24 HOURS CARE

by - October 20, 2018

Beberapa waktu lalu, aku bikin blogpost tentang: "Kalau kerja, anak gimana?" Lalu bikin lagi "Gimana sih kalau lagi berdua sama Alya?" Semua beneran aku jabarin buat kalian yang pengen tahu. Suami Istri bekerja sebagai digital nomad begini ada asiknya juga kok. Salah satu yang bikin kami santai dan tenang-tenang saja, ya karena kami bertiga ngerasa kompak mau gimana pun keadaannya. Solid dulu bruh, biar kalau ada masalah enggak lama-lama mikirnya.

Antara ngerasa bersyukur tapi juga iyaaa gampang stress loh kalau kebanyakan di rumah, jadi, walaupun freelancer tetep kudu pinter-pinter ngatur waktu. Oh enggak, aku enggak minta Tuhan buat rubah 25 jam per harinya, karena mustahil saja yakan hehe. Aku cuma pengen berbagi nih, kalau misal kami berdua ada di rumah bertiga, dalam 24 jam itu kami ngapain saja sih di rumah. Memangnya betah? Kalau bosen gimana? Pertanyaan kalian akan aku rangkum dalam satu blogpost kali ini. 


Jadi begini ya, sebagai gambarannya, aku sama Suami kalau lagi di rumah bareng, bukan berarti enggak ada kerjaan. Ini biasa terjadi tiap hari, tapi bukan berarti rutin banget sih. Ada kok saat-saat kami males-malesan terus keluar rumah seharian, terus enggak masak, dan lupa beberes rumah. Pokoknya mah bebas, wong tinggal bertiga doang ini. Hehehe. Rutinitas yang akan aku tulis ini cuma sekedar kebiasaan kami secara umum. Di rumah kami, mau weekdays atau weekend kayaknya sama saja deh. Ya kalau bukan karena Alya sudah sekolah, mungkin kami enggak bakal kenal yang namanya tanggal berapa. Kami lebih mengenal dan akrab dengan hari di mana kami harus nagihin invoice biar cepet cair (jujur amat, tagihannya seret ya?).

Kami tiap hari kalaupun enggak ada orderan, ya cari-cari kerjaan. Contoh gampangnya, Suamiku tetep rajin ngikutin kontes desain dan juga isi stock desainnya di situs-situs microstock. Nah, kalau ada orderan, yang dinomorsatuin bakal orderannya duluan. Itupun pakai waiting list dulu dan kasih deadline sendiri biar kerjaan enggak numpuk jadi beban. Sementara aku kalau enggak ada gawean nulis naskah, beralih fungsi jadi blogger. Gampang loh menilai aku lagi sibuk enggak, yea, hanya dengan lihat blogpostku tiap bulan, terjawab sudah kan?

Nah, setiap hari, Suamiku bangun lebih pagi daripada aku. Loh kok? Bentar jangan emosi dulu, simak sampai habis, nanti bakal nemu jawabannya di penghujung acara (apeu).

via GIPHY

Oke, sampai mana tadi, ohiya, Suami bangun subuh. Buka-buka email, cek kontes yang di rating, garap revisi, sampai riset buat ide baru. Tergantung tingkat urgensinya tadi. Aku enggak begitu tahu dan memang enggak maksa buat tahu juga sih, karena dia lebih mood mengatur kerjaannya sendiri. Alias kalau aku crewet banyakan ngepush buat dapetin uang, dia bakalan buyar moodnya seharian. So, aku bangun tidur beberapa saat setelahnya, baru aku nanya tipis-tipis "ngerjain apa yang?". Di sini dia bakalan ngomong progressnya, apa saja yang akan diselesaikan, hari ini ada waktu luang enggak, sampai ngasih tahu kemungkinan fee yang akan cair. Tugasku cuma akan mengingatkan, terus nyemangatin kalau sudah mulai loyo. Pokoknya, pagi-pagi sering buat diskusi. Karena kalau malam hari lebih sering sudah capek terus ketiduran hahaha.

Ketika aku sudah bangun itu, aku ngobrolnya sambil ngerjain sesuatu juga, tapi yang urusan dapur dan bersih-bersih. Kadang saking berisiknya, Alya jadi ikut kebangun, tapi dia biasa nonton TV sambil nunggu air mateng sih. Oiya, kami masaknya gantian, kalau aku lagi selow, ya aku yang masak, dan sebaliknya. Sesadarnya saja. Misal lagi banyak kerjaan dua-duanya, ya beli lauk. Kalau lagi enggak sibuk dan banyak duit, ya makan di luar hahaha.

Jam-jam prime time kami sama kok. Jam 6. Biasanya aku sudah berubah jadi wanita ekstra. Nyapu sambil nyuapin sambil ngepel sambil siapin bekal Alya. Bisa kok, karena yaelah semua ibu juga gitu kan hehehe. Suamiku biasanya mandi duluan karena aku masih sibuk beres-beres. Baru setelah aku kelar bebersih rumah, aku mandi dan Alya siap nunggu di depan.

Aku nganter Alya sekolah jam setengah 8, kalau enggak ada deadline, ya aku tungguin sampai rampung. Alya masih sering drama di sekolah, masih kudu ekstra jagain, pagi tadi saja dia berantem sama temennya cuma gara-gara diserobot baris berbaris. Repot banget deh, gitu saja jadi masalah. Padahal habis itu ya main lagi kayak biasa. Anak-anak yakan cin!

Alya kelar sekolah jam setengah 10. Kadang jalan-jalan lewat desa dulu, kadang ngemil dulu, atau kadang minta dianter ke rumah eyang. Kalau dititipin ke rumah Mama, gampil lah, kerjaanku bakal cepet kelar. Beres-beres rumah juga lebih gampang. Nah, kalau dia ada di rumah seharian, waaah ini, kami kudu ikhlas bener-bener gantian ngajak main. Anaknya heboh sih, jadi dia kudu banyak kegiatan, enggak bisa yang disuruh diem sendirian baca buku, nonton film, atau mainan sendiri gitu. ENGGAK BISA!

Mana kalau siang anak-anak di komplek enggak pada keluar rumah pula. Mostly masih pada sekolah karena full day. Di sini aku atau Suami kudu pinter-pinter nih ajakin dia mainan yang kreatif, misal kayak bikin prakarya atau ngecat apa gitu. Kalau enggak ada kegiatan, dipastikan akan rewel.

Kalau Alya moodnya enak dan makannya kenyang, Alya tidur jam 11 an. Mentok jam 1 an lah. Seingatku sih, Alya belum pernah enggak tidur siang, kecuali mungkin kalau lagi jalan di luar. Eh, itupun tetep tidur loh walaupun bentar. Nah, Alya tidur siang ini sangat krusial, terlebih yang pakai adegan minta dikelonin. Karena dapat dipastikan, aku atau Suami pasti ikutan tertidur di sebelahnya. Untungnya, Alya sekarang sudah bisa tidur sendiri. Buntungnya, aku sama Suami enggak bisa curi-curi waktu tidur siang (eh gimanaaa).

Baca juga: Mendisiplinkan Anak Tidur

via GIPHY

Kalau Alya tidur, ini kesempatan aku buat mengerjakan sesuatu. Misalnya setrika, atau lipat-lipat baju saja gitu, biar tumpukan jemuran kering jadi rapi. Tapi kalau lagi ada kerjaan naskah, aku pilih nulis saja dong ya hehehe. Karena buatku, setrika masih urusan nomor kesekian. Enggak yang urgent-urgent amat.

Suami di jam-jam itu masih kerja juga tuh. Dia kayaknya dari pagi sampai malem deh, paling diselingin masak di siang hari atau olahraga di sore hari gitu. Asiknya, di komplek kami, bapak-bapaknya juga demen olahraga, bisa pagi atau sore, tergantung jam selownya. Chit chat saja di grup, paling hitungan menit langsung pada keluar semua.

Alya bangun sekitar jam 2 atau 3. Kalau sebelum tidur belum makan, aku suruh makan setelah bangun. Baru habis itu mandi. Sore hari agak longgar nih, karena anak-anak komplek pada keluar rumah semua. Jam-jam ini aku pakai buat olahraga di rumah, via youtube dong apalagi deh? Hehehe. Mentok 1 jam. Jadwal Yoga ku tiap kamis malam, jadi tiap hari aku selang-seling senam sama squat ringan. Pokoknya asal ada waktu aku usahain olahraga.

Magrib kami di rumah. Makan bareng, ngobrol bareng, nggambar, baca-baca, ini moment kami kumpul yang bener-bener kumpul. Tapi ya teteup, ceritanya lebih ke tentang Alya. Alya ngapain saja, progressnya sudah sampai mana. Kalau ada yang dia belum bisa, kami kejar. Asal masih normal, kami enggak memaksakan.

Nah, yang jadi persoalan lagi, kadang kalau aku banyak kerjaan, aku masih kudu tetep nunggu Alya tidur dulu baru bisa serius nulis. Butuh konsentrasi tinggi kan ya, butuh suasana tenang kan ya, jadi ya tetep nunggu Alya tidur malem biar semuanya terselesaikan.

Suamiku tidurnya biasa bareng jam Alya tidur. Jam 9 kalau enggak ada temen yang mampir rumah, bisa dipastikan dia sudah tidur. Mau dibilang masa' desainer tidurnya gasik, ya enggak apa-apa. Daripada sakit kemudian, toh yang mau nanggung siapa. Memangnya situ? Kan enggak. Jadi ya bodo' amat deh tidur jam 9 an.

Lagian Suamiku sudah sering ngeluh soal backpain. Backpain ini bukan penyakit main-main, enggak enak banget deh serius. Bikin kualitas tidur enggak nyaman dan tenaga lemes karena kurang istirahat. Pola hidup Suamai waktu remaja otomatis kudu diganti sebelum terlambat. Ya, walaupun aku masih sering begadang, tapi kalau enggak ada kerjaan, aku tetep tidur jam 9 an juga kok. Siapa sih yang mau begadangan? Rhoma irama sampai sudah mengingatkan loh!


Misal nih kudu begadang banget karena lagi banyak deadline, aku usahakan jam 12 malam sudah kelar, dan besok siangnya aku kudu ikut Alya tidur siang. Seeebisa mungkin dalam sehari kecukupan tubuh untuk istirahat selama 8 jam terpenuhi. Alhamdulillah selama ini bisa sih ngatur jadwal kayak gini.

Oke, kalau malam hari aku enggak ada kerjaan, sebelum tidur, aku langsung bersih-bersih dulu. Semua piring, gelas, magic com, dan lantai aku bersihin dulu. Sampai siapin masakan buat pagi hari biar enggak terlalu keburu-buru. Suami sudah tidur aku mah biasa, wong paginya dia bangun lebih pagi daripada aku kok hehehe.

Nah, supaya lebih jelas, jadi aku petakan ya. Tiap hari kami punya waktu 8 jam untuk istirahat, 8 jam untuk bekerja sambil momong, dan 8 jam untuk mengerjakan pekerjaan rumah sambil momong juga. Sudah kayak shift-shiftan biarin. Yang penting ya memang itu kok fungsi bekerja di rumah. Kan niat awalnya biar bisa deket sama Alya. Sungguh alasan klasik bukan? Ala-ala orang tua millennials? Keren ya. Krik.

via GIPHY

Fiuh akhirnya nulis juga keseharian kami dalam satu blogpost. Hiahaha, kalau enggak karena ada yang nanya kalian ngapain saja di rumah, dan yes itu kadang bikin gondok, mungkin enggak jadi blogpost deh. Anyway, makasih loh buat yang sering nanya kabar kami, karena beneran, di rumah pun enggak jaminan bisa sesenang mungkin. Apalagi kalau situasinya enggak mendukung. Makanya kami sangat berusaha banget menjaga mood masing-masing. Serius, kalau ada salah satu yang enggak mood, bakalan bikin buyar semuanya. Enggak enak banget lah.

Kami berusaha juga setiap hari ada kegiatan keluar rumah, kami kan butuh ketemu orang, butuh interaksi. Entah itu keliling kota naek vespa, berkebun, nongkrong minum kopi, main ke tempet temen, renang, dan masih banyak lagi. Menghirup udara luar sering bikin aku relaks loh FYI. Bosen ah di rumah terus, bertiga terus. Iyaaa, memangnya bertiga terus enggak bosen apa? Sesekali butuh sendirian nih, biar kangen. Alya juga gitu kok, anaknya bosenan, mana kami kalau sibuk kerja suka buntu mau ngajak main apa. Jadi ketemu temen-temen sepantaran memang banyak gunanya.

Terakhir, kami lagi berencana tiap minggu keluar kota buat piknik. Ini berguna banget mengingat kami sekarang lebih sering di rumahnya enggak ketulungan. Oh please dong, besok ada syuting kemana gitu aku ikut. Hahaha. Enggak ding, aku beneran pengen piknik gitu sebagai agenda rutin, tanpa ada beban. Kalau ikut syuting mah bukan piknik ya, melainkan pelarian dari kejenuhan ketika di rumah saja. LOL, kayak hidup sudah banyak pengalaman saja.

Well, sekian dulu ya curhatnya. Enggak nyangka jadi segini banyaknya. Makasih buat yang berkenan baca. Barang kali ada yang masih mengira aku pengangguran atau kerjaannya ngepet, setelah baca ini, bisa tercerahkan. Peace yo!

You May Also Like

0 komentar