BEKERJA ADALAH JIHAD

by - May 10, 2017

Hae, timeline sosial media aku kok isinya Pak Ahok semua sih? 
Duh aku ketinggalan ya? 
Ish sorry ya, aku kan orangnya kepoan jadi aku up to date donk. Wong aku ngga usah kepo aja, kamu udah shar sher shar sher berita kok. Gimana aku ngga terpaksa baca, walopun aslinya aku juga guatel banget mau ikutan komentar. Tapi yawda deh, demi image impian bernama Raisa, seperti biasa ajalah, aku nulis curhat baper aja hari ini.
***
Sudah 3 hari ini, Alya sakit batuk disertai pilek, tapi Alhamdulillah, anaknya masih aktif, ceria dan bedigasan seperti biasanya. Soal penyebabnya ya aku mana tahu detailnya, bocahnya aja giras kayak gitu. Masa disuruh buang air kecil malah mainan air bak mandi malem-malem, keramas pula! Trus paginya, makan es krim habis sendiri. Benar-benar kemaruk luar biasa, turun siapa kamu hah? Ngga mungkin Papa ya? T.T
Kami memilih priksain Alya ke Dokter Narto karena posisi praktek sangat dekat dengan rumah. Sebelumnya, beberapa temen udah mewanti-wanti sih, kalo Dokter Narto ini orangnya galak, kurang komunikatif, ngga banyak omong, KETUS! Jadi, kamu kudu siap mental duluan, minimal supaya kamu ngga bawa perasaan. Sebenernya aku ngga ambil pusing juga, tujuanku yang penting Alya sembuh, udah, titik. Toh, apa sih salahnya tanya-tanya Dokter tentang penyakit dan obatnya. Hak aku donk!
***
Orang sering salah sangka akibat perang batinnya sendiri. Mau ngejudge orang langsung kok ngga kenal, mau ikut-ikutan ngga tau mana salah mana benar. Jadi ya, dimaklumi kalo ada yang komen asal dulu sebelum jabat tangan, kenalan. Sekarang kan makin banyak orang terlalu gegabah menyikapi sesuatu. Trus apa apa diviralkan supaya menjadi penting buat dipikir rakyat se tanah air. Kurang kerjaan bisa berakibat nyalahin orang secara berlebihan.
***
Abis daftar dan menunggu, Dokter Narto tiba-tiba muncul dari pintu lalu mempersilahkan kami masuk. Alya langsung nangis kenceng kayak tahu banget kalo mau diperiksa. Begitu aku masuk ke ruangan, Dokter ini nanyanya macam wartawan sambil nyatet tanpa perkenalan. Sungguhpun aku kudu gunakan dua kuping buat memilah mana suara tangisan Alya, mana suara truk tronton berjalan, lalu mana suara lirih Dokter Narto. Susah kan? Dokter Narto ngga peduli tuh, tetep jembreng nanya terus aja. Aku sempet mbatin, wah Dokternya galak nih, cina nih, nyebelin nih, kafir nih. Udah pasti.
***
Kita sibuk memaksa orang agar seiman demi memuaskan emosi.
Kita sibuk membela hati nurani tanpa sadar politik meracuni.
Kita sibuk menjunjung tinggi kitab suci dan agama harga mati.
Kita sibuk tutup mata pada hasil kinerja nyata pada bumi pertiwi.
Kita sibuk berdusta dan salah arti terhadap kata pribumi.
Kita sesungguhnya sedang melukai diri sendiri.
***
Aku tahu banget blio ini Profesor, terkenil, bahkan tetanggaku yang perawat bilang kalo Dokter Narto teliti dan titis dan memilih obat. Aku ngga mau donk kelihatan bego di depan seorang Profesor? Maka dengan semangat pancasila, setiap pertanyaan Dokter Narko aku jawab lantang, perintahnya aku laksanakan dengan sigap. Mau tau rasanya? Rasanya bener-bener kayak pramuka, brosist. :(
***
Satu orang berprasangka, ditularkan ke orang berikutnya, seakan persepsi pribadi diamini menjadi mufakat. Ealah, hidup kok gini gini amat, belum juga tahu kondisi, udah ciut nyali. Udah deh, telusuri dulu salah atau benar, baru bisa kamu bagi.
***
Etapi,
ternyata, aku salah sangka. Ketika aku bertanya, Dokternya nyambung diajak ngobrol, logkhis, asik walopun kaku. Blio tanpa basa basi menjawab tentang penyakit asma yang diderita Alya. Gimana cara mencegahnya dan apa yang kudu aku lakukan. Hasilnya, Alya cuma diresepi 1 obat batuk dan 1 stimuno, udah ngga banyak-banyak.














Beda sifat, beda pendapat.
Aku maklum, blio sudah sepuh, dan mengobati pasien secara cepat dan tepat paling utama. Kalo kita diam, ya blio makin diam, karena mungkin blio anggap kita udah tahu. Kalo kita rajin bertanya, ya blio menjawab dengan hati terbuka. Jadi komunikasi dua arah adalah tergantung pada siapa saja orangnya, topik pembahasannya, dan paham tidaknya. Aku benar-benar salah sangka.
***
Ketika tahu anak sakit dan ngga sembuh-sembuh, kita kudu cepat tanggap dengan segera membawanya ke Dokter. Serahkan pada ahlinya, meraka cuma bekerja, tanpa melihat agama.
Kalo kita melulu mikir apa apa kudu seagama, ya pora biangannya. Wong sananya aja kerja kerja kerja, kok kita upyek mikirin perbedaan. Hasil kerja yang nyata dan banyak buktinya, malah justru dianggap berdusta. Asalkan seiman sekata, kerja nomor dua. Kamu emang nyinyir tiada tara.
***
Abis priksa dari Dokter Narto, kamipun makan malam di warung ayam penyet yang berada di sebelah persis tempat prakteknya. Ngobrol santai sambil nyuapin anak, membahas penyakit, obat dan rakyat. Hahaha, ngga dink, ngga kok.

"Eh ternyata Dokter Narto enak kok orangnya. Aku pikir bakalan krik krik"
"Ya karena orang sini tuh sering menyalahartikan tegas sebagai galak"

Bener juga kata suamiku weh, kadang orang terlalu sibuk menduga. Menjadikan sikap tegas bukan sebagai teladan, tapi adalah amarah yang sebenarnya semua orang takutkan. Tinggal siapa dulu yang lalu jadi kambing hitam.


Gimana orang mau percaya sama omonganmu kalo kamu sibuk menghujat? Katanya cinta damai, tapi komen sama kelakuannya malah lebih brutal.
Btw, Thank you facebook, tombol unfollow begitu berarti. Barangkali benar, kita terlalu terbuai atas asas mayoritas, lalu kita lupa akan keragaman Indonesia, lupa bahwa kita pancasila, memungkiri bahwa Tuhan itu Esa.
***

"Mbak, password wifinya apa?"
"bekerjaadalahjihad, mas."

Aku sama Suamiku bertatapan mata, pandanganku langsung berpindah ke pelayan warung ini. Oh semua berjilbab ternyata. Wah asik ya, mereka ramah banget walopun jilbabnya syar'i, melayani apa yang orang lain beli karena niat bekerja dari hati. Mencerminkan apa yang mereka yakini: Islam itu suci dan damai. 

Inilah benang merahnya.
BEKERJA ADALAH JIHAD.
Bekerja baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
***
Karena ngga mungkin ketika kamu belum kenal orangnya, tapi kamu membutuhkannya, lantas kamu bertanya apa agamanya.
Ketika kamu sakit dan ke Dokter, kamu pasti bertanya apa obatnya, bukan apa agamanya?
Ketika kamu seorang pelayan resto dan pelangganmu masuk, kamu pasti bertanya mau pesan apa, bukan apa agamanya?
***
Sip, masyuk.
Mau apapun pekerjaanmu, selama itu bertujuan baik, memberikan manfaat, adalah bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya.
Yeaaa, cakep juga ini quotesnya.
Makasih ya, gara-gara kamu sibuk menghujat, aku jadi banyak belajar, bahwa orang yang tegas bukan berarti galak. Orang yang ceplas ceplos bukan berarti menyesatkan. Dan orang yang korupsi kadang lebih mulia daripada orang yang 'salah kata'.
Tuhan Maha Mengetahui Segalanya.


Sekian, Yosa Irfiana melaporkan.

"Ada dua macam Tuhan. Pertama, yang menciptakan kita. Dan yang kedua, yang diciptakan oleh orang-orang sepertimu... Kau bisa melindungi Tuhan? Kau? Dunia ini sangat kecil. Dunia ini sangat kecil dibandingkan alam semesta. Dan kau, dengan duduk di dunia kecil ini, tempat ini, jalan ini, mengatakan kalau kau ingin melindungi Tuhan yang menciptakan alam semesta? Dia tak butuh perlindunganmu. Dia bisa melindungi diri-Nya sendiri."
- P.K. on P.K Movie.

Pak Ahok, aku tahu kamu tegar.

You May Also Like

0 komentar