STAND FOR GOODNESS

by - June 25, 2019

Mendadak keingetan waktu nikah di tahun 2014 lalu. Memang sih, sudah lama banget, kalau mau diceritain juga sudah semacam basi, tapi aku tergugah atas nama "netizen kapan sih enggak julidnya?" Entah itu artis, entah itu tetangga, entah itu teman lama, orang kalau sudah hobby nyinyir ya enggak bakalan ngelihat siapa yang diomongin. Nah, waktu itu aku pun enggak kalah diomonginnya dalam level: 

Satu: "yosa kok enggak woro-woro sih nikahnya?"
Dua: "kok mendadak ngasih tahunya?"
Tiga: "langsung hamil atau sudah duluan isi?"

Level nyinyiran yang harus aku klarifikasi sekarang, ya gimana wong dulu aku enggak punya blog. Nulis di Facebook pun males kalau panjang-panjang. Well, here we go, aku mulai cerita saja.


Menikah bagi aku adalah suatu hal yang sangat sakral dan harus diperhitungkan matang. Kami selalu berpikir panjang (niatnya) karena enggak pengen ngrepotin siapa-siapa. Makanya, walaupun sudah kasih kode serius sejak awal pacaran, selama 4 tahun itu pula lah kami berusaha sekuat tenaga biar siap hati dan siap finansial. Standart orang-orang pacaran serius, kami juga enggak pakai main-main, kenalin langsung ke keluarga, sampai berusaha ngeblend dengan temen-temen satu sama lain. Kami bahkan sudah sering ikut kumpul keluarga, main bareng sama adek-adek, dan kalau liburan ya selalu saja ada yang ikut. Kalau aku ngomong pacaran kami enggak ada yang ditutup-tutupin, lebay enggak sih kira-kira. Haha.

Tapi yang namanya memang niat baik, hal itu kayak gampang saja ngejalaninnya. We enjoy every passed and believe that tommorow is always better. Nyaris enggak ada yang bikin kami mundur dalam hubungan ini, yang susah tuh cuma finansial deh kayaknya. FI-NAN-SI-AL tolong dibold, biar kita sama-sama stand up for love cenah.

Bohong deh kalau bilang enggak stress gara-gara finansial. Kami ketar-ketir banget mikirin total biaya nikah yang sederhana itu berapa, mengingat sanak saudara dan jumlah temen kok banyaknya enggak ketulungan. Dalam hati kadang mbatin juga, iya sih punya banyak temen dan saudara itu rezeki. Hubungan yang harmonis kadang merupakan pintu karir atau another way to get some surprises, apalagi yang mempercayai life is like a box of chocolate kayak aku gini. 

Beneran deh, kita enggak akan pernah tahu apa persis apa yang akan terjadi ke depan. Lha wong Dr Strange saja punya banyak kemungkinan-kemungkinan kok. Makanya, selama kita bisa memprediksi sesuatu, cara tergampangnya ya lakukan yang baik-baik. Apa yang kita tanam, apa yang kita tuai. Misal kita nandur benih buruk, ya jangan berharap banyak biar jadi baik. 

Sesimple itu sih sebenernya, tapi agak susah kalau disangkut-pautin sama sebuah hubungan. Mostly orang-orang sini gimana pun tetep pengen menyaksikan jalinan ke jenjang pernikahan atas nama kedekatan. Jadi box coklatnya biar pun kadang bikin kaget, but we have to enjoy every bite. Kalaupun ada yang bikin gregetan karena enggak sesuai sama prediksi kita, ya sudah, biarin. Selama mereka masih bisa diajak berhubungan baik, enggak perlu dipermasalahin. Tapi misal level nyinyirnya sudah bikin kita ambyar, don't be afraid to eliminate 'em.

Yang ini nih yang mau aku bahas dari tadi.

Nikahan kami tuh memang sudah direncanakan tahun 2014. Sekitar akhir april, Suami sudah nekat nembung ke Papaku, kalau hubungan kami benar-benar serius. Serius dalam artian, rencana pernikahan akan berjalan dalam waktu dekat. Jadi, kami bertekad akan menikah dengan usaha dan jerih payah berdua. Ya paling enggak tunangan dulu saja gitu di tahun ini, buat mengikat satu sama lain, karena hubungan kami sudah lama, plus sudah mentok mau gimana. Kami memang enggak mau nunda lama-lama juga sih, biar misal punya anak, umurnya enggak ketuaan. Segini saja sudah ngos-ngos-an.

Btw jangan bayangin nembungnya serius banget ya, karena waktu itu ngobrolnya santai banget di rumah. Plus mama papa kan masih bareng-bareng tuh, nah, rencana ini ditanggepin baik oleh mereka. Intinya, kami direstui langsung tanpa ada syarat apapun.

Kami berencana menikah sekitar bulan september 2014, dan dirayakan secara sederhana, mengundang teman-teman terdekat. Kalau ditotal, paling enggak nyampai 100 lah, sudah dipepet-pepet banget kok itu. Kami bisa punya rencana begitu, karena kebetulan habis ngurus nikahan temen. Dan nikahan temen itu sederhana banget, sesuai dengan bayangan kami. Mereka nikahnya sore, malam langsung acara. Acaranya di tempat makan unik di Semarang. Konsepnya kami bikin sesimple mungkin dengan make up, gaun, sampai dekor yang enggak neko-neko. Panitianya juga temen-temen sendiri, jadi ya meminimalisir pengeluaran biar enggak bengkak-bengkak amat.

Sudah tuh ya bayangannya kayak gitu, lalu si Pacarku ini (baca Suami), ngomong ke orang tuanya. Well, okay, orang tuanya kaget dong. Dikira akan menikah cepat-cepat dan langsung harus segera. Karena mereka mungkin berpikir kalau Suamiku ini orangnya sak dek sak nyet. Kalau minta kudu diturutin. padahal kan enggak gitu maksudnya.

Kadung salah paham, mertuaku langsung menghubungi keluarga besar. FYI, sekali lagi, hubungan kami enggak ada masalah dari awal, lancar-lancar wae, yang kurang lancar cuma apa? Ya fi-nan-si-al. 

Okay back to topic. Kebetulan juga nih, tahun 2014, keluarga besar suamiku yang mencar kemana-mana, bebarengan mau ada acara haul Eyang. Haul Eyang dilaksanakan pas ulang tahunnya Eyang sekitar bulan juni. Jadi ya gitu, saran keluarga, gimana kalau nikahan kita dibarengin sama Haul Eyang? Kan jarang tuh semua keluarga besar kumpul, belum transportnya, belum nginepnya kalau misal cari bulan lain. Paling enggak pas semua keluarga kumpul jadi satu, nah di situ tuh kami bisa milih tanggal yang baik.

Epic sih ini. Yang tadinya kami masih slow ongkang-ongkang mempeng cari duit, bisa leyeh-leyeh di kost, dan bisa foya-foya nonton film, mendadak semua langsung mak brek harus prepare ini itu. Yes, akhirnya disepakati kami nikah di bulan juni 2014, dengan persiapan hanya 2 bulan. OYE!

Kalau boleh sambat, bagian yang paling bikin ngos-ngosan adalah, ini tuh kan nikahan ya, kami saja belum tunangan, belum ada ketemuan masing-masing orang tua yang formal. Nah, gimana ini rundownnya? Kan enggak bisa yang langsung nikah, harus ada 'ndodok lawang' dulu gitu buat permulaan.

Pada akhirnya, semua acara, termasuk tunangan, termasuk rembugan soal tanggal, dijadiin satu hari, seadanya siapa keluarga yang sudah datang. Mertua dan adek-adek ipar sudah pada di Jogja semua, kalau keluarga yang lain kayak tante-tante, kebanyakan masih di Kalimantan. So, dari keluarga Suami, tetuanya ya mertua. Habis itu kami langsung nentuin tanggal, bayar tukon, dan rencana tempat nikahan. Seperti rencana semula, nikahan akan tetap berlangsung sederhana. 

Malam nikahan, aku malah asik ikut loading properti dekor di Magelang. Sementara Suami, sibuk nyetak foto buat dipajang di depan. Kalau katanya orang menikah harus dipingit, kami enggak. Kami capek luar biasa harus nyiapin ini itu sendiri. Karena gimana lagi, waktunya mepet boss. Oh iya, kami juga desain dan cetak undangan sendiri. Bagiin sendiri. Serba DIY alias keterbatasan dana juga.

Dengan segala keterbatasan itulah kami pun mengundang keluarga dan teman terdekat pada pernikahan tanggal 21 Juni 2014. Undangannya membengkak jadi 200 karena please susah juga ternyata mepet-mepetin jumlah orang. Ini saja enggak pakai ngundang temen kantor mama, enggak ngundang orang kampun se-RW, atau ngundang temen-temen sekolah. Buat yang pernah ngalamin, kita sama-sama tahu lah ya, gimana repotnya. Nah yang enggak tahu dan enggak mau tahu? 

Inilah yang kemudian jadi pertanyaan level pertama tadi "Lho yosa nikah kok enggak undang-undang?"

Memang enggak banyak yang tahu soal rencana pernikahan kami ini. Paling cuma segelintir dan itu temen yang deket-deket saja. Kami beneran enggak mau merepotkan siapapun, termasuk ikut mikirin gimana solusinya. Karena dalam keadaan kepepet seperti itu, kebanyakan solusi malah bikin enggak jadi-jadi. 

Hal kedua yang terjadi setelah pressure dari orang-orang yang ngerasa enggak dianggap gara-gara enggak diundang, adalah, aku kemudian langsung hamil. Hamilnya sih bikin senang, jelas. Life is so wonderful tentunya. Tapi, di sisi lain kehamilanku pun jadi omongan juga. "Baru kemaren nikahnya kok langsung hamil sih?" Kemudian quote diralat: Life is so hard, ternyata ya!

Buat yang mau tahu saja, waktu aku nikah, aku lagi datang bulan. Malam pertamaku diisi dengan mengambil tusuk konde satu-satu, keramas rambut yang njebobok, dan menyisirinya supaya rapi kembali. Beneran yang sampai malem banget sambil cekikan berdua lho itu. Enggak ada adegan ranjang gimana-gimana, kami sudah capek sama konde, dan seharian penuh pakai kebaya.

Makanya, heran juga nih sampai ada yang bilang aku isi duluan. Wong tahu keadaannya ada enggak. Ya walaupun enggak di depanku, tapi kan suara itu tetap sampai ke telinga. Dan sakit juga lho boss.

But as time goes by, omongan-omongan itu menguap dengan sendirinya karena enggak aku tanggepin juga sih, ngapain. Setelah nikah, waktuku selalu banyak tersita buat hal-hal yang penting. Ya kerja, ya ngurus rumah, ngurus janin, bahkan sampai saat ini Alya sudah berumur 4 tahun pun, badan jarang leyeh-leyeh lagi. Ya ada sih waktu buat istirahat, tapi sekali leyeh-leyeh santai keseringan, puyeng juga mikir cicilan hahaha.

Nyambung ke omongan orang tadi ya. Di sini aku enggak mau ngasih petuah ke orang yang hobby nyinyir. Yang aku kuatkan justru kalian lah orang yang punya cerita mirip seperti aku gitu. Entah itu dinyinyirin soal hamil duluan, atau juga dinyinyirin soal lain yang relate sama kehidupan kalian.

Trust me, satu-satunya cara buat nanggepinnya adalah dengan tidak menggagasnya sama sekali. Iya bener, masuk ke hati. But we need to understand bahwa dunia punya beragam karakter orang. Ibaratnya aku lagi nulis skenario nih, enggak asik kalau enggak ada gimmick, enggak bakal jadi cerita kalau enggak ada konflik. Semua itu berpola kok. Jadi ya, dalam tahap penulisan skenario, yang perlu dibikin awal-awal salah satunya adalah karakter. Gimanapun juga peran-peran antagonis akan selalu dibutuhkan. Bukan buat dirinya, justru buat kita-kita yang protagonist begini ini nih supaya lebih sabar dan kuat. Beneran enggak bohong. Alur cerita ada 3 babak kan ya, mungkin kita lagi di klimaksnya nih. Belum nemu antiklimaks alias solusinya saja. Lagian ngapain takut ngadepin mereka, God is a da real director ya kan ya?

Selama kita punya niat baik, berusaha baik, dan selalu berpikiran positif, insyaallah akan selalu ada saja nemu jalannya. Buat diri kita sibuk akan kehidupan yang berwarna, sehingga kita enggak punya waktu untuk menanggapi hal-hal negatif di sekitar kita. 

Well you, hang in there, we stand together for good.

You May Also Like

1 komentar

  1. Wah sama ya mba tahun nikah kita. Cuma kalau aku bulan oktober nikahnya. Kalau soal nyinyir kayaknya udah marak ya mba. Makanya karena aku takut keceplosan nyinyir jdi aku lebih sering diam dulu sebelum ngomong. Alias mikir dulu hahaha. Kadang klo pulang aku suka evaluasi diri lagi. Tdi pas ketemu temen2 ada nggak ya yg kata2 aku nyakitin orang. Suka takut soalnya

    ReplyDelete