KEMEWAHAN DALAM KESEDERHANAAN

by - May 06, 2017

Sebelum masuk rumah, barusan tetanggaku bilang:
"Mbak, jangan lupa cerita barusan ditulis ya?"
Aku cuma tersenyum sambil nutup pintu gerbang. Mikir, duh mau dibikin gimana nih, aku lagi ngga ada ide buat bikin script. Tapi otakku masih terbayang topik pembicaraan anget tadi, sayang banget kalo ngga aku bagikan. Ya, namanya juga blogger, musti ada konten konten yang selalu updet biar viewersnya ngga jeblok. Gitcu.

Tetanggaku, namanya Mbak Wulan, dia salah satu pegawai Bank BUMN yang tiap hari pulang pergi Magelang-Jogja. Udah jangan dibayangin capeknya, plis, nanti kamu capek sendiri. Berangkat jam 6 pagi dan pulang minimal jam 6 sore. Suaminya seorang pelaut, anaknya satu dan dimomong sama Ibunya. Kami deket, bukan karena tetangga depan rumah aja, bahkan seperti sodara sendiri.

Iya bener, Ibunya Mbak Wulan bahkan sering masuk ke rumah tanpa permisi, dan aku sering pula dikasih makanan padahal aku sudah masak lho buk, trus makananku dinomorduain sama Suami. Gimana sih ini, males kan? Hahaha. Iya, sedekat itulah kami.

Awalnya kami ngobrol tentang pekerjaan masing-masing, tentang usia yang mempengaruhi tenaga dan pikiran, tentang masa depan yang harus kami capai, dan tentang persaingan jual beli. Semacam berat memang, tapi ringan kok guys. Mana mau aku mikir berat malem-malem gini ha?

Sebagai Teller Bank di Unit yang segment customernya lebih banyak dari para penjual di pasar, bagiku, Mbak Wulan punya banyak cerita unik, lucu, asik. Dia cerita kalo banyak customernya yang pekewuh dan takut untuk dateng ke Bank. Jadi tiap hari harus jemput bola ke customer agar mereka merasa nyaman. Kemudahan yang dia tawarkan menjadi pengalaman berharga dari setiap cerita para customernya. 

***
Seorang penjual ayam yang kerjaannya memotong ayam, menimbang lalu menjualnya, dalam sehari dia bisa menabung Rp 700.000. Dibagi menjadi 3 buku tabungan, untuk dirinya dan anak-anaknya. Umurnya sekitar 35 tahun, dia adalah sarjana ekonomi di salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Memilih bekerja di pasar karena tergiur perputaran uang.

Seorang Ibu penjual sayuran keliling, menjajakan dagangannya memakai sepeda onthel. Dia ingin membelikan motor untuk anaknya, ditawarin kredit ngga mau dan memilih menabung Rp 100.000 setiap hari. Baginya, lebih nyaman menabung daripada berhutang, simply, blio takut ngga bisa lunasinnya.

Seorang pengrajin di kasongan, ingin membeli lahan untuk masa depannya. Blio setiap hari setor tunai minimal Rp 500.000. Stylenya biasa aja cuma kaos sama sendal udah paling hore. Tapiii... hasil kerajinannya sudah sampai mancanegara, jadi ya ngga heran juga sih sehari bisa setor segitu. Apalah aku ini cuma remahan grabah kasongan pak!

Dan orang lainnya,
lalu yang lainnya.
***

Aku bisanya ngangguk angguk dan iya iyain aja sambil bengong dan meratapi nasibku. Pointnya, Mbak Wulan berhasil menegurku keras, bahwa hidup harus dimulai dengan bangun pagi. Hahaha. Yha Mbake.
Becanda aja sih.

Gini lho, baju merek harga mahal itu belum tentu merepresentasikan orang tersebut hidup aman damai sentosa.
Bermobil itu belum pasti nyaman dan terlindungi dari marabahaya.
Punya apartemen ngga menjamin bahagia di masa tua.

Dan yang terpenting, hidup bukan melulu soal kemewahan, dan kebahagiaan bersumber pada pikiran kita. Sesederhana para penjual di pasar yang Mbak Wulan ceritakan.

Mereka menabung untuk berinvestasi,
mereka menabung untuk membeli tanah,
mereka menabung untuk biaya sekolah nanti.

Aku jadi flashback sekitar 6 tahun yang lalu, di mana aku masih bekerja di production house. Waktu itu sedang membuat program drama reality tentang kehidupan masyarakat kecil yang setiap hari harus berjuang meraih mimpi. Dalam menentukan subyek cerita, kami melakukan survey dan memilih agar kisahnya bisa dikemas secara apik. Ngga ada yang dikurangi, malah sering dilebih-lebihkan. Atas nama membentuk visual yang lebih tajam dan mengena, tidak punya rumah, berpenghasilan dibawah rata-rata, dan hidup di lingkungan bawah adalah stereotype bahwa orang itu miskin. 
Sorry, ini frontal tapi begitulah adanya. Kamu kudu maklum.
Kami harus mendatangi pemukiman kumuh, bergelut di pasar, dan tak jarang mendekati para nelayan. Aku udah lupa seberapa banyak orang yang kami wawancara, tapi kami banyak menemukan fakta: bahwa orang yang kami anggap kurang, justru disitulah pembuktian kalo mereka lebih daripada kita.
Salah satu contohnya:

Seorang Mbah tua yang berjualan pecel pincuk di belakang Mal terkenal di Semarang, dandanannya kebaya dan jarik seadanya. Kadang jualan kadang ngga, pokoknya sesukanya. Pelanggannya orang berdasi. Dalam sehari jualan, blio bisa memperoleh untung Rp 300.000. BERSIH. Sampai sekarang masih, awet enom. Mantep!
Dibanding dengan,
Temanku buka cafe 24 jam nonton plus wifi plus makanan ala europe lengkap ama desain interior yang fancy. Doski ngumpulin modalnya aja sambil ngutang. Dia punya pemikiran kalo pendapatan cafenya udah sambil jalan ajalah, yang penting cafenya dilirik dulu baru dapet pelanggan. Toh nyatanya pelanggannya cuma minum kopi sambil sedot wifi.
Belum ada setahun cafenya tutup.

Yha, menghela nafas dulu sana.

Sebenernya kasus ini cukup menohokku mengingat impianku yang banyak tertundanya daripada terealisasi dengan sempurna. Beli barang buat bertahan dari gengsi. Pamer sana sini demi menuhin IG.
Ah, aku jadi malu sendiri.
Lebih mementingkan nafsu hati demi memperoleh eksistensi. Kemaren, nangis nangis cuma karena ngga bisa nonton konser Coldplay trus baper karena banyak yang bikin live reportnya. Duh buk, rasanya kok jadi muluk-muluk gini?

Trus,
apakah aku masih bangga minum kopi starbuck tapi rumah masih ngontrak? 
Apakah aku nyaman belanja tinggal gesek kartu di supermarket ternama? 
Apakah aku bahagia mengendarai mobil yang bahkan belum lunas sekalipun?

Letak kebahagiaan yang mumpuni justru berasal dari kesederhanaan yang kita ciptakan. Belajar nrimo ing pandum tapi terus berjuang meraih harapan. Apalah arti bermewah-mewah kalo kita terus menutupi 'kekurangan' diri?

Jadi, moral of the story, siapa sih yang layak dianggap masyarakat yang tidak mampu? 
Siapa donk yang pantas menyandang gelar masyarakat menengah kebawah?

Kesederhanaan yang mereka tawarkan justru mengajarkan bahwa materi yang kita junjung tinggi cuma sebatas halusinasi.
Mereka sanggup beli tanah dengan keringat sendiri dan lebih mewah daripada kami yang cuma bisa kredit sana sini.
Kami bisa naik lift ke gedung tinggi tiap hari dan melihat mereka yang berjualan penuh peluh di bawah sana yang sesungguhnya sedang menghitung laba.
Mereka toh tidak perlu dikasihani, justru akulah yang harus mengkasihani kita sendiri. Huhu. Sudahlah akui saja ya yos. Ngga ada yang nyorakin kok, paling ngetawain aja, udah.

Mungkin ada benarnya kata temanku,
orang berpakaian mewah kadang bukan untuk menghargai dirinya sendiri tapi untuk menutupi kekurangan salary. 
HAHAHA.
Nampol.

Oh ya, ini ada salam senyum dari para penjual di Pasar Salatiga. Foto ini sudah lama sih, aku ambil sekitar tahun 2011 waktu sedang shooting drama reality. 
Dan foto ini pernah aku ikutsertakan di pameran Srikandi ISI 2011 dengan judul "Meminjam Senyuman"
Aku sengaja meminta mereka tersenyum agar kebahagiaan itu tersalurkan secara sederhana.







Aku harap kalian paham.

You May Also Like

18 komentar

  1. menarik ceritanya dan bikin aku merenung banyak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Mbak Tira, salam kenal ya :)

      Delete
  2. karena kita terlalu mentingin gengsi ga sadar hal ini nyebabin boomerang bwt kita sendiri. makasi cerita inspiratifnya mba 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak. Bener banget aku jadi merasa minder kalo kayak gini. Hehe.

      Delete
  3. Ceritanya menarik foto-fotonya juga. Suka banget mba Yosa. Human interestnya dapet..
    terima kasih sudah menginspirasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih juga mbak, itu fotonya aku jepret bener-bener pas lagi hectic shooting di tengah pasar Jadi mungkin feelnya lebih kerasa hehe.

      Delete
  4. Ya Allah mataku jadi sembap :') Haha iya susah banget lepas dari jeratan bermewah-mewahan. Biasanya karena sensasi pengakuan dari orang lain itu bikin nagih. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huhu aku juga meratapi diriku sendiri mbak, udah yaqin aja susah banget untuk belajar sederhana.
      Tapi aku terus belajar dan berusaha karena kebahagiaan bukan karena materi semata :')

      Delete
  5. Tulisanmu dan senyuman mereka mengalihkan duniaku mbak.. lagi mbak yang kaya gini! hehe suka banget! Salam kenal mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa, makasih banyak ya mbak, aku jadi GR ini hehe.
      Salam kenal juga :)

      Delete
  6. Haa iya aku jg sering ktmu org bgni, ob di kantorku yg dulu punya kebon di kampung dr hasil kebon bs kuliahin anak smpe sarjana tanpa ngutang cm ya itu hrs tahan pke sepeda trs ga prlu pke motor ky tetangga. Supir taksi burung biru jg prnh crita dy pny kontrakan d brp tempat dn pny warung. Yg ky gini2 nampar bgtlah ya mrk itu mgkn ga pny gadget yg canggih bin mahal, tp mrk pny aset yg lbh dr kaum urban kekinian yg lbh bnyk kreditnya. Kunciny cm 1 tahan2 diri dn ga usah tergiur sm sekitar bgtu ktanya. Foto senyumnya ciamik mba e

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh itu yang susah banget menahan godaan, karena kaum urban lebih mementingkan nafsu dan iman yang masih goyang goyang.
      Hihihi.
      Makasih mbak april :)

      Delete
  7. Wah perspektif yg menarik. Baca ini jadi merenung sama kondisi diri sendiri. Makasih sharingnya :)

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. Akupun juga malu mbak. Makasih udah baca :)

      Delete
  9. Mbak Yosi, aku juga sering mikir gitu. Kok aku keliatannya mampu, tapi sebenernya masih begitu huhu. Alhamdulillah itu bisa bikin aku ga gampang kalap saat pengen apapun. Karena sekali lagi, pengen atau butuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak erny, aku yosa mbak, yosa! huhuhu.
      Betul banget, kata kuncinya butuh. Karena kemewahan adalah sebuah sensasi aja ya mbak. :)

      Delete

INSTAGRAM