YEAY, ALYA IKUT TAEKWONDO!

by - December 08, 2020

Lama enggak nulis tentang Alya, sebenernya bukan karena enggak ada cerita sih, tapi mulai bulan-bulan kemaren, Alya sudah bisa request atau ngelarang aku nulis macem-macem tentang dirinya. Singkatnya, kalau mau posting soal Alya, harus seizinnya. Memang kadang aku lupa soal privasi anak, banyakan posting karena murni curhat. Dulu ada kalanya aku izin dulu, dan iya dia izinin karena mungkin belum paham. Makin dewasa pastinya dia sadar dan tahu mana yang jadi haknya. Sekarang, dia seperti baru ngeuh, "oh ternyata aku boleh enggak suka, dan itu enggak apa-apa". 

Well, postingan ini tentu aku buat dengan seizin Alya, dan dengan bangga, dia akhirnya ikut Taekwondo juga. Hah, cewek ikut Taekwondo? Gimana ceritanya? Aku cerita di sini ya!


Sejak bayi, Alya ini dapat dikatakan anak yang cukup aktif dengan berbagai polahnya. Namun, karena dia mempunyai riwayat penyakit bronkitis, hal tersebut membuat fisiknya gampang capek dan seakan punya batas buat beraktivitas. Mulai umur 2 tahun sampai 4,5 tahun, kami ngos-ngosan cari pengobatan dengan berbagai cara (Kalian bisa search di blog ini tentang penyakit Alya). 

Kemudian, sudah berkali-kali pula kami berencana mengikutkan Alya les renang, tapi belum jadi-jadi juga lantaran tempat les cukup jauh dari rumah. Kami pikir, sekalian saja nunggu Alya agak gedhe, biar enak wara-wiri dan waktunya pas. Oleh karena itu, kami dulu sering ajak Alya renang sendiri di gending/ kolam alami di desa gitu, yang letaknya lumayan deket dari rumah. Alya jadi suka berenang dan main air. Air dingin cukup membuatnya kuat dan bikin paru-parunya makin bagus.

Ketika beres menemukan obat yang manjur dan Alya semakin besar, wacana les renang lagi-lagi buyar karena Pandemi. Aku kudu skip, dan nunggu sampai berbulan-bulan lamanya sampai capek sendiri. Selama pandemi, Alya olah raga-nya ikut kami seperti jogging atau lari pagi, maupun sepedaan dan in line skate di lapangan deket rumah. Pokoknya gimana caranya supaya energi Alya tetap tersalurkan. Sebetulnya Alya sudah lama pengen mencari dan mengembangkan salah satu bakatnya seperti berenang, in line skate. skate board, gambar, music sampai bela diri. Tapi di Magelang, pilihan les/ kursus enggak sebanyak di kota besar. Jadi, kami sesuaikan dengan kondisi dan faktor jarak adalah yang utama. Suamiku sendiri, sudah lama mengarahkan Alya untuk ikut bela diri, seperti Pencak Silat, atau Taekwondo. Alya sering dikasih video-video via youtube tentang anak yang bisa bela diri, nonton Boboho (yes, literally sambil ngakak-ngakak), dan menemukan ketertarikan karena biasanya, tim bela diri itu solid. Kalau ada temennya yang belum bisa, yang lain akan ikutan support sampai si anak bisa. Lalu ketika si anak sudah bisa, temen-temennya ikut bangga. Yah semacam thats what are friends are for lah. Alya pengen menemukan lingkungan yang kondusif dan saling melengkapi kekurangan. 


Kebetulan, salah satu anak kompleks, ada yang sudah ikutan Taekwondo di dekat rumah sejak Ia kelas 1 SD sampai sekarang kelas 5 SD. Si anak ini sudah sabuk merah dan sering ikut lomba. Singkatnya, aku lalu nanya ke Ibunya Si Anak ini, lalu kami mendaftar langsung ketika latihan. Alya sudah excited sejak tahu mau daftar!

Latihan Taekwondo dilakukan 2 kali seminggu dengan durasi 2 jam. 1 Jam pemanasan, 1 jam materi dan pendinginan. Waktu mendaftar, kami sebenernya datang niatnya cuma buat ngisi formulir, bayar, dan beli seragam. Tapi oleh Sabeum (Pelatih Taekwondo), diajak sekalian pemanasan dengan lari keliling lapangan. 

Alya langsung ikut dan diajakin kenalan gitu. Anaknya langsung mau dan ngicir keliling lapangan. Tapiii baru sampai 1 putaran, ternyata anaknya nangis kejer bilang capek. Sabeumnya berusaha bujuk dan nyuruh anak lain supaya nemenin. Alya makin kejer dong. Aku dan suami berusaha banget nenangin, peluk, bilang, "Alya pasti bisa!!!". Kami semangatin, ngiming-imingin cokelat. Iya salah, tapi kami sudah kepentok waktu itu. Alya bener-bener susah dikendalikan, sampai aku malu sendiri. Batinku cuma gini, "kayaknya aku terlalu maksa apa  ya? Jangan-jangan Alya enggak suka?"

Sabeum lalu memberi Alya seragam yang ukurannya pas banget. Alya dipakain seketika itu juga. Wajahnya mulai berubah jadi lebih bahagia dan bangga. Tapi begitu diajakin masuk lapangan lagi, waduuuh mlempem, Bund! Nangis! Dan akhirnya aku hopeless sambil bilang ke Alya, "Al... kalau kamu memang enggak mau, kita pulang aja. Mama kecewa"

Alya nangis kejer lagi. Suami enggak kalah bingung. Dia ini maunya apa. Terus... begitu mulai materi, seperti tangkis dan tendangan, Alya langsung kami ajak ke tim sabuk putih. Kami ikutan ke barisan dan semangatin Alya bareng-bareng. Ketika mulai gerakan tenangan, naaaah!!! Alya langsung semangat dan berubah drastis. Dia seakan punya power dan semangat buat latihan. ALYA AKHIRNYA MAU GAES!

Habis itu ya sudah, ketika istirahat dia berlarian sambil jingkrak-jingkrang seperti enggak ada apa-apa. Lucunya lagi, dia nyuruh kami minggir ke pinggir lapangan karena dia udah berani. Kami bangga banget dan geli lihat polahnya.

Sampai rumah, seragamnya enggak mau dicopot. Maunya dipakai terus. Sepanjang hari cerita dan dia hepi enggak kira-kira. Ditanyain capek, jawabannya enggak! Terus malam hari dia bilang ke kami, "Ma, Pa, Alya bangga sama diri Alya sendiri. Ternyata Alya bisa!" Kami terharu banget dan langsung peluk Alya. Alya juga ngaku sewaktu disuruh lari keliling lapangan, dia ini masih ngantuk, karena kebetulan sore itu posisi Alya masih tidur dan aku bangunin. Jadi, masih sempoyongan. Ya maafin ya Nak. Soalnya kami enggak mau telat hehe.

Yang menyenangkan lagi, setelah pada tahu Alya ikutan Taekwondo, ada 3 anak kompleks lagi yang ikutan. Alya makin seneng. Ini sudah 4 kali pertemuan dan anaknya enggak mau melewatkan 1 sesi pun. Kalau misalnya pas enggak bisa masuk, bakal ngambek saking semangatnya latihan. Ya semoga ini enggak awalan doang yah, semoga sampai besar dia bakal menekuni Taekwondo ini.

Ya sudah, ceritanya sampai sini dulu. Anaknya lagi hepi banget dan harus aku manfaatkan ini sebagai cambukan kami sebagai orang tuanya, agar semangat kerja biar Alya bisa kuliah dan menemukan bakat yang disukainya. Tugas kami banyak, les/kursus bermacam-macam kami anggap sebagai insight buat pilihan Alya ke depannya. Masalah akhirnya dia minat menekuni apa, nanti biar makin besar Ia tentukan sendiri. 

Yok semangat!

You May Also Like

0 komentar