BAHASA YANG INGIN DIKUASAI

by - April 26, 2021

Pernah enggak, kamu ngerasa kurang mendalami suatu hal, lalu kamu kejar mati-matian di umur yang sudah engga muda lagi? Aku sering, salah satunya yaitu belajar bahasa lain selain bahasa Ibu: bahasa Indonesia. 

Layaknya anak sekolah era 90-an, aku dapat pelajaran bahasa inggris mulai SMP. Saat itu aku ngerasa keren dan excited banget karena it was like something new. Bahasa Inggris membuatku lebih melek dunia dan lebih berani dalam bercita-cita. Kalau yang tadinya aku cuma pengen jadi orang sukses tanpa bisa mendeskripsikan sukses itu gimana, ketika aku belajar bahasa inggris, aku jadi lebih percaya diri bisa bermanfaat bagi orang sekitar bahkan negara. Aku pengen punya wawasan luas. Aku pengen punya banyak pengalaman. Aku pengen punya karya yang bisa sampai message-nya ke orang banyak. Pengenku jadi banyak dan bikin aku lebih bersemangat. Alhasil dari SMP ke SMA, bahasa inggrisku sudah cukup lumayan dan di atas rata-rata dibanding temen-temen sekelas. Namun waktu kuliah, bahasa inggris ini enggan banyak kepake karena lebih fokus ke penjurusan di bidang televisi dan film.

Long story short, bahasa inggrisku cenderung pasif. Cuma bisa conversation dasar, sampai akhirnya aku pacaran sama Mas Didit dan tahu bahwa dia cukup fasih baca tulis pakai bahasa inggris. Katanya, waktu sekolah sampe sering dibilang bahasa keduanya karena saking antusiasnya dia ngomong pakai bahasa inggris. Belajarnya cuma dari lagu dan film. Dia banyak niruin aksen dan always listening native speaker ngomong. Bahasa ini kemudian mengantarkannya pada kerjaan yang hingga saat ini ditekuninya: menjadi desainer dan ilustrator lintas negara. O yeaaah aku banggaaa! Haha.

Aku banyak belajar dari suamiku dan sempet beberapa kali les biar grammar maupun conversation-ku enggak tumpul. Paling enggak kalau ada yang ngomong pakai bahasa inggris, aku enggak pusing. Bisa mudeng dan komunikasi dua arah tuh udah paling the best sih. Karena pada kenyataannya, mostly di circle-ku sangat jarang yang bisa bahasa inggris dengan fasih. Padahal semua element di kamera sampai lighting dan istilah-istilah dunia film, banyakan pakai bahasa inggris loh. Tapi mbuh mengapa temen-temenku ini kalau nulis brief jadinya breaf, nulis viral jadinya firal, nulis revisi jatuhnya refisi. Parah deh pokoknya.

Jadi, aku sadar diri aja supaya paling enggak bisa jadi garda depan ketika temen-temenku tadi berhadapan dengan orang asing. Wes pokoke pede aja dulu ketimbang enggak bisa-bisa. Dan tahu gimana progressnya? Yak, aku disuruh translate dari bahasa indonesia ke bahasa inggris pada beberapa project. Panik enggak panik enggak? Panik lah masa enggak!


Intinya, ya sudahlah, bahasa inggris-ku ternyata bisa kepakai juga yah. Lumayan sampai bisa dapat job, lumayan bisa balasin email-email, lumayan bisa ngobrol dan mudeng kalau ketemu orang luar. Enggak expert, belum tingkat advance, tapi ya udah lumayan lah ya. So, aku menganggap sudah cukup bisa pakai bahasa inggris. Misalpun pengen belajar bahasa lain ya berarti bukan bahasa inggris lagi, karena sekarang aku tinggal ngelancarin aja supaya aktif dan cas cis cus!

Nah, karena umurku sudah kepala 3, dan yah, kayaknya kok muluk-muluk kalau aku pengen menguasai banyak bahasa, so, aku cuma pengen menambah belajar 2 bahasa aja: Bahasa Jepang dan Bahasa Perancis. Alasannya apa, aku jabarin satu-satu ya.


1. JEPANG
Dari dulu aku sudah tertarik dengan budaya Jepang. Entah kondisi geografisnya, adat istiadat, desain rumah, lifestyle, sampai art-nya. Jepang ini unik banget. Di sana cowok pakai baju warna gonjreng dengan dominasi tokoh kartun tuh enggak masalah. Sekalinya di sini dicap aneh dan enggak maskulin. Padahal mah maskulin enggak bisa diukur dengan brewok atau selera warna orang kan huhu.

Oh iya, aku juga suka sama industri audio visual di Jepang. Rata-rata program TV-nya colorful, identik dengan banyak Host, banyak elemen, dan lucunya, di sana enggak peduli mau cantik atau ganteng, semua bisa masuk TV. Maklumlah, kalau di Indonesia, cantik identik dengan siapa kalau bukan dengan Luna Maya dan Dian Sastro. Selain itu kebanyakan jadi lucu-lucuan. Enggk ganteng enggak cantik seringnya dijadiin bahan becandaan.

Selain itu, kata Suamiku, orang jepang kalau menyajikan visual suatu masakan, pasti all out. Gambarnya tampak sangat enak, sangat lezat, dan identik dengan asap yang mengepul di atas makanan which means masakan ini siap saji dan baru mateng. Mostly adegan penyajian makanan di Jepang seperti itu, bahkan di animasi sekalipun. Kalian tahu kan studio Ghibli? Sebuah studio fil animasi di Tokyo, Jepang yang film animenya mengandung unsur-unsur provokatif, imajinatif, serta emosional. Coba deh kalian lihat cara mereka merepresentasikan makanan, pasti kelihatan hidup dan wah lezat sekali! Itu yang aku suka dari budaya Jepang. Makanya, aku pengen belajar budaya Jepang termasuk bahasanya. Karena pengen suatu saat ke sana, ajak Alya dan menikmati kehidupan di sana selama beberapa hari. Pengen membaur dengan orang-orangnya, bisa beli makanan di supermarket, dan bisa naik Kaisoku. Kebetulan juga suami dan Alya juga sama excited-nya dengan budaya Jepang, so yeah, why not gitu kan.

2. PERANCIS
Yang ini impian zaman kuliah sebetulnya. Karena dulu pas kuliah di Jogja, saking seringnya sekedar nongkrong atau ngikutin event di LIP (Lembaga Indonesia Perancis) daerah Sagan, yang sekarang lebih terkenal IFI (Institut Français Indonesia). Di LIP aku sering banget nonton sinema perancis, dan kebudayaan lain yang membuatku cukup amazed. Gerakan Sinema Perancis awalnya digagas oleh sekelompok sutradara film muda di sana, pada era 50-an sampai 60-an. Gerakan ini dikenal dengan sebutan Nouvelle Vague, yang mengedepankan realita kehidupan sehari-hari di Italia, supaya bisa menebus dosa besar rezim fasis yang menolak potret Italia yang sesungguhnya. Sinema Italia sebelumnya yang disebut rezim Fasis di era 40-an ini, selalu punya kepentingan politik. Sedangkan di era 20-an, sinema Italia kebanyakan adalah fotokopi film-film Hollywood, dengan mayoritas drama dan protagonis dari golongan kelas menengah, dengan latar bangunan mewah, atau dengan konflik yang selalu ada solusi sebagai jalan tengahnya serumit apapun masalahnya. Sinema Amerika memang cenderung menghibur dan bersifat menggoda, pada sineas tahu betul bagaimana cara menunjukkan Amerika sebagai Heaven on Earth.

Singkatnya, Sinema Perancis tumbuh kuat dan inovatif dan banyak dikunjungi artis-artis dari seluruh Eropa dan Dunia.... TERMASUK SAYA! HAHAHA. Enggak ding, becanda. Intinya, aku pun pengen berkunjung ke Perancis mengunjungi Eiffle, Museum Louvre, sampai Disneyland! Semua ada!

Salah satu cara untuk bisa berkunjung ke sana, sekali lagi, aku ngerasa kudu mudeng bahasanya. Ya paling enggak vocabulary-nya lumayan dan spelling-nya enggak salah wae aku udah bangga. Deg-degan juga ini nulis pengen ke sana, karena kenyataannya, aku susah banget ngomong dengan suara sengau dan inget cara bacanya. Hahaha. Well, aku harap ini enggak menyurutkan langkahku buat punya impian ke Perancis sih. 

***
Menulis angan-angan soal bahasa, menurutku lebih enak sedikit karena lebih gampang terealisasikan. Lha wong yang bahasa inggris aja belum bener-bener kepake gitu, kok mau yang berlebihan. Inget umur juga mengingat lebih banyak goals lain yang belum tercapai. I'm sure that one day I can go to these countries for real. Enggak tahu kapan tepatnya, mengingat pandemi belum juga usai. Tapi insyallah yakin dulu deh. Kita udah berusaha dan berdoa, semoga Allah mengabulkan doa kita. Aaamiiiin.

#BloggerPerempuan
#BPN30dayRamadanBlogChallenge2021
#day 15

You May Also Like

1 komentar

  1. Bener, Mbak, aku yo nggak muluk2, kepengen belajar bahasa Arab dan Inggris, karena pasif banget , hihihi, smg terwujud apa yang diinginkan, yo Mbak. :)

    ReplyDelete