JANGAN TERLALU MEMAKSAKAN SELERA

by - January 29, 2018

Kata papa mama, aku itu sudah punya selera yang unik sejak masih kecil. Bukan cuma karena aku ini anaknya ya. Tapi papa mama punya alasan kuat, kenapa sampai berkata demikian. Tentu saja dibanding adik-adikku sendiri, aku cenderung keras kepala. Kalo punya kemauan kudu tercapai. Aku jarang bisa menyukai sesuatu hal yang sama kayak orang kebanyakan. Aku berbeda.

Blogpost kali ini, aku mau bahas tentang selera. Bukan hal yang berat kok, dibawa sante aja. Yang paling gampang deh, dimulai dari ngomongin musik.

SUAMIKU SELERAKU¬
Selera musik aku terbentuk karena waktu aku masih kecil, papa masih berprofesi sebagai penyiar radio. Banyak lagu yang diputar berulang-ulang. Tiaaaap hari. Dari Anggun C Sasmi, Koes Plus sampai The Beatles. Atas nama keterbatasan dana, papa sering merekam sendiri lagu-lagu menjadi satu kaset. Ide cemerlang bukan.

Selain ngebajak ala ala, papa punya banyak kaset juga kok. Aku bahkan baru tahu -dewasa ini- ketika bongkar lemari, trus dapetin kasetnya The Carpenters dan Bjork. Kaset asli lho. Tandanya papa beli sendiri dan kayaknya emang suka sih. Cuma seumur hidup rasanya aku jarang denger lagu-lagu itu di rumah. Kalah sama selera mama. Kalah sama Desi Ratnasari dan Paramitha Rusady. THIS IS LYFE.

Semua lagu yang diputar tiap hari itulah yang kemudian aku hafalkan secara gamblang. Bangga lah. Kecil-kecil gitu aku enggak cuma cas cis cus nyanyi lagu-lagunya Chicha Koeswoyo dan Adi Bing Slamet. Tapi hafal Bujangannya Anggun C Sasmi sekalipun! Bagaimana tante dan om ikutan pamer bakat ku ini coba? Sombong ya. Biar.

Aku dengerin hampir semua jenis musik.
Masuk SMP, aku tergolong anak biasa yang ngefans abis sama boyband. BSB dan Westlife terutama. Semua temen tahu ini sih. Tapi kalo di rumah, ya random lagi urusannya. Penting buatku bisa karaokean Whitney Houston sama Bee Gees.

Nah lho! Bingung kan.

Beranjak remaja, makin galau lagi. Aku mulai kenal Alanis Morissette ketika lagu Hand Clean nya ngehits di beberapa radio. Eh nge hits enggak sih. LOL.

Lagu itu dirilis circa tahun 2002, waktu aku kelas 2 SMA. Kayaknya se magelang raya, aku deh yang paling sering request lagu ini. Diantara teman yang lain, selera kayak gini dianggap lumayan aneh. Lagu macam apa sih. Susah. Enggak easy listening. Mana Alanis kan cuek. Wajahnya enggak dapat dikatakan cantik-cantik amat. Eksotis lah ya. Well, jujur aja, di era segitu Avril Lavigne aja imut-imut lho. Susah mau cari penyanyi kondang yang enggak mentingin muka.

via GIPHY

Sebagai anak gawl pemuja majalah keren beken dan tontonannya planet remaja, aku juga punya band donk. Masak selera oke, enggak punya band. Pantang hukumnya. Aku enggak cuma punya satu band doank, tapi dua malah!

Yang satu di sekolah dan satu lagi diajakin pemuda kampung. Tapi sedihnya, kesemua bandku serempak enggak bisa dan enggak mau bawain lagunya Alanis. Semuanya disekitar lagu Evanescence, Avril Lavigne, Dewa, Padi....mmm apa lagi sebut donk!

Pokoknya yang keren itu yang berbau lengkingan nada tinggi. Semakin ngotot excatly semakin asoy.

Maka jangan heran, kalo sekali kita nonton pensi atau lomba band, pasti ada satu dua band dengan lagu yang sama. Aransemen plek, warna vocal dimirip-miripin, gaya enggak jauh beda. Ya wajar sih, namanya juga punya idola. Idola kita mayoritas sama. Sekelurahan pakaiannya ala lagu sk8er boy semua. 

Anggap aja kami lagi cari jati diri. Maklum.

Lalu pernah suatu hari ada kabar gembira. Salah satu temenku ada yang nawarin buat bawain lagunya Live On Release berjudul I'm affraid of britney spears dan lagunya Wheatus, Teenage dirtbag. Kedua lagu tersebut ada di album kompilasi yang judul albumnya aku lupa. Hahaha.

Temenku itu umurnya jauh lebih tua dari kami. Rumahnya nyempil di kampung belakang. Gaweannya cuma tongkrang tongkrong. Kalo kerja pun mentok jadi kernet truk. Iya ih beneran lho. Tapiiiii yang perlu digarisbawahi, seleranya unik. Di saat genk kere horenya rame rame dateng ke pentas dangdut, dia memilih ngublek lagu di toko kaset. Dia berbeda, dia menjadi dirinya sendiri.

Sayangnya, bukan jodoh kami bawain lagu-lagu yang dia maksud. Udah latihan berkali-kali tapi gagal ikutan manggung karena kuncinya susah.

PUPUS LAH SUDAH HARAPANKU.

Yayaya. Aku ngerti kualitas diri kok. Aku cuma penyanyi kamar mandi. Jangan harap aku sudi bikin album. Siapa yang mau dengerin? Kecoa aja enggak mau.

Semakin aku banyak berteman, aku punya referensi musik lebih banyak. Then, pas kuliah aku sering banget ngikutin gig. Enggak merubah selera sih, cuma jadi lebih variatif gitu aja. Aku mulai menerima musik yang unik dan jarang orang yang tahu. Yaaah ala anak muda indiepop gitu lah, makin susah nama bandnya dilafalin, makin keren pula seleranya.

Dibenakku, ANTI MAINSTREAM ITU KEREN TIADA TARA.

Aku kadang juga masuk ke ranah hardcore. Ikut-ikut mantan pacar berbaju hitam dan bersepatu boots. Aku merasa makin keren.

Aku beneran lagi mencari jati diri kayaknya. Lha gimana enggak, diam-diam di kamar, aku kadang kangen sama lagu-lagu lamaku. Diam-diam capek dengan segala hingar bingar. Jenuh dengan judgement orang begitu tahu selera musikku murahan.

Di situ aku merasa, tidak menjadi diriku yang sebenarnya.

Aku mulai mendengarkan radio. Lagu hits semacam D'MASIV, GIGI, dan akupun mulai asik nonton Soundrenalin, di mana semua artis industri maupun independent ada. Aku menikmati semuanya. Sesuai dengan yang aku suka.

BEBAS MERDEKA!!!

Keberuntungan datang kemudian. Aku mengenal calon suamiku ini ya karena seleranya mirip. Pokoknya keren lah kalo bisa nge-gig bareng. Suamiku lebih random lagi. Standart cowok, dengerin musik asik itu yang bisa headbang juga. Hahaha.

Baca juga: Sulung Ketemu Sulung

I finally realized.
Sejak dulu, suamiku enggak pernah komplain kalo aku dengerin apapun. Bahkan kadang ikutan nyanyi bareng. Apapun. BSB sampe Coldplay. Salut sama Ahmad Dani tapi juga mengagumi Dave Ghrol. Rela nganterin aku nonton Dubyouth Soundsystem tengah malem waktu hamil. Dan sama sekali enggak maksa aku buat suka apa yang didengarnya.

Kadang saking apresiasinya terhadap musik, malah justru bikin kita enggak punya selera ya. Hahaha. Padahal ya... aslinya selera kami hampir sama. Jadi kalo misal dia mau nyekokin aku musik musiknya, tentu saja bisa.

Selera memang bisa berubah karena lingkungan. Bersamaan dengan karakter dan sikap kita. Mungkin banyak diantara kalian yang enggak sadar, kalo selera sering menyatukan kita dalam sebuah hubungan. Satu selera itu mostly membuat kita nyaman. Banyak benarnya, kalo selera sudah sama, niscahya ke depannya bakalan lancar.

Tapi selera itu tidak harus dipaksakan. Mau suka dangdut ya dangdut aja jangan malu dianggap kampungan. Selera lagu klasik ya enggak usah takut dianggap kuno. Anggapan-anggapan itu kan mereka yang buat dan bukan bersifat mutlak.

Sering lho aku dengerin omongan kayak:

"Ih seleranya dangdut. Enggak banget"
"Dia tuh becandanya receh ya. Kurang intelek"
"Woooh pakaian masnya pink. Hmmm pasti hmmmm"
"Apaan sih rambutnya diombre. Kayak anak nakal aja"
"Wiiih seleranya keren tuh. Pasti orang kaya"

Dan lain sebagainya.

Sungguh kucapek atas penilaian orang yang sok merasa sempurna. Anggaplah kalo kita tidak satu selera, ya sudah, enggak usah memaksa. Toh kita juga enggak mau dipaksa buat suka apa yang kita benci.

Misal ada yang kurang sreg, cukup diomongin di hati.
Jangan pernah nyepelein.
Coba kita jujur dan bertanya pada diri sendiri. Apakah sikap kita sudah mencerminkan selera tanpa ditutup-tutupin?

Itu baru soal musik. Bisa juga selera berpakaian, selera makan, selera memilih pasangan. Jangan ada paksaan sama sekali ya untuk memilih. Jangan pernah mau disuruh orang lain untuk menentukan jalan hidup kita. Yaaa... kecuali kalo itu mau kita dan yang terbaik buat hidup kita. Tapi ingat, selera itu ya datang dari diri sendiri.

Karena sesungguhnya, di saat tidak ada yang menilai selera, disitulah kita bisa menentukan selera kita yang sebenarnya.

Biarlah semua itu berbeda. Ya masak semua seragam. Nanti kita enggak saling kenal donk. Intinya, saling mengingatkan aja. Yah, barangkali kita suka salah sangka menilai karena selera berbeda. Tapi jangan terus gara-gara beda selera, kita meremehkan orang lain. Ya kan ya?

:)

You May Also Like

8 komentar

  1. Aku pernah jd penggemar westlife juga mba... Tahun 2000an pa yaaa..
    Suka mereka karena cakep2�� untuk yang lokal fans sebangsa lagu2 Kla, Dewa 19, Ada Band...gitu2 doang.

    Ha2 nggak aneh2 seleraku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berarti konsisten mbak sulis hehehe. Aku random bangets.

      Delete
  2. Wuaahhhh aku jg suka lagu2 alanis mbaa :D. Selera musikku dan suami jg jomplang banget. Dia sukanya lagu2 lembut, semacam boyband, bahkan juga seperti Wali.. Sementara aku lagu2 alanis, garbage, hole, muse, ugly kid joe, skid row, motley crue hahahaha.. Beda banget2..

    Awal2 aku jg susah utk bisa dgrin lagu dia, dia pun sama. Tp lama2 kuping kita jd terbiasa :) . Aku mulai bisa dengerin lagu2 dia yg mellow dan mendayu2.. Gitu jg sebaliknya :p. Semua itu memang hrs dibiasain sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa nemuin juga yang samaan.
      Yang penting sama suami harus saling memahami selera masing-masing ya mbak hehe

      Delete
  3. Ngobrolin selera dangdut jadi teringat zaman tahun 90an mba hehe...kayaknya dulu dangdut tuh jadi bahan becandaan, tapi sekarang musik dangdut udah sama kayak musik pop yah. Dandanan artis dangdut masa kini kadang malah lebih wah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarnag lebih variatif mbak. Temen-temenku cowok banyak yang tampang hardcore tapi enggak malu mengakui suka Nella Kharisma hehe.

      Delete
  4. Wah bunda anak band juga ya he he, pengalaman saya waktu bikin band zaman sekolah dulu tidak kompaknya karena selera musik yang berlainan jadi jalan ditempat akhirnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa sama berarti ya. Bingung mau nurutin selera yang mana trus akhirnya bubar grak.

      Delete

INSTAGRAM