FASE ANAK SOK DEWASA

by - July 16, 2020

Rasanya sudah lama enggak ngomongin Alya. Selain fokus-ku lagi konsen ke kerjaan dan masalah beauty-beauty-an, aku juga nganggep Alya ini sudah enak diajak kerja sama. Umur 5 tahun itu sudah ngerti Bapak Ibunya kerja, sudah ngerti kerjaan utama orang tuanya, sudah bisa main sendiri, apa-apa sendiri, sampai kalau ada masalah dengan teman-temannya pun dia bisa menyelesaikannya sendiri.  Iya, pandemi ini melahirkan sebuah masalah baru: Alya berada pada fase anak yang dewasa. Wait what? Ini masalah enggak sih sebetulnya? Aku mau curhat ya!


Sejak pandemi, Alya school from home. Semua pembelajaran via daring dan diberikan tugas tiap hari lewat whatsapp. Karena masih TK, aku anggap semua pembelajarannya masih cincay, enggak membebaniku, dan enggak bikin Alya tertekan. Nyaris tiap pagi, tiap habis diberikan materi, langsung aku suruh anaknya belajar dan sesegera mungkin bikin laporan ke Guru. Hal ini juga mempermudah aku kerja, soalnya kalau makin ditunda, aku makin lupa.

Satu-dua bulan aku lalui dengan mudah, namun memasuki bulan ketiga, anaknya bosan, dan sudah mulai keluar komplek lagi. Tiap pagi, siang, sore, tiap hari, sampai aku kudu teriak-teriak kalau nyuruh dia pulang buat makan sama mandi. Pokoknya dibenaknya hanya main-main-main! Main tuh asyik, seru, banyak teman bikin happy. Begitu sampai rumah baru sambat, yang capek lah, sakit perut lah, sakit gigi lah, sakit mata lah. Wes jan, lupa daratan. Rumah bagai numpang istirahat. 

Alya itu temennya banyak, bisa main dengan siapa saja. Mau cowok, cewek, usia PAUD sampai SD. Kalau dia merasa nyaman, ya sudah, bakalan bisa main dengan aman. Jarang dia nyalahin duluan, tapi begitu disalahin, waduh, bisa ngelabrak! T.T 

Sebenernya ini ajarin aku juga sih, karena aku pengen dia bisa speak up apapun dan menghindari memendam sesuatu. Speak up nya sudah yes, tapi ngontrol emosinya yang belum. Ekpresif sih, tapi mau ekspresi senang ataupun marah, juga semua diluapkan dengan percaya dirinya. Nah ini nih, yang mungkin jadi dasar kenapa Alya sok dewasa dan nyambung ke siapa saja yang ada di dekatnya. Kalau waktu masih kecil aku minder karena Alya ngak ngek sama siapa saja orang yang dikenalkan, maka sekarang ini beda, Alya bisa membaur bahkan sama temen-temen kantorku, sampai demen ikutan meetingSo, welcome to the club, fase dewasa dan bikin anak punya banyak alasan.

Fase sok dewasa ini ada baik dan efek malesinnya. Ketika dia baik, dia akan berlagak manis dan paham kondisi. Maksudnya, sometimes ketika aku capek, Alya ini tiba-tiba dateng mijitin dan beres-beresin mainan tanpa diminta. Kalau aku masak, dibantuin. Lagi kerja enggak digangguin. Mandi ya mandi sendiri. Mau tidur enggak minta ditemani. Manis deh, beneran.

Tapii.. kalau ketemu bodongnya, waduuuw say! Dia berani debat. Kalau nanya harus dijawab. Kalau marah pakai ngambek masuk kamar. Dan anehnya lagi, sekarang lebih seringnya marah-marah sama Papanya. Padahal sejak kecil dia deket banget, anak papa, kesayangan cintanya.

Lalu masalah besarnya Alya apa sih? 

Biasanya soal pertemanan. Kadang ada saja yang gap-gap-an kalau di komplek. Kalau sudah main sama A, si B dicuekin. Nanti enggak tahu juntrungnya kemana, si B minta maaf ke A supaya bisa ikut mainan. Kata Alya sih, ini gara-gara yang gedhe-gedhe yang ngajarin. Kalau yang masih TK masih pupuk bawang dan ngikut-ngikut doang. Cuma ya gimana ya, hal ini ngaruh banget ke sikap Alya. Yang tadinya anaknya kalem dan enggak nyari gara-gara, sekarang efeknya di rumah jadi kami yang kena. Sampai kadang pakai melotot-melotot kayak pemeran antagonis di sinetron. Kalau sudah gitu, kami yang bingung , "Alya siapa yang ngajarin melotot gitu?" Anaknya cuma diem, nangis, lalu baru berani jawab ketika aku peluk. Jawabannya, "temen-temen Alya, Ma"

Eits, jangan salah sangka dulu. Sebagai orang tua dan juga Tante Yosa yang dekat dengan anak-anak kecil di komplek, aku sering klarifikasi sama temen-temen Alya dan ibu-ibu di sekitar komplek. Beruntungnya di sini, semua pada kompak. No baper-baper club, karena kami sebagai orang tua yakin sih, anak-anak seperti itu ya memang fasenya. Kudu diarahkan. Mereka bermain kan kadang enggak ada control orang tua.

Baca juga: Orang Tua Yang Baperan

Semua kompak bilang kalau terutama anak-anak cewek lebih sering gap-gap-an dan mempermasalahkan hal yang enggak penting. Enggak penting menurut siapa? Ya menurut kita sebagai orang tua. Bisa jadi masalah itu cukup bikin si anak merasa enggak nyaman, ngganjel, namun masalahnya mereka enggak bisa menyelesaikan dengan solusi yang baik. Mereka hanya bisa diam-diaman, marah, saling bully, saling enggak suka. Ya enggak usah anak kecil saja wes, orang tua juga ada kan yang seperti anak kecil haha.

Selama ini karena kami banyak kerja di rumah, Alya masih dalam tahap aman. Dia memang speak up. Mau di-bully juga dia berani. Tapi ya itu tadi, yang jadi soal adalah ketika sampai rumah. Sikap anehnya kebawa bahkan di depan kami yang enggak ada masalah apa-apa. Enggak sekali dua kali kami tanya Alya dengan baik-baik, tapi dijawab dengan ketus. Apalagi kalau pas ada masalah sama temennya, wah ya sudah, rasanya jadi salah semuaaa!!

Cara terbaik yang sering kami lakukan adalah menjalin komunikasi yang lebih baik lagi. Aku dan Suami juga sebisa mungkin enggak ikutan tinggi dan ke-trigger apa yang dilakukan Alya. Misal Alya marah, ya sudah, kami diamkan dulu. Kalau sudah selesai, marah dan nangisnya baru kami kasih tahu. Bilang gini mudah sih, tapi prakteknya yang cukup susah. Kadang kami pun juga ketrucutan marah dan akhirnya debat, sampai capek sendiri.

Nah, yang aku pelajari di sini, Alya itu anaknya gampang melupakan masalah. Jadi aslinya, dia bisa marah nih siang ini, nanti enggak sampai 2 jam bisa langsung cekikikan lagi loh. Like nothing happened. Bagus sih enggak dendaman, cuma dia kadang juga jadi lupa akan kesalahan dan cenderung ngulanginnya. Fiuh.

Masalah besar ini belum bener-bener beres sih. Masih banyak yang perlu kami perbaiki. Kami pengennya Alya bisa ngontrol emosinya. Kalau pas sekolah gitu, banyak manfaatnya juga untuk kami. Selain diajarin hal-hal baik, enggak bosen di rumah, juga dia ada rasa kangennya ke kami. Lha kalau tiap hari tiap waktu ketemu gini. Bisa jadi friksi.

Semoga kami bisa melalui semua ini dengan baik ya teman-teman. Pandemi memang bikin pusing semua sektor ya, bukan cuma ekonomi, tapi juga parenting kayak aku gini. Yok ah, kita strong, supaya virusnya keki lawan kita-kita.

You May Also Like

0 komentar