SAYA DAN ASI

by - February 11, 2017

Ngomongi soal ASI emang asik dan ngga ada habisnya. Saya dikenal sebagai Ibu yang konsisten menyusui langsung. Walopun jujur, pada umur semingguan, Alya sudah saya kenalkan dot, karena waktu itu sudah saya tinggal-tinggal pergi. Kenapa dot? Media ini saya rasa paling mudah dan ngga ribet. Cukup masukkan ASI yg sudah dipanaskan dan tinggal kasih ke bayi. BERES! Si pengasuhpun tidak kesusahan.
Tapi setelah 3 bulan ternyata Alya lupa caranya nge-dot! LHO!??
Jadi karena saya lebih sering nyusuin langsung, hal ini membuat Alya merasa ngga enak pake dot. Mungkin karena tekstur dot yang kasar dan bagaimanapun, tiada dot yang bisa nandingin puting Ibu.
Dan telaklah sudah, sejak Alya berumur 3 bulan, saya tidak bisa ninggal lama-lama. Paling banter 3 jam. Kalo telepon udah berdering dan sinyal minta nenen udah terlalu nyaring, saya bakal ngebut kencang kencang biar cepat sampai rumah.
Mendapat pengalaman berharga gara-gara mastitis, membuat saya semakin giat mencari info tentang ASI dan menyusui. Apalagi jaman sekarang ini, kampanye ASI marak digalakkan, dan saya setuju penuh! Mulai dari Rumah Sakit pro ASI, grup sosial media, seminar hingga kopdar menyusui di tempat umum.


Bagi saya ini keren, mungkin tidak bagi sebagian orang.
Setelah saya bergabung dengan beberapa grup pendukung ASI, hal itu membuat saya semakin nyaman dan tenang. Di sisi yang lain, saya mempunyai beberapa orang teman yang memilih memberikan sufor pada bayi dengan alasan tertentu. Diantaranya, merasa ASInya kurang dan langsung mengambil tindakan dengan memberikan susu formula. Mereka justru sempat merasa tidak enak hati bahkan takut untuk terbuka. Padahal saya pribadi –walopun lebih menganjurkan pemberian ASI- tidak mempermasalahkan pemberian susu formula jika terdesak. Apalagi ada indikasi medis untuk sang Ibu yang sampai tidak bisa memberikan air susunya.

Udah sufor, ngedot pula!
Buat saya, kenapa ASI dan susu formula dipermasalahkan sampai sebegitu kolotnya? Sampai ada kubu ASI kubu sufor? Duh, mental Ibu itu sekuat baja, tidak secemen itu nyampurin masalah orang.

Ibu mana sih yang tidak ingin memberikan hal terbaik untuk anaknya?
Konselor Laktasi saya pernah bercerita, dia pernah mempraktekkan teknik marmet pada salah satu pasiennya. Dari menyemangatinya supaya berpostive thinking hingga memberikan dukungan agar pasien makan apa aja yang dia suka sebagai booster ASI paling ampuh.
Setengah memaksa, di setiap pertemuan, Ibu Konselor ini tetap menyuruh belajar memerah ASI yang baik agar keluarnya pun banyak. Namun akhirnya dengan takut takut si pasien mengakui kalo dia pernah menderita tumor payudara.
See? Keterbukaan. Di kasus ini sebenarnya tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar. ASI bukan pemaksaan. ASI akan keluar lewat keikhlasan hati sang Ibu.
Lain cerita lagi. Saya pernah dimessage sama seorang Ibu yang pernah menderita mastitis. Parahnya, si Ibu harus insisi sehingga dia menyusui hanya di satu payudara. Sekitar Aerolanya disayat dan Dokter memutuskan pemberian tambahan sufor. Ya, ASInya tidak cukup.
Bagi kita yang PRO ASI, tentu kita akan bilang bahwa sedikit banyak ASI tergantung seberapa banyak juga dia dikeluarkan. Artinya walopun hanya dengan satu payudara, hal itu tetap akan bisa memenuhi kebutuhan bayi.
Si Ibu itu sampai saat ini masih merasa bersalah karena tidak memberikan ASI secara eksklusif. Dia curhat habis-habisan dan berencana punya anak lagi dalam waktu dekat ini. Dia takut tidak bisa intens menyusui lagi karena berpuluh kali dicibir orang.
Saya bisa apa selain menyemangatinya? Saya rasa hanya hal itu yang dia butuhkan. Mungkin saya akan memeluknya kalo berdekatan.
Jangan pernah judge apapun.
Jika kamu sudah memberikan ASI, yasudah. Itu kewajibanmu. Kalo orang lain tidak bisa memberikan kewajibannya, itu bukan hak kamu untuk mengadili seberapa besar kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya.
Bonding dari menyusui itu memang istimewa, tapi kalo udah pake sufor dan merasa bersalah, ya ciptakan bonding lewat hal-hal lain. Misalnya lewat pelukan, perhatian, atau pemberian gizi yang seimbang.
Saya bukan orang yang ahli soal ASI. Saya cuma pejuang ASI untuk buah hati. 
Dan berikut beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan kepada saya, saya ringkas disini. Semoga membantu.
“Putingku lecet gimana donk Mbak, masak disusuin?”
Berbekal pengalaman mastitis, awalnya dikarenakan oleh puting lecet. Puting lecet disebabkan oleh pelekatan yang kurang sempurna. Berikut saya sertakan gambarnya. 


Intinya jika kita merasa sakit saat menyusui, berarti menyusunya kurang pas. Teruskanlah menyusui,. Kalo saya, sebelum menyusui, ASI dikeluarkan terlebih dahulu disekitar puting supaya menyusuinya enak. ASI juga berfungsi sebagai antibakteri dan menyembuhkan puting yang luka lho. Jika diresepi salep, pakai salepnya rutin. Baru nanti basuh puting kalo bayi mau menyusu.
“Mbak, ASIku ngga keluar, asupan apa ya yang bikin deres?"
Dulu saya dimasakin daun katuk, digorengin kacang-kacangan, dikasih jamu, sampe kaplet pelancar ASI dan saya makan tiap hari. Saya makan apa aja sih, dan makannya terasa enak soalnya kan lagi menyusui, bawaannya laper terus.  Suatu saat, waktu Alya berumur 2 minggu, pupnya berbuih. Kami konsultasikan dengan Dokter Anak dan jawabannya ternyata gara-gara saya keseringan makan sayur hijau. Sebaiknya pastikan, bayi mendapat foremilk dan hindmilk bersamaan. Jika terlalu banyak laktosa, maka perut bayi akan sering kembung, kolik, kentut dan pupnya juga berbuih.
Semakin bertambahnya usia Anak, saya malah makan sembarang. Mie instan, keju, makanan pedas dan sesekali kopi. Dengan melihat reaksi dari anak, makanan itu ternyata ngga menyebabkan ASI saya berkurang. Jadi makanlah asal hatimu senang, anakmu tenang.
“Mbak masih menyusui? Apa masih keluar?”
Selama Anak masih sibuk menyusu, berarti ASI masih keluar. Walopun mungkin tidak sederas waktu belum dikenalkan MPASI. Dari bayi lahir hingga sekitar 3 bulanan, saya masih memakai breastpad, setelahnya tidak lagi. Mungkin karena produksi ASI menyesuaikan kebutuhan susu si kecil yang kian hari kian berkurang.


Nah, itu adalah tiga yang sering ditanyakan orang-orang terdekat saya. Beruntung bisa jawab. HEHE.
Dengan senang hati dan terbuka, saya bahkan mau belajar lagi tentang ASI, maklum saya adalah Ibu rumahtangga yang bekerja di rumah. Barangkali ada yang mau sharing tentang metode penggunaan pipet atau gelas pada bayi, saya bakalan jingkrakjingkrak karena bahagia.

Saya memang bukan Pejuang ASI garis keras, karena saya ASI garis lurus :)

You May Also Like

0 komentar

INSTAGRAM