THE POWER OF SUPPORT SYSTEM

by - November 20, 2018

"Aku enggak bisa mengulang yang sudah terjadi. Satu-satunya cara untuk memperbaiki adalah bagaimana caranya supaya aku bisa bangkit dan berdiri lagi"


Hal yang baru aku sadari setelah berpuluh tahun lamanya, setelah aku memasuki fase berumahtangga, seakan membuatku balik ke titik 0 lagi. I've talked about this so many times, semoga kalian enggak bosan ya.

As you guys know, my parents divorced right after i gave them a granddaughter. Sebagai catatan, mereka bercerai tidak dengan baik-baik saja, bahkan sampai saat ini pun masih menyalahkan satu sama lain. Sedih loh, beneran.

Walaupun aku paham betul sifat kedua orang tuaku, dan ya, aku juga sempat meramal mereka pasti berpisah, tapi perasaan sakit yang bertubi-tubi enggak pernah bisa aku bohongi. I was totally broken hearted, man! Tapi pilihan mereka adalah yang terbaik, tinggal bagaimana aku harus siap dan bertahan. Mikirnya bertahan dulu, karena buat melangkah lagi susahnya bukan main.


Aku butuh waktu yang cukup lama untuk healing, mengelola emosi, dan terus-terusan meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini akan baik-baik saja. Capek juga sih, setiap hari kudu nangis. Mana aku ngerasa belum bisa berbuat apa-apa. Belum banyak yang bisa aku buktiin sama Papa Mama. 

Beruntungnya, aku punya suami yang sabar dan super care. Enggak kebayang, kalau waktu itu enggak ada support dari suami sendiri. Wah, bisa-bisa hancur sudah hidupku. Suamiku juga selalu berusaha untuk menjembatani hubunganku dengan mertua, hubungan orang tua sendiri dengan mertua, dan meleburkan semua pemikiran kami yang berbeda. Aku paham, ini jauh lebih susah. Enggak mudah baginya untuk menjadi perantara, tapi masalahnya, siapa lagi kalau bukan dia?

Jadi setelah menikah, kami berdua sudah benar-benar melek dunia. Kami belajar lagi soal komunikasi yang baik dan benar. Jika selama ini kami cuek, egois, sibuk ngurus diri sendiri, kini kenyataan ada di depan mata. Pengalaman ini melebihi segalanya.

Satu kesamaan yang kami punya, support system kami susah diajak kerjasama. Okay, lemme tell ya. Support system bukan hanya keberadaan saja, bukan cuma apa yang kami minta dengan mudah diberikan, bukan cuma mendikte apa yang harus kami lakukan. Tapi support system yang kami butuhkan adalah menyemangati kami berjuang untuk mendapatkan apa yang kami inginkan.

Support system memerlukan kekompakan dari seluruh anggota keluarga dan enggak bisa dilakukan dalam sekejap mata. Butuh proses dan treatment yang enggak main-main. Oh enggak, kami enggak menyalahkan siapa-siapa kok, nyatanya kami juga belajar semua dari orang tua. Kami hanya sering kesal dengan keadaan, mengapa kami enggak bisa lurus-lurus saja. Huff. Rumit bener ya!


Aku pernah ngobrol dengan beberapa temen yang bagus banget mannernya. Dia juga bisa percaya diri dan bertanggung jawab dengan apa yang dipilihnya. Enggak sedikit loh yang bilang bahwa mereka punya support system yang bagus. Baik itu dukungan dari orang tua maupun orang-orang disekelilingnya. 

Memang, rata-rata orang bilang kalau sudah ada uang kita tenang. Tapi jangan salah, kadang uang bukan jaminan buat penentu kebahagiaan orang.

Salah seorang teman pernah cerita, dia bukan dari keluarga berada. Hidup mereka sangat sederhana. Namun sejak dia kecil, orang tuanya selalu mengajak anak-anaknya untuk terbuka, untuk mengobrol dari hati ke hati. Sebisa mungkin menciptakan kondisi rumah yang nyaman dan hangat. Karena toh enggak ada yang bisa mereka dapatkan kecuali kebersamaan itu sendiri. 

Misal mereka menginginkan sesuatu ya harus pakai proses berjuang dulu, enggak ada yang instan. Keadaan mengajarkan mereka untuk selalu bersyukur atas yang mereka dapatkan dan meraih sesuatu pelan-pelan. A happy news: kekompakan tersebut enggak berubah sampai anak-anaknya besar, sampai anak-anaknya keluar dari rumah, dan menjalani masing-masing hidupnya. Bahkan orang tuanya juga enggak mengejar mereka dengan pertanyaan "kapan menikah?". Orang tuanya enggak mau ngepush anak-anak mereka supaya sama dengan apa yang diinginkannya. 

Kini anak-anaknya tumbuh jadi anak yang dikenal dengan karyanya. Enggak kakak, enggak adek, semua kompak saling mendukung dan saling melengkapi. Beberapa kali aku melihat mereka liburan bareng, datengin yang sedang pameran, atau pulang ke rumah dengan hati yang girang. 

Anti mainstream sih sebenarnya. Aku yakin, tipe orang tua seperti ini jarang banget ditemukan dan malah bisa jadi perdebatan. Hanya saja kita bisa memetik pelajaran: kita bisa menciptakan support system bukan dengan uang semata. Banyak hal lain yang bisa kita kejar. Kenyamanan salah satunya.

Serius, rasanya iri kalau sudah begini. Aku enggak pernah bisa mengobrol enak dan santai dengan orang tuaku sendiri. Seakan ada gap yang memisahkan dan bikin aku enggak bisa terbuka. Mungkin karena aku terbiasa diam dan enggak didengarkan. Mungkin aku sudah lama tertekan. Mungkin aku enggak percaya diri dan enggak bisa dipercayai sebagai pemegang keputusan. Banyak kemungkinannya.

Jadi ya sudah, percuma kan kalau aku selalu mikirin apa yang sudah terjadi?

Maka, aku dan suami bertekad untuk membentuk support system yang kuat. Dari mana dulu mulainya? Ya dari rumah.

Kami berusaha mendidik anak dengan baik. Kondisi di rumah diperbaiki dulu. Kira-kira apa yang enggak membuat nyaman, secepat mungkin diselesaikan. Karena menurut kami, kehangatan yang diciptakan di dalam rumah merupakan faktor penting agar semua anggota keluarga bisa menjalani kehidupan yang baik di luar.

Soalnya gini ya, misal di dalam rumah saja bermasalah, orang bisa loh mencari pelampiasan di luar. Bukannya keluarga itu dibentuk atas azas kesadaran? So, sebelum menikah, alangkah baiknya kita mengenali dan saling memahami pasangan. Jangan terus nanti menemukan ketidakcocokan di tengah jalan terus anak-anak kita yang jadi korban.

Support system efeknya jangka panjang. Kalau kita suka kekerasan, suka membenarkan diri sendiri padahal salah, dampaknya mungkin enggak sekarang, tapi nanti ketika anak-anak sudah dewasa. Anak tuh peniru ulung. Apa yang dilihatnya, akan direkam, dan yang terekam secara jelas dan menyakitkan, sungguh enggak akan bisa hilang. Sakit yang membekas sangat berbahaya. Ya aku sendiri contohnya. Di otakku muter-muter kejadian itu-itu saja. Kalau lagi senang bisa hilang, kalau lagi sedih keingetan. 

Aku enggak mau anak-anakku nantinya punya perasaan sama. Aku pernah cerita kan ya, aku sering minder, aku sering enggak percaya diri atas apa yang aku pilih. Aku bisa bangkit justru dari orang-orang disekitarku. Iya, teman bisa kayak saudara. Aku memilih mereka karena aku merasa nyaman dan mereka bisa mendorongku supaya lebih baik lagi.

Mungkin ada yang tetap bisa berkarya tanpa support system dari orang tua, mungkin ada yang menikah tanpa restu orang tua, mungkin ada yang memutuskan untuk jadi dirinya sendiri dan enggak ada dukungan dari siapa-siapa. Bagiku, ini akan berdampak pada kenyamanan diri kita. Bagaimanapun, diri kita ada berkat hubungan orang tua kita. Setidaknya, kita bisa speak up biar kita lega. Frontal ya, enggak apa-apa deh. Toh benar, komunikasi adalah yang utama.

Nah, kalau support system enggak memungkinkan untuk diri kita, jalan satu-satunya untuk bertahan ya dari orang-orang di sekeliling kita. Yang paham betul apa pilihan kita. Yang mendorong kita untuk maju. Yang merangkul kita kala kesusahan. Yang meyakinkan kita untuk bisa menjadi diri sendiri.

Ibaratnya, jika rumah kamu rusak, rumah kamu hancur, kamu bisa cari tempat lain untuk berteduh sejenak. Dan itu enggak apa-apa selama hubunganmu dengan sang pemilik rumah baik-baik saja. Setelahnya, kamu bisa bangkit dan pelan-pelan membangun rumah barumu. Dari yang hanya bertahan, pelan-pelan kamu maju ke depan. Percayalah, jalan masih panjang.

Aku bukannya menyalahkan orang yang bercerai, sebab aku percaya semua pilihan telah melalui mediasi panjang. Saranku nih, buat kalian yang punya cerita mirip kayak aku: jangan melulu menyalahkan keadaan, segeralah bangun dan raih apa yang kamu citakan. Yang perlu diingat adalah, usahakan pilihan kita adalah pilihan terbaik tanpa merugikan siapa-siapa. Jangan terus sudah dipercaya tapi malah enggak bertanggungjawab ya kan ya.

Semoga kita selalu sehat jiwa dan pikiran kita. Can i hear ameeen?

You May Also Like

7 komentar

  1. Orangtuaku juga bercerai, mereka pisah saat aku kelas 3 SMA. Saat itu banyak kata2 buruk yg terlontar oada anak2 karena perceraian itu.
    Efeknya aku nyalahin banyak orang.
    Tapi bersyukur bisa dpt dukungan dari sahabat yg sudah lama menjadi yatim.. Lalu tersadar.. Tetap harus cari hikmah dan berpikir positif..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, kita enggak bisa berlama-lama larut dalam kesedihan ya :)

      Delete
  2. Kedua org tua ku dulu juga sempat pisah. Nggak sampai cerai krn ternyata pada akhirnya diceraikan oleh maut :(
    Intinya gimana kita berusaha melupakan dan menerima, berdamai dgn kenyataan ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Peluuuk*
      Setuju mbak, dari diri sendiri dulu harus bisa menerima kenyataan dan menjadikan pelajaran :)

      Delete
  3. cerita yang bagus , memang komunikasi penting ya dan ahrus komunikasi yang memecahkan masalah dan itu butuh banyak belajar

    ReplyDelete
  4. Terenyuh membacanya. Walau saya nggak punya kisah yang sama, tapi ada kejadian yang mirip juga. Pada akhirnya saya berusaha memutus rantai aja mba. Kalau ada dari orang tua yang nggak baik dan menyakiti hati kita, tapi kita nggak bisa merubahnya. Setidaknya kita tidak melakukan hal yang sama untuk anak-anak kita ^_^ tetap semangat, Mba. Keep inspiring.

    ReplyDelete