SELF REWARD

by - May 11, 2021

Tuntas sudah ikutan BPN 30 day Ramadan Blog Challenge tahun 2021 ini. Fiuh, akhirnya selesai juga. Jujur aja, awal-awal agak berat karena kok ya ndilalah kerjaan sama banyak, baik itu nulis naskah, tugas Alya sekolah + aktivitas ramadannya, belum juga kita kan lebih ekstra ibadah. Sempet mbatin bisa enggak ya? Tapi aku tuh kayak men-challenge diriku sendiri sih, biar gokil. Kalau berhasil alhamdulillah, enggak ya enggak apa-apa. Nulis blog tuh selain buat healing, juga bikin aku terlatih nulis supaya lebih enak dibaca,

Permasalahannya, dengan waktu 24 jam ini masih kurang sebenernya, jadi cara supaya bisa menggunakan waktu dengan optimal dan semua kerjaan serba beres, ya harus ngurangi jatah tidur. This was like totally insane, tapi aku suka ya gimana ya. Aku ngersa menggunakan waktuku dengan sebaik-baiknya. Enggak ada rasa menyesal justru kayak kaget dengan pencapaian diri. Enggak capek sampai kekuras energinya sih. Tapi yang penting, another goals tentang multitasking is ticked off our wishlist! Yeay, aku bisa dan aku bangga. Bukan buat siapa-siapa, kecuali buat diriku sendiri aja.


Kalau kalian baca sejak blog post pertama aku ikutan challenge ramadan ini, aku sering ngeluh soal masa kecil yang suram, kurang pede, dan sering di-bully. Oleh orang tua aku selalu dikekang, sedangkan oleh teman-teman jarang dikasih kepercayaan. Rasa percaya diriku itu justru tumbuh ketika udah menikah dan punya suami sebagai partner yang paling support aku bahkan sejak zaman pacaran. Dia enggak pernah over protect, selalu ngerti apa kemauan dan niatanku, paham dengan kondisi, dan percaya kalau aku bisa bertanggungjawab atas pilihanku.

Paham banget kok, dapet suami kayak gini itu patut disyukuri. Tapi kalau ngomongin aku kudu bersyukur terus tuh rasanya kok enggak adil ya. Sejak brojol aku kayak dipaksa supaya memahami konsep bahwa anak yang lahir dan dibesarkan orang tua itu sudah alhamdulillah bentuknya. Whereas, mereka ini kadang lupa bahwa anak juga punya hak dan mereka harus ngerti kewajibannya. Lalu ketika punya temen yang keren, kadang mereka bilang aku tuh beruntung punya temen yang bisa jadi panutan, meanwhile mereka enggak ngelihat potensiku sendiri apa. Sampai detik ini aku punya suami, masih wae disuruh bersyukur tanpa ngelihat perjuanganku sejauh apa. Lha gimana kalau kita berpikir sebaiknya, bahwa aku emang worthy, bahwa aku emang sudah susah payah berjuang? Beribu malam aku nangis sendirian sambil kebingungan. Sering mikir sendirian apakah aku bermanfaat. Sakit sih, tapi kan tiap orang punya 'pain'nya sendiri-sendiri. Memangnya kalian tahu apa sampai nyuruh aku selalu sepaham dengan kalian yang enggak tahu apa-apa tentang aku. Enggak usah disuruh bersyukur sih, because I-ALWAYS DID. Kamu enggak tahu kan, tiap aku berdoa, aku sampai enggak bisa minta apa-apa karena saking ngerasa cukup dikelilingi circle yang penuh kebaikan, terutama saat ini. Tapi ya masa aku harus pakai toa keliling provinsi sih ngomongin ini? 

Sekarang aku jauh lebih tenang karena aku mengenali diriku sendiri. Enggak mudah, butuh waktu lama. Pelan-pelan, dari yang nangis sendirian, aku peluk diriku sendiri sambil berkata, "yosa, everything is gonna be okay, you are valuable. You matter! Tapi mungkin kamu belum tahu aja bagaimana cara yang benar". Iya, aku sering ngerasa enggak guna.

Dulu, ada masa di mana setiap hari setiap mandi, aku selalu self proclaimed bahwa aku tuh mampu, aku bisa seperti mereka, bahkan lebih, walaupun saat itu enggak ngerti gimana caranya. Aku cuma banyak-banyak berdoa, kadang cari info lowongan kerja di warnet, atau gercep bantuin papa menata koran-koran, agar aku bisa lihat kolom lowongan pekerjaan. Aku sadar enggak punya banyak kenalan, sekali kenalan dianggapnya aku instan dan maunya cari duit aja enggak ada idealisme seperti sarjana seni pada umumnya. Aku sempet sesak, kaget dengan orang-orang yang langsung nge-judge dengan gampangnya ketimbang nyari info alasannya. Sadis sih, tapi aku terima, lha wong aku bukan siapa-siapa. Mau battle juga kalah segalanya. Pokoknya I can't beat 'em at all.

Tapi nyatanya emang seperti yang aku duga. Ketika aku bisa cari uang sendiri means aku bisa melakukan segala yang aku suka. Aku bahkan bisa ikutan berkarya dan menemukan passion-ku yang baru. Beberapa kali aku ikut pameran, beberapa kali aku ngajuin proposal sendirian. Enggak langsung keterima, identik dengan proses panjang, dan disitulah aku belajar. Aku berusaha mengenal diriku sendiri lebih dalam. 

Aku juga ngerti bagaimana pentingnya merawat pertemanan. Kalau kalian bisa investasi macem-macem kayak tanah, emas, alat, atau yang mendukung karir kalian, aku punya invest paling urgent, yaitu: invest in people. Ketika aku kaget ternyata ada orang yang support dan percaya pada kemampuanku, di situlah aku enggak mau kehilangan mereka. Mereka ini nantinya akan membuat karirku lebih banyak melesat ke depan. Akan banyak mempertemukanku dengan proyek-proyek gedhe yang bergengsi buat sebagian besar orang. Di sini aku juga sadar, menemukan circle yang tepat adalah salah satu kunci untuk membuat kalian tumbuh lebih baik. Cuma jalannya yang agak terjal, butuh keberanian dan keluar dari zona nyaman.

Thus far,  mungkin aku sudah cukup diperhitungkan. Orang kalau mau mencerca aku, aku juga enggak punya banyak waktu. Aku lebih fokus ke perkembangan diri yang jauh lebih berguna. Well, aku pun paham tiap orang punya perjuangannya. Makanya, kalau ada orang yang minta tolong sama aku, sekecil apapun, apalagi berhubungan dengan karir, aku sudah berjanji bahwa akan membantu mereka sebisa mungkin. Aku berusaha mengajak saudara atau teman terdekat buat diajak kerja sama. Kalau udah gitu, aku justru ngerasa lega. Lega bahwa rantai bully tidak menjadi dendam kesumat dan membuatku jumawa. Enggak, aku yosa irfiana yang tahu diri. 

Blog post ini aku khususkan untuk self reward. Aku yang tadinya enggak yakin dengan apapun, sekarang berubah menjadi lebih bahagia. Aku bisa bermanfaat buat orang-orang di sekitarku, tapi juga aku enggak lupa bermanfaat untuk diriku sendiri. Aku enggak mau terlalu banyak mikirin orang sehingga aku lupa sama kebahagian diri. Aku harus punya waktu agar diriku tetap bisa bertahan dihantam berbagai cobaan. Aku sering menghadiahi diriku sendiri dengan sekedar makan enak, berbagi kue bikinan sendiri, dan mensupport apapun yang anakku minati. 

Kebanggaanku ini bukan buat siapa-siapa, tapi buat diriku sendiri. Aku yakin, aku berharga. Aku bangga pada diriku sendiri. Aku mampu berkembang lebih baik karena caci maki. Kalau mau menghalangiku lagi, then I'm so sorry, aku udah jauh berlari.


#BloggerPerempuan
#BPN30dayRamadanBlogChallenge2021
#day 30

You May Also Like

0 komentar