THE LIFE I YEARN FOR

by - April 30, 2021

Hubungan aku dengan Ramadan itu mungkin ibaratnya kayak temen dari kecil yang enggak sering ketemu, tapi kalau sekali ketemu bisa terharu, bisa all in sampai semua-mua diceritain. Kami tuh saling tahu kesibukan masing-masing tapi bikin tetep deket meski kadang jauh. Iya, aku nganggep Ramadan ini kayak best friend yang enggak perlu bilang rindu-rindu, tapi sekalinya ketemu... mak breg semua masalah semacam tumpah ruah dan bikin waktuku lebih padet saking banyaknya acara.

Moment Ramadan memang selalu istimewa, selalu punya ceritanya, selalu punya hikmah di balik setiap perlakuan kita. Sayangnya, Ramadan kali ini agak berbeda, yang tadinya identik dengan kumpul-kumpul keluarga, silaturahmi, bertatap muka, bertegur sapa, dan melebur semua kesalahan yang ada, kini keluarga kami sedang dihadapkan cobaan besar. Kami kehilangan 2 sepupu dekat kami, dalam waktu seminggu saja. FYI, kalau kami ke Semarang buat nganter aku meeting, suamiku dan Alya seringnya mampir ke sana. Dulu waktu awal-awal kuliah pun, suami juga tinggal di rumah tantenya tersebut dan otomatis bikin dekat sama anak-anaknya. Sekarang walaupun jauh dan enggak sering ketemu, tapi rasa saling mengerti dan memahami masih terasa. Jadi ketika dikasih tahu, sepupu enggak ada, dunia rasanya berhenti berputar, dan nafas jadi sesak. Dalam benak kami cuma satu, "Ya Allah, apa yang hendak Engkau isyaratkan pada kami? Apa hikmah di balik semua ini?". 

Sepupu-sepupu kami masih cukup muda, mungkin masih banyak cita yang belum tersampaikan. Hampir 3 malam ini kami semacam susah tidur, serba gampang capek, dan cukup terkuras energinya. Tapi kalau begini terus, bakalan enggak sehat, dan malah tambah beban. Aku yakin mereka di sana justru bakal sedih kalau lihat kami linglung enggak berdaya. Rasa bimbang kami menyadarkan bahwa mungkin inilah yang disebut menyambung tali silaturahmi, agar apa yang masih mereka citakan, bisa sampai lewat tangan orang-orang yang masih hidup seperti kami. 

Ramadan ini Ya Allah... aku sampai enggak tahu mau berkata apa lagi.


Waktu aku masih kecil, tiap Ramadan yang aku pikir adalah berlomba-lomba berpuasa, sholat, ngaji, dan menunggu kemenangan di hari raya. Dulu waktu kecil, abis sekolah aku diasuh sama Eyang, jadi ya ngapa-ngapain di sana. Belajar puasa dari bedhuk dulu, naik tingkat jadi ashar, lalu sampai bisa puasa magrib. Aku belajar ngaji pun di seorang ustad yang rumahnya sebelahan sama Eyang. Dari yang jilid 1 sampai bisa khatam dan dirayain bareng temen-temen. Aku juga bisa bikin kue bareng Eyangku karena Mama enggak suka bikin kue. Aku suka suara-suara anak kecil mengingatkan sahur tapi dengan sopan. Aku suka memperhatikan kembang api yang menyala pada malam hari sebagai pertanda kemeriahan suasana, bahwa kita menang atas perbaikan diri.

Dan waktu hari raya tiba, kita akan bertemu dengan banyak saudara sambil memakai baju baru. Aku juga bakal makan opor ayam dan sambal goreng hati banyak-banyak karena hari-hari biasa aku jarang bisa memakannya. Selain itu aku bisa jalan-jalan antar kota dan makan sajian khas dari rumah ke rumah. Aku bisa memeluk papa mamaku dan nangis-nangis dengan tulus karena saling memaafkan dan saling mendoakan. Kapan lagi aku bisa seperti ini?

Mengingat Ramadan kala kecil itu kadang malah bikin sedih. Pernah aku pengen banget bareng-bareng ke masjid bareng Papa Mama. Entah itu tarawih atau pas sholat ied. Tapi karena aku terbiasa tarawih di masjid deket tempat Eyang, jadi ya jarang bisa bareng Papa Mama. Mungkin saat itu mereka beralasan sibuk, tapi buatku mereka enggak menyempatkan waktu untuk bisa mendekatkan diri bersama. Bahagia rasanya kalau bisa bersama sekeluarga ke masjid. Jarak Masjid dari rumah ku tuh cuma selisih 2 rumah aja sih. Ya mungkin itu sebabnya kami mengerasa saking deketnya jadi enggak perlu buru-buru. Wong pas sholat ied aja, Mama sering duluan ke Masjid dan kami jadi enggak sebelahan kok. Sedih sebetulnya, tapi ya bagaimana. Aku cuma bisa mengubahnya di keluarga kecil ini supaya jadi lebih deket enggak seperti masa kecil yang aku alami.

Tahun demi tahun, aku memaknai Ramadan cuma sekedar moment yang hanya aku rindukan. Kalau pas enggak ada, ya jadi senyap seperti biasa aja. Permasalahannya kan cuma satu, kenapa sih semua hal yang ngenakin hanya bisa aku capai di saat Ramadan aja? Gimana kalau tiap hari kita berlaku sama kayak pas Ramadan? Misal ibadah yang khusyuk, bikin sajian istimewa, saling berbagi, becanda tawa, saling maaf-maafan tanpa harus nunggu moment lebaran. Bukankah rasa hilang sesudah keramaian datang itu lebih menyakitkan?

Aku inget kok, kalau pas lebaran kita semua sampai nangis-nangis saling mengungkapkan. Tapi abis itu hilang berganti canda tawa dengan mudahnya. Makan opor sambil ketawa-ketawa, bagi angpao sambil angan-angan beli sepatu di pasar. Semua serba cepat dan dengan mudahnya terlupakan. Karena kalau hari biasa, ya sudah, sikap kita kembali seperti semula. Saling salah-salahan, saling diem-dieman, atau yang paling parah kita lupa kita adalah sedarah dalam satu ikatan keluarga. Sakit sih, tapi aku hanya bisa diam.

Mengingat aku udah semakin dewasa dan sudah melalui proses sakit hati yang silih berganti, sekarang aku maunya memperbaiki diri. Moment ibadah itu adalah spiritual atas manusia dan Tuhannya supaya bisa meredakan hatinya untuk berserah. Tuhan tahu kok apa usaha umatNya. Hal-hal yang enggak bisa kita jangkau, biar menjadi urusan Allah. Allah tahu jalan yang terbaik untuk kita kalau kita percaya. Mungkin bukan secara klise dijabarkan, tapi kita sebagai manusia harus bisa melihat pertanda atas kebesaranNya.

Tahun ini aku makin memaknai Ramadan sebagai pengingat bahwa waktu terus berlalu. Selama menunggu Ramadan, kita bisa melakukan kebaikan sampai akhirnya bisa bertemu lagi. Makna Ramadan yang dirindukan, harusnya bikin kita lebih giat berbuat baik, jaga kesehatan, saling jaga diri, apalagi sekarang lagi pandemi. Jujur aku punya ketakutan luar biasa apakah selalu bisa bersama saat Ramadan tiba? Karena pada kenyataannya tahun ini kami sudah kehilangan saudara T.T

Aku merindukan Ramadan sebagai acara berkumpul keluarga dengan hati yang tulus ikhlas sebenar-benarnya. Tapi aku mohon, semoga enggak hilang dan gampang dilupakan sesudah moment ini kelar. Karena sebagai manusia, kita enggak pernah tahu kapan kita dipanggil, dan apakah tanggung jawab kita di dunia sudah dijalankan dengan sebaik-baiknya.


#BloggerPerempuan
#BPN30dayRamadanBlogChallenge2021
#day 19

You May Also Like

0 komentar