibukanku. Secara kasat mata nih ya, toh aku ada di rumah, bisa masak, bisa momong. Yang artinya, bisalah.. kalau cuma diselip-selipin kerjaan. Ini kalau enggak aku tegasin dan aku pamerin kerjaanku apa saja, terus terang saja, bakalan mrembet kemana-mana.

Kalau kalian lihat statusku di IG atau whatsapp, biasanya aku nge-share sesuatu yang aku suka, juga kesibukanku walaupun di rumah. Almost 24 hours aku pergunakan sebaik-baiknya. Bahkan kalau mau tahu, aku berkali-kali ditolak donor darah dengan alasan tensiku rendah terus. Sudah disuruh makan daging-dagingan juga segitu. Apalagi ditambah sama begadangan? Makin enggak bisa deh donor darah.

Aku bilang gini pada mbatin "wah yosa sombong amat, kayak enggak ikhlas karena pakai diomongin segala". Okay then, aku nulis dan rajin update status justru biar kalian tahu setiap hari aku ngapain saja. Bangun tidur langsung masak, nyuci, ngepel, mandiin Alya, anter sekolah. Habis itu ngerjain naskah, jemput Alya. Main sampai sore. Malam revisi. Itu belum dihitung setrika yang kadang aku lakukan 5 hari sekali. Karena malesnya boooowk. Plus kalau sudah give up, tinggal panggil tukang setrika. Lucunya, habis itu nyesel "apa enggak mending uangnya aku belikan kopi arabica ya" hahaha.

Paham kok, tidak semua orang mau ngerti kerjaan orang lain. Yang penting beres saja, sudah paling ngebantu. Aku sempet sih kepikiran, apa mau cari kerjaan kantoran saja, biar jelas timing-nya. Nanti biar pada enggak minta tolong seenaknya. Tapi kan lagi-lagi mikirin anak. Aku enggak mau nantinya hanya punya waktu sedikit buat anak. Wong sudah ekstra begini saja, anakku bronkitisnya belum sembuh-sembuh kok.

Yaaah, pada dasarnya aku cuma mau ngingetin sih, bahwa apa yang aku lakukan semua ini karena aku bisa me-manage waktu dengan baik. Gimana caranya, ya ambil skala prioritas. Kalau masih bisa bantu, pasti aku usahakan semampuku. Kalau enggak ya mending stop. Tapi kan biasanya pada enggak ngerti ya, yang soal tolak menolak gini padahal aku di rumah. Sebenernya aku juga belum pernah nolak kok. Hanya saja, aku kadang ngambil jobdesk yang sekira bisa aku handle sendiri. Walaupun aku terbiasa kerja dengan team, tapi untuk hal-hal yang bersifat cepat, mendingan aku pegang saja deh dari pada banyak orang makin lama.

So, karena aku sudah membuktikan bisa me-manage waktu tersebut, aku bisa bilang kalau misalnya ada orang sehat yang sibuk dan enggak bisa bantu-bantu, percayalah, itu hanya masalah hati, yang menyangkut ke prioritas. Mungkin bisa bantu, tapi bukan prioritasnya. Mungkin mendingan dia di rumah quality time sama anak, sama istri, atau waktunya untuk cari duit lagi. Don't worry it's okay, volunteering kan enggak bisa maksa. Yang bisa back up ya siapa lagi kalau bukan seperti aku gini hahaha.

Sebagai penutup, karena ini pure sambatan fyi. Trust me, aku ikhlas. Apapun yang aku lakukan, semoga berguna dan berkenan. Aku enggak meminta balas apapun dari kalian. Cuma yang harus di-bold adalah, jika ada yang enggak berkenan dengan segala bantuan alakadarnya ini, mending cukup sampai di sini dan besok enggak lagi-lagi. No, i'm not kidding, this is the real deal.

You May Also Like

0 komentar