SERIUS OLAHRAGA

by - September 28, 2018

Pada heboh bener ya aku ikut yoga, hahaha. Mungkin dikira ini lagi anget-angetnya demen olahraga, palingan nanti hempas juga. Ya kali euforia ASIAN GAMES masih kerasa, padahal mah sudah agak lama aku rutin olahraga. Kalau ditanya kenapa rutin, ya jelas jawabannya karena pengen sehat dong. Usia sudah menua kok masih leyeh-leyeh saja. 

Biar enggak dikira tipuan belaka, beberapa bulan yang lalu aku sudah: Memulai Hidup Sehat Kembali. Btw, enak juga ya punya blog, kalau kita rutin menulis jurnal gini, bisa jadi track record, sekalian jurnal biar kita enggak lupa apa yang sudah terjadi (apeu).

Sebelum angka timbangan makin geser ke kanan, marilah tahu diri. Ingat bahwa jeans sesak itu enggak enak. 2 kg saja susah sesek gini yekan, apalagi nambah lagi. Wah enggak kebayang ngos-ngosannya. Dari yang awalnya olahraga cuma buat dapetin keringet doang, kini sedikit berubah ke arah "ngebentuk badan".

Nah, karena waktu itu aku olahraganya masih dalam batas olahraga sendirian di rumah alias enggak ada instruktur, maka makin ke sini, aku memutuskan untuk lebih serius berolahraga. Enggak tanggung-tanggung, diantaranya: senam, jalan sehat, renang, dan yoga. Wow banyak juga ya. Mantul cin.


Suamiku sudah terlebih dulu rutin olahraga. Makanya jennifer bachdim juga harus menjaga kesehatannya. Loh loh malah ngelantur kemana-mana. Oke, serius. Iya, Suamiku dari dulu kayaknya cinta olahraga. Banyak kok yang dia bisa, cuma kalau yang rutin sih lari pagi sama futsal. Katanya sejak SD dia tiaaap hari sepak bola di lapangan besar. Dia juga dari kecil sudah bolang banget, mau koprol sampai sikap lilin juga bisa. Makanya pas aku bilang aku kesusahan pose yoga, dia ngeledek dong: "Wah gini doang masa' enggak bisa. Aku ni puas mainan waktu kecil kayak gini" Lalu pose yang susah payah aku lakukan itu dia lakukan dengan cengengesan. Siap. Mantep.

Bisa dibilang, aku termasuk awam sama yang namanya yoga. Ya paling kalau mau praktek lewat youtube, cuma gitu-gitu saja. Aku selalu pilih gerakan yang ringan dan yang penting atur nafasnya harus dijaga. Banyak kok kalau mau nguplek youtube, cuma kan kalau enggak ada temen plus instruktur, biasanya lebih santai dan enggak tahu gerakan tersebut benar atau enggak. Aku cuma lihat dan praktekkan langsung tanpa awasan dari ahlinya.

Berbeda dengan yoga yang aku ikuti sekarang. Jadi ceritanya, kok ya ndilalah, ada instruktur yoga di komplek. Tahunya pas event tujuhbelasan kemarin. Sempet tanya-tanya doang sih awalnya, lalu berujung ke loooh banyak juga yang minat. Dan terbentuklah grup yoga yang setiap kelas diisi dengan 4-5 anggota. Jadwalku seminggu dua kali, kamis malam sama sabtu pagi.

Aku sudah terus terang sejak awal ikut yoga, kalau aku punya problem asma. Di setiap sesi aku selalu diwanti-wanti biar nafasnya dijaga terus, jangan sampai ngos-ngosan. Konsentrasi dan fokus juga dibutuhkan. Tahu enggak rasanya gimana? Wah beneran deh, ini olahraga paling susahnya tak terkira. Padahal mah kayaknya gerakan cuma gini doang, eh lha kok keringetan! Beberapa pose susah banget diikutin. Susah yang model badan kita ditarik gitu loh. Terus gerakannya bikin batin "oh pantes badanku kaku-kaku, habis selama ini kurang gerak sih ya". Padahal sejatinya badan kita kan didesain supaya gerak terus. Ya pantes deh kalau kaku!

Mana tadinya aku beranggapan bahwa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan momong anak itu juga termasuk olahraga pula. Hahaha. Padahal mah bukan olahraga, tapi namanya bergerak. Kalau olahraga kita bener-bener dituntut menggerakkan badan secara tepat agar sehat. Ya kali kalau nyuci sambil momong sambil masak itu olahraga, yang ada malah bikin stress yekan hehehe.

Salah satu yang aku suka dari yoga adalah, yoga bisa membentuk postur tubuh kita supaya tegap dan berbentuk. Coba deh lihat postur instrukturku, wadaw, minder abiiis. Usianya boleh dibilang enggak lagi muda, tapi bodynya wooow... gitar spanyol seus.

Tubuhku kan pendek ya, terus kalau jalan kayak bungkuk gitu. Begitu aku ngikutin yoga, posturku pelan-pelan membaik. Jalannya sudah lebih tegap, ngatur nafasnya lebih oke, dan yang pasti otot-ototku yang kaku ketarik semua. Cuma PR besarnya adalah kakiku susah lurus dan ada rasa ketakutan besar ketika mencoba pose yang lumayan ekstrim. Aku kayak enggak percaya diri dan enggak bisa kontrol tubuh sendiri. Cukup fatal sih, tapi pelan-pelan deh sambil dipelajari di rumah juga. Buat bisa punya tubuh lentur kan butuh ekstra latihan dan keberanian.


Oke, move to renang. Niatnya cuma mau ngajarin dan les in Alya sih sebenernya. Cuma lama-lama kok mupeng juga. FYI, dulu aku juga les renang loh, jadi ketika dewasa sudah hafal betul tinggal prakteknya doang. Aku cuma sliwar sliwer beberapa kali saja kok, enggak yang pakai target berapa kali. Pokoknya asal masih kuat, oke lanjut. Tapi kalau sudah ngos-ngosan, enggak usah ngoyo, stop, lanjut makan soto. Eh lah, ya gimana mau langsing ini hahaha.

Renang juga bagus buat penderita asma. Kalau sudah pemanasan, lalu nyemplung di air, sumpah ya, nafasku kayak lebih enteng gitu. Mungkin karena pengaruh oksigen dan kesan segar ya, jadi lebih enak. Misal aku bener-bener rutin, pasti deh asmaku berkurang. Nah, aku juga berharap seperti itu pada Alya.

Alya sudah lumayan berkurang jauuuh ngik-ngiknya. Sekarang mana kalau mandi pakai air dingin pula. Alhamdulillah banget ada perubahan yang lebih baik.


Next stop. Aku juga rutin senam. Yeay beruntung banget di komplek orang-orangnya kompak demen olahraga. Jadi yang enggak suka olahraga pun kayak kepaksa ikut gitu loh hahaha. Bukan cuma ibu-ibu kok, bapak-bapaknya juga. Malahan, awalnya bapak-bapak duluan yang rajin. Serius, mulai dari badminton, futsal, volly, basket, renang bareng juga ada. Woaaa... masa' ibu-ibu kalah sih, ya enggak mau lah.

Makanya giliran ibu-ibu rutin senam, tolong ya pak... nitip anak bentar. Hahaha. 

Kami ngundang instruktur senam dua minggu sekali di komplek. Di lapangan gitu, lalu dipasang speaker milik warga. Senamnya enggak tahu sih jenisnya apa, kayaknya campuran antara zumba, body language, sama aerobic. Wes, pokoke goyang dan gobyos. Kalau sudah mulai, wah sudah deh, anak-anak biasanya malah ikutan. Halloooo paaak.. ini anaknya kesampluk gimana??? T.T

Dan misal kalau minggu enggak ada senam di komplek, kami larinya ke sanggar. Bagiku senam masih cincai lah, mau ngos-ngosan model apa tetep dijabanin. Lain kalau yoga. Hitungan detik saja sudah kram boyok sama kaki. Hahaha.


Yang terakhir adalah yang paling jarang: jalan kaki. Iya, jalan kaki doang padahal kan. Tapi susah sih mau ngepasin waktunya kapan. Tiap pagi rempong, sore lebih rempong. Pilihannya kan tetep ngajakin Alya. Cuma jatuhnya bakal lebih lama dan nanti sampai tengah jalan minta macem-macem. Dia ikut itu pilihannya: gendong, pakai stroller dan lebih rempong, atau ngajakin Alya sama-sama jalan. Yang terakhir nyaris impossible sih, mengingat anaknya diajak jalan agak jauhan sudah ngeluh. Malah minta sepedaan. Beberapa kali diajakin jalan, polanya gitu terus sampai akhirnya Suami sendirian deh lari pagi. Aku? Tetep di rumah dong sama Alya. Ya daripada rempong itu tadi.

Aku pribadi kalau jalan kaki sendiri agak aneh ya. Mengingat jalanan di sini desa abis. Alias kalau kita lewat gang blusukan dan bertemu orang di jalan, bakal ditanya kritis macam orang asing. Wkwkwk. Ya enggak apa-apa sih, cuma akunya saja yang enggak nyaman sendirian. Lebih asik sama Suami plus anak cuy. Kalau sama Suami nanti dikira pacaran soalnya haha.

Jalan sehat aslinya penting juga buat jantung. Apalagi ditambah udara pagi. Waktu puasa aku malah cukup sering sih, karena setelah sahur kan jarang tidur lagi, jadi mending olahraga sekalian. Alya kok ya waktu puasa bangunnya lebih pagi, mungkin karena pengaruh aktivitas di rumah kali ya. Dia jadi ikut kebangun.

Sekarang malah jarang jalan sehat ini gimana? Huhuhu. Masih memikirkan cara sih supaya rutin lagi. Entah itu ngajakin Alya lagi, atau nitipin Alya ke Mama. Yaaah...paling enggak seminggu sekali deh, sekalian ke pasar atau car free day. Biar kaki gerak terus enggak cuma duduk-duduk depan laptop doang. 

Untuk jalan pagi sendiri, aku belum tertarik ke tahap selanjutnya yaitu lari. Waaaah ini mah olahraga paling bikin kram segala-galanya buat aku. Aku sering sakit di bagian perut setelahnya, kata orang jawa sih sudukan. Padahal mah Suami sudah wanti-wanti kalau semua harus dilakukan bertahap, enggak yang mau langsung bisa lari berpuluh kilometer. Terus pemanasannya juga musti tepat. Aku mah ho'o ho'o wae, daripada ribet yekan, hehehe. Aselik, buatku lari itu susah. Walaupun aku kalau lari cukup kenceng juga, tapi beneran nanti ngaruhnya ke nafasku. Jadi sementara ini aku kekeuh maunya jalan saja. Ya kecuali... dibeliin Nike Running Odyssey (toyor).

Enggak dink! Aku percaya bahwa olahraga adalah yang penting niatnya kok, bukan pada alatnya. Selama aku konsisten dan percaya bahwa olahraga itu penting buat kesehatan, aku enggak akan putus harapan. Kudu seserius itu. Support systemku sudah oke: Suami doyan olahraga, anak tertarik olahraga, masa' aku kalah set? Kan enggak mau.

Aku maunya bisa menghirup nafas yang panjang sepanjang usia. Amiiiin ya. Amiiin.

You May Also Like

0 komentar

INSTAGRAM